Sabtu, 18 Oktober 2025

Bertumbuh

tujuh bulan pertama di tahun dua ribu dua puluh lima

kuhabiskan untuk belajar dan bekerja


sampai temanku bertanya

kenapa larut malam dan akhir pekan masih kau habiskan di depan laptop?


aku berjalan seperti zombie

didorong oleh ego dan ambisi

tidak tau kapan harus berhenti


mungkin aku terlalu ingin cepat bertumbuh

entah karena terlalu takut tertinggal

entah karena terlalu ingin membuktikan diri


hingga aku lupa

bahwa akar yang rapuh

tidak akan sanggup menopang batang yang tinggi


mungkin terlihat seperti bertumbuh

namun ternyata mudah goyah jika diterpa angin


aku jadi penasaran

siapa kah gerangan 

yang punya ambisi ingin selalu bertumbuh?


apakah diriku di usia dua puluh enam 

yang takut tertinggal?


atau diriku di usia sepuluh tahun 

yang ingin diakui bahwa usahanya sudah cukup?


aku tetap ingin bertumbuh

namun bukan ke luar

melainkan ke dalam diri


menguatkan akar

membangun fondasi

agar saat aku tumbuh kembali

aku tidak lagi mudah roboh


aku baru mengerti

bahwa tidak semua pertumbuhan terjadi ke atas


beberapa terjadi ke dalam

saat kita belajar diam

layaknya pohon bambu

yang menguatkan akarnya selama lima tahun

lalu berkembang pesat setelahnya


tidak lagi ingin terburu buru

aku memilih berjalan perlahan 

menikmati setiap musim yang Tuhan sedang kirimkan


aku belajar memahami

bahwa setiap jeda juga bagian dari perjalanan


ah,

ternyata tidak ada yang benar benar kuat

jika tidak bertumbuh dengan perlahan


Share:

Minggu, 14 September 2025

Aku Ingin Mencintai-Mu Karena Ingin, Bukan Karena Takut

Sejak awal aku diperkenalkan pada-Mu, kata pertama yang melekat di kepalaku bukanlah cinta, melainkan takut. Aku mendengar ancaman-Mu lebih dulu sebelum aku sempat mengenal pelukan-Mu. Neraka disuarakan lebih keras daripada surga. Murka-Mu digambarkan lebih sering daripada kasih-Mu. Sejak itu bayangan-Mu selalu datang bersama cambuk, bukan tangan yang merangkul.

Setiap kali aku berdoa, tubuhku terasa seperti tahanan yang melapor. Sujudku kaku, hatiku kosong, dan lidahku menyebut nama-Mu dengan gemetar. Aku menunduk bukan karena rindu, tapi karena takut pandangan-Mu akan menghukumku. Aku ingin berkata bahwa aku datang pada-Mu dengan tulus, tapi kenyataannya aku mendekat hanya karena aku takut.

Aku ingin mencintai-Mu karena ingin. Aku ingin hatiku mencari-Mu karena kerinduan yang abadi, bukan karena dikejar ancaman. Tapi keinginanku selalu tenggelam oleh suara di kepalaku yang berbisik: jangan lengah, jangan lalai, ingat murka Tuhan, ingat siksa neraka. 

Aku ingin pulang kepada-Mu, tapi aku tidak pernah benar benar merasa pulang. Setiap kali aku mengetuk, pintu-Mu rasanya dingin. Setiap kali aku melangkah, aku merasa seperti penyusup di rumah orang lain. Aku ingin percaya bahwa Engkau adalah rumah tempatku kembali, tapi aku lebih sering merasa Engkau adalah penjara yang mengurungku.

Tuhan, aku lelah hidup dengan bayangan-Mu yang hanya menakutkan. Aku muak jika cinta pada-Mu hanya berarti ketundukan yang dipaksa. Jika benar begitu adanya, maka itu bukan cinta, melainkan tawanan. Dan aku sudah terlalu lama menjadi seorang tawanan.

Aku ingin tau bagaimana rasanya mencintai-Mu tanpa takut. Bagaimana rasanya menyebut nama-Mu dengan lega bukan dengan gemetar. Bagaimana rasanya bersujud dan merasa hangat, bukan karena merasa sedang dihukum. Bagaimana rasanya pulang dan benar benar diterima, bukan ditimbang, bukan dinilai, apalagi diancam.

Tapi aku tidak pernah tau. Aku hanya mengenal rasa gentar yang menempel seperti noda di darah. Aku hanya mengenal doa yang lahir dari rasa takut, bukan dari cinta. Aku hanya tau Engkau sebagai pengawas, bukan sahabat. 

Mungkin aku memang tidak pernah benar benar mencintai-Mu. Mungkin yang kucintai hanya keselamatan dari api-Mu. Mungkin yang kucintai hanyalah bayangan surga yang dijanjikan. Dan jika itu benar, berarti aku tidak pernah mengenal-Mu sama sekali.

Aku ingin mencintai-Mu karena ingin. Tapi yang kurasakan sekarang hanya satu: rasa takut akan dihukum, bukan cinta.

Aku ingin pulang kepada-Mu. Tapi aku tidak pernah benar benar merasa pulang. Dan sampai hari ini, aku menyimpan pertanyaan yang menggantung di kepalaku:

Bagaimana rasanya mencintai-Mu karena memang ingin, bukan karena takut?

Share:

Sabtu, 13 September 2025

Cermin

Aku bangun pagi dengan kepala yang rasanya seperti dipalu. Alarm gawai meraung di samping bantal dan terasa menusuk telinga. Tanganku sigap menekan layar dengan kasar. Sunyi akhirnya terdengar kembali. Tapi bukan sunyi yang menenangkan. Sunyi ini terasa dingin dan menekan seperti dinding kamar kos kecil yang kini turut menatapku tanpa belas kasihan.

Kamar ini sempit, hanya cukup untuk kasur tipis, meja kecil, dan lemari plastik yang sudah retak di pinggir. Bau lembap bercampur bau baju kotor yang menumpuk di sudut. Dari ventilasi sempit terdengar suara motor dan teriakan pedagang sayur. Dinding tipis membuat aku bisa mendengar batuk orang di kamar sebelah. Tidak ada yang benar benar sunyi di kos ini, tapi justru kesunyian dalam kepalaku lebih bising dari apa pun.

Aku duduk di tepi kasur. Punggung pegal dan bahuku terasa kaku. Aku menarik napas panjang, tapi terasa dangkal dan tidak pernah sampai penuh ke paru paru. Kaki menyentuh lantai keramik yang dingin serta agak lengket. Aku merasa jijik tapi tidak punya tenaga untuk membersihkan.

Aku menyeret langkah ke kamar mandi kecil di pojok kamar. Pintu tipis dari triplek berderit keras. Ruangan ini hanya muat untuk satu orang berdiri. Bau sabun basi bercampur bau handuk lembap yang sudah lama tidak kering sempurna. Aku menyalakan keran. Bulir airnya mengalir deras dengan suara keras  yangmemantul di ruang sempit.

Aku membasuh wajah. Dingin, menusuk, tapi tidak memberi rasa segar sedikitpun. Aku ulangi berkali kali seolah bisa mencuci lelah yang menempel di kepala. Tapi tidak kunjung berhasil. Yang ada malah kulitku menjadi basah dan mataku tetap berat.

Aku menggosok wajah keras keras sampai pipi perih. Tetesan air jatuh dari dagu ke wastafel kecil. Aku mengambil sikat gigi. Aku meludah dan berkumur. Air kotor berputar sebentar lalu tersedot paksa ke lubang pembuangan. Bunyi pipa tua terdengar serak seperti tenggorokan orang sakit. Aku pun melirik lantai. Ada noda hitam di pojok kamar ini. Sudah berbulan bulan ia ada di sana tapi tidak pernah hilang meski aku gosok. Noda itu seolah lebih menetap daripada aku sendiri di sini.

Aku pun menyisir rambut. Sisir tersangkut di helai yang kusut. Tarikannya terasa menyakitkan. Rambut rontok pun menempel di tanganku. Ku jatuhkan ke lantai helaian rambut rontok itu. Biarlah berserakan dimana mana. Toh, tiap sudut yang ada juga sudah berantakan adanya. 

Aku pun menatap cermin.
Ku lihat ada sosok manusia yang sama persis dengan diriku.
Sosok itu menatapkiu balik.

Mata sayu dengan lingkar hitam yang makin menebal. Kulitnya terlihat pucat. Bibir pecah pecah. Rambutnya yang tipis terlihat basah dan rontok. Aku pun tersenyum kecil. Sosok itu mengikuti. Aku mengernyit. Ia mengernyit. Gerakannya selalu tepat, tanpa cacat. Ah, kesempurnaan itu membuatku muak.

Aku mendekat. Mataku terlihat merah dengan urat urat kecil yang terlihat jelas. Aku melihat pori pori, garis halus, dan noda di pipi. Semua detail yang seharusnya meyakinkan bahwa ini benar adalah aku. Tapi tidak ada rasa akrab sedikitpun. Semakin lama menatap, semakin asing rasanya. Tanganku menyentuh kaca. Permukaannya dingin, licin. Jari jariku gemetar. Aku menekan lebih keras. Pantulan itu juga menekan. Seolah olah ia ingin menembus ke arahku.

Aku berbisik, “Siapa kamu?”

Suaraku serak. Pantulan bibir ikut bergerak. Rasanya seperti ia menjawab: siapa aku?

Nafasku mulai pendek. Dada terasa penuh dan tercekik. Aku mencoba menarik udara lebih dalam tapi tidak bisa. Aku merasa tubuhku sendiri sedang melawan. Aku mengusap wajah dengan tangan. Kulitku terasa seperti lapisan tipis yang tidak menyatu. Aku membayangkan menariknya dan mengupasnya. Tapi kalau itu hilang, lalu apa yang tersisa? Pikiran itu membuat perutku menjadi mual.

Aku menatap lagi. Sekejap pandanganku menjadi kabur. Terlihat bayangan berganda dengan dua wajah menumpuk dan tidak pas. Aku berkedip cepat lalu dua wajah itu terlihat menyatu kembali. Tapi rasa ngeri tidak kunjung pergi. Seolah olah diriku memang bukan satu orang saja.

Aku meremas tepi wastafel kecil. Tanganku licin dan hampir terpeleset. Lututku gemetar seakan tidak kuat lagi menopang. Keringat dingin keluar melalui pelipis dan menetes ke dagu. Bau tubuhku sendiri menyengat: asin, lembap, dan bercampur sabun basi. Bau itu menusuk dan membuatku semakin ingin muntah.

Aku mendekat lagi. Nafasku mengembun di kaca. Wajah terlihat di balik embun samar. Saat samar, aku merasa lebih nyaman. Saat jelas, aku merasa ingin lari. Aku menahan mata terbuka. Aku ingin tahu siapa yang lebih dulu akan mengedip. Aku atau dia. Mataku panas dan berair. Aku membuka mulut, ingin berteriak tapi tidak ada suara. 

Yang tersisa hanya beberapa pertanyaan yang bersarang di kepala:
Kalau semua ini adalah tidak nyata, lalu siapa aku sebenarnya?
Kalau semua ini adalah topeng, siapa wajah yang bersemayam di bawahnya?
Kalau pantulan ini pecah, apa yang akan tersisa?

Tapi tetap tidak ada jawaban.

Aku masih berdiri di kamar mandi kos yang sempit, bau, dan pengap. Waktu dan kehidupan yang ada di luar terus berjalan. Tapi di sini, aku merasa stuck dan tidak bisa kemana mana.

Sosok di cermin menatap balik.

Aku tidak tahu siapa dia.

Aku tidak tahu siapa aku.

Share:

Minggu, 07 September 2025

Memaknai Life Loop: Aku Kira Aku Sudah Selesai, Ternyata Aku Hanya Mengulangi Pola Yang Sama

"Kok jadi dejavu ya?"

"Rasanya seperti aku sudah pernah mengalami masalah serupa. Tapi kenapa sekarang terulang lagi?"

Rasanya dejavu. Seperti pernah ada di keadaan ini sebelumnya. Masalah yang aku hadapi sama, trigger yang aku temui sama, hanya dengan wajah, cerita, dan waktu yang berbeda. Aku pikir dengan aku pergi jauh dan merantau, sudah cukup untuk membuatku selesai dengan semua yang pernah terjadi di masa lalu. Aku pikir dengan mengubah nama panggilanku, aku sudah bisa membuka lembaran baru. Tapi ternyata, aku hanya mengulangi pola kejadian yang sama seperti sebelumnya. Apakah ini yang disebut life loop? Sebuah lingkaran tidak kasat mata yang selalu menarik diriku untuk kembali pada pelajaran hidup yang belum selesai.

***

Aku sering merasa hidupku seperti kaset yang diputar ulang karena selalu mengulang pola kejadian yang sama. Beda dari latar kejadian dan tokoh, tetapi konflik dan trigger yang aku hadapi sama. Jujur saja, ada rasa marah pada diri sendiri ketika life loop ini kerap terjadi. 

“Bukankah aku sudah belajar?"

"Bukankah aku sudah berjanji tidak akan jatuh pada lubang yang sama?” 

Tapi ternyata aku malah kembali lagi ke lingkaran yang sama, berhadapan dengan situasi yang serupa, membuat kesalahan yang sama, dan menelan kecewa yang sama. Ah, ingin rasanya ku caci maki diri ini yang bodoh karena kerap mengulangi pola yang salah. Aku pikir aku sudah banyak belajar, sudah melepaskan beban masa lalu, dan sudah berdamai dengan semua itu. 

Nyatanya belum sama sekali. Aku belum bisa menerima semuanya bahkan masih membawa semua beban itu di pundakku

Ibarat berjalan di atas treadmill, aku hanya jalan di tempat. Aku kira aku sudah berjalan jauh, ternyata aku hanya ada di lingkaran yang sama. Aku tidak pernah benar benar bergerak maju. Awalnya, aku pikir dengan mengikuti kelas, belajar, dan konseling ke psikolog, sudah cukup untuk membuatku pulih dan berdamai. Tapi ternyata semua usaha itu tidak cukup.

Selama ini aku ternyata hanya sibuk mencari jalan untuk menghindari rasa sakit yang belum sepenuhnya kupahami. Dalam proses ini, aku sadar bahwa diriku sendiri yang menipu: merasa sudah pulih hanya karena “sudah melakukan sesuatu.”

Sama seperti yang ditunjukkan dari penelitian K.M. Bell (2025) tentang trigger warning, kadang kita merasa siap menghadapi sesuatu secara teori, mengikuti kelas, membaca buku tentang self healing, penerimaan diri, dan pemulihan trauma, tapi saat situasi nyata datang, respons emosional itu tetap muncul. Selama luka batin belum selesai diproses, kita cenderung menjadi lebih reaktif. Trigger itu, apa pun bentuknya, bisa memicu rasa sakit atau kecemasan yang selama ini kita sembunyikan. Dan itu wajar karena respons emosi yang keluar bukanlah pertanda kegagalan, melainkan sinyal bahwa ada yang belum tuntas di dalam diri kita.

Konseling ke psikolog itu memang penting dan menurutku itu adalah keharusan. Tapi itu belum cukup kalau kita sendiri belum siap membuka luka lama dan unfinished business yang selama ini kita sembunyikan. Psikolog bukan penyihir yang bisa langsung menyembuhkan, mereka hanya teman yang punya kapabilitas untuk membimbing kita melihat, merasakan, dan memahami apa yang selama ini kita hindari. Proses pemulihan itu tetap di tangan kita sendiri. Kita yang memegang kendali untuk berani menghadapi rasa sakit, mengakui perasaan, dan perlahan menyelesaikan apa saja yang belum tuntas.

Aku sadar bahwa aku tidak bergerak ke mana mana. Aku hanya berjalan di tempat sambil membawa beban yang sama, luka yang sama, dan cerita lama yang tidak pernah benar benar aku coba untuk akhiri.

Lalu, muncul pertanyaan dalam benakku. Mengapa pola ini tidak berhenti dan malah terus berulang?

Pola yang berulang sebenarnya bukanlah suatu kebetulan. Pola ini kembali terjadi bukan karena dunia yang terlalu jahat atau kejam. Juga bukan karena aku yang tidak cukup baik. Pola ini kembali terjadi karena ada bagian dalam diriku yang belum selesai diproses, entah itu berupa perasaan, luka lama, atau trauma masa lalu. Tumpukan dari unfinished business di masa lalu yang mulai meronta dan meminta untuk segera diselesaikan. Luka luka lama yang belum sempat pulih dan hanya bisa aku bungkus dengan kata kata indah tentang penerimaan. Luka yang aku pikir sudah mengering dan hilang, ternyata hanya bersembunyi di balik dinding pertahanan yang tinggi.

Dan ketika Tuhan kembali menguji, ternyata aku kembali masuk ke dalam lingkaran yang sama. Lebih tepatnya masuk ke dalam lingkaran setan. Menghadapi masalah dan trigger yang serupa dengan orang berbeda. Rasanya seperti Tuhan berkata kepadaku,

“Kamu belum lulus ujian dalam ujian ini. Jadi kamu harus mengulanginya sampai kamu benar benar paham dan belajar."

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Julian Frazier, PhD, peristiwa ini dikenal sebagai repetition compulsion, di mana kita sebagai individu secara tidak sadar akan mengulangi pengalaman traumatis masa lalu sebagai bentuk upaya untuk menguasai atau memahami kenapa hal itu bisa terjadi, meskipun mungkin berakibat merugikan. Frazier menjelaskan bahwa pikiran kita cenderung mengkategorikan pengalaman buruk sebagai masalah dan pikiran kita tidak suka memiliki masalah yang belum terselesaikan.  Pola berulang ini muncul karena pikiran kita ingin menyelesaikan masalah yang belum selesai. Namun, tanpa kita sadari kita seringkali menciptakan situasi yang mirip dengan trauma masa lalu dan berharap kali ini hasilnya akan berbeda. Padahal, tanpa adanya pemahaman dan pemrosesan yang tepat, kita justru terjebak dalam lingkaran tersebut.

Seperti sekolah yang menuntut remedial saat gagal ujian, demikian juga hidup. Life loop adalah bentuk remedial dalam kehidupan. Life loop adalah panggilan untuk diri agar segera melakukan refleksi. Selama aku belum selesai dengan diri sendiri, pola kejadian itu akan tetap berulang dengan wajah lain, cerita lain, namun rasa sakit dan pola trigger yang sama. Satu satunya jalan keluar dari lingkaran ini adalah berani. Berani menghadapi, berani memahami emosi, dan berani mengakui reaksi reaksi yang muncul sampai unfinished business dan semua luka itu sudah selesai diproses.

Selama aku belum selesai dengan diriku sendiri, pola kejadian itu akan terus kembali. Dengan wajah berbeda, dengan cerita yang sedikit berubah, tapi rasa sakitnya tetap sama. Aku harus berani menghadapinya, memahami apa perasaan yang keluar, dan serta reaksi dari perasaan itu, baru aku bisa benar benar keluar dari lingkaran setan itu.

Sekarang aku sadar kalau pertanyaannya bukan lagi tentang kenapa hal ini bisa terjadi kembali. Melainkan tentang Tuhan ingin aku belajar apa dari semua kejadian berulang ini?

***

Daalam satu sesi konseling, ada pertanyaan dari psikolog yang sampai sekarang masih terngiang di kepalaku,

“Oh, jadi kamu tidak merasa nyaman ya? Boleh ceritakan ke aku bagaimana kamu memaknai rasa tidak nyaman itu? Bagaimana kamu menggambarkan rasa tidak nyaman itu?”

Aku terdiam sejenak dan mencoba menjawab.

“Aku juga bingung, kak. Aku belum siap untuk ngobrol lebih dalam tentang hal ini.”

Pertanyaan itu terus bergema di kepalaku. Aku mulai sadar bahwa rasa tidak nyaman yang selalu kusembunyikan bukan sekadar gangguan kecil. Melainkan sebuah sinyal alam bawah sadar yang menginformasikan bahwa ada bagian dalam diriku yang belum selesai kupahami dan belum berani kuhadapi.

Perlahan aku belajar bahwa pulih adalah soal keberanian. Keberanian untuk menghadapi luka lama yang aku simpan rapat, mengakui rasa sakit yang selalu aku tutupi, dan merasakan hal hal yang selama ini aku hindari. 

Kuncinya hanya satu: hadapi, bukan lari.

Sulit, tapi aku percaya kamu bisa.

Share:

Sabtu, 30 Agustus 2025

Apa Masih Ada Masa Depan untuk Kita?

Mendengar berita tentang kebijakan pemerintah akhir akhir ini membuatku muak. Bukan cuma aku, tapi hampir semua masyarakat di negeri ini turut merasakannya. Bukan semata mata karena isinya yang merugikan rakyat, tapi juga karena kesan bahwa suara kita tidak sepenting itu di mata pemerintah. Bukannya mendengar dan memberikan solusi, mereka malah melakukan banyak hal dan melahirkan kebijakan yang nirempati. Hingga akhirnya peristiwa demonstrasi tidak dapat dihindari. 

Adanya aksi demonstrasi ini membuat hatiku berdesir. Bukan aksi demonstrasinya yang aku khawatirkan, melainkan respon pemerintah yang ZONK. Alih alih mendengarkan, mereka memilih untuk bungkam dan lari. Alih alih introspeksi, mereka justru melawan. Marah, kecewa, sedih, takut, bingung… semuanya bercampur menjadi satu. Di tengah situasi yang genting ini, rasanya agak sulit membayangkan adanya harapan akan masa depan yang layak.

Aku bisa memahami akan terjadinya rentetan peristiwa demonstrasi seperti yang sudah berlangsung di Jakarta, Bandung, dan kota kota lain. Bagaimana tidak, di tengah tantangan ekonomi yang sedang sulit, pemerintah dan DPR terlihat seperti tidak berempati dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Mereka malah membuat banyak kebijakan yang hanya menguntungkan mereka secara pribadi. Seperti menaikkan tunjangan dan penghasilan DPR dengan seenaknya. Tunjangan perumahan baru sebesar 50 juta yang bernilai sepuluh kali lipat dari upah minimum DKI Jakarta, tunjangan membeli beras hingga 12 juta, serta tunjangan tunjangan lain dengan nilai fantastis.

Gaji pemerintah dan anggota DPR yang nilainya sangat fantastis dan mencerminkan kesenjangan sosial yang tinggi itu bersumber dari pajak rakyat. Ironisnya, di saat mereka hidup dengan segala fasilitas dan tunjangan fantastis, kita sebagai rakyat harus memutar otak hanya demi bertahan hidup sampai besok hari. Lebih menyakitkan lagi, dengan penghasilan sebesar itu masih sedikit sekali dampak nyata yang benar benar dirasakan oleh masyarakat negeri ini. 

Harga kebutuhan pokok terus melambung tinggi, lapangan kerja kian menyempit, sementara kebijakan yang lahir seolah tidak memihak pada buruh dan rakyat kecil. Bagaimana mungkin kita diminta bertahan hidup dengan kondisi seperti sekarang ini sedangkan para pemangku jabatan hidup dengan fasilitas yang serba mewah dan bersumber dari uang pajak yang kita setor setiap bulan? Aku sendiri tidak heran dengan berita kenaikan ini karena sebenarnya salah satu janji kampanye adalah menaikkan penghasilan para pejabat, bukan? Ironis...

Belum lagi cibiran dan perkataan yang nirempati keluar dari mulut mereka. Kata kata kasar seperti “tolol” terdengar dari orang yang seharusnya beradab dan berpendidikan. Seperti tidak pernah diajarkan bagaimana cara berkomunikasi di depan publik. 

Melihat mahasiswa, buruh, bahkan pelajar untuk menuntut keadilan, hatiku campur aduk antara frustrasi, bingung, sedih, dan takut. Namun, apa responnya? Bukan dialog, bukan solusi, tapi TINDAKAN REPRESIF. Gas air mata yang seharusnya digunakan untuk situasi darurat kini menjadi jawaban rutin atas suara masyarakat. Gas air mata yang disemprotkan oleh aparat bersebaran dimana mana bahkan sampai mengenai masyarakat sipil yang sedang mencari nafkah dan tidak terlibat demonstrasi. Sampai kapan suara rakyat dianggap angin lalu? Sampai kapan keselamatan dan martabat manusia dikorbankan demi menjaga citra penguasa?

Tragedi Alm. Affan Kurniawan adalah bukti bahwa nyawa rakyat seringkali dianggap tidak lebih berharga daripada gengsi kekuasaan. Ironisnya, mereka yang berseragam seharusnya melindungi bukan malah melukai. Tapi di negeri ini siapa yang masih percaya bahwa aparat dan pemerintah benar benar ada untuk rakyat?

Ironisnya lagi, ketika masyarakat turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi dan menjalankan hak demokrasi, para pemangku kekuasaan malah memilih bersembunyi di balik layar laptop dengan kebijakan Work From Home, seakan akan tuntutan rakyat hanyalah bising semata dan bukan hal penting yang harus mereka dengar serta beri solusi. Mereka mengatakan negeri ini adalah negeri yang demokratis, tapi pada kenyataannya mereka takut ketika masyarakat benar benar menggunakan hak demokrasinya. 

Mereka kerap berkoar tentang transparansi dan keterbukaan. Tapi setiap kebijakan yang mereka buat, selalu lahir di ruang tertutup yang tidak bisa dijangkau masyarakat. Mereka bicara tentang pengorbanan padahal tidak pernah merasakan satu hari pun harus hidup dengan gaji UMR atau bahkan di bawah UMR! Mereka sibuk menyiapkan strategi komunikasi bukan solusi. Mereka pandai memainkan kata kata tapi gagap saat dituntut untuk mendengarkan dan ditanya tindakan nyatanya.

Berulang kali, setiap ada masa saksi, pemerintah seakan akan mengadu domba antara masyarakat sipil dan pihak aparat. Lalu ketika terjadi insiden yang tidak diinginkan, mereka dengan mudahnya berlindung di balik kata maaf dan merasa tidak bersalah sama sekali! Perkataan maaf yang keluar bukan karena mereka murni mengaku bersalah, melainkan karena formalitas belaka demi menjaga citra serta kursi kekuasaan. 

Belum lagi adanya provokator dan 'segelintir manusia' yang hadir dan seakan akan bertindak sebagai pelaku demonstrasi. Membakar fasilitas umum hanya di malam hari dan berbuat anarkis. Hei, kenapa tidak kau lakukan di siang hari? Apakah kau takut identitasmu sebagai provokator terbongkar? Dengan membakar fasilitas umum, bisa dijadikan narasi oleh pemerintah untuk mengecap bahwa pelaku demostran bertindak anarkis, bukan? Sebuah alibi yang manis. Kau dibayar berapa untuk melakukan hal ini?

Tapi..

Dibalik semua rentetan kejadian ini, aku juga memikirkan banyak hal tentang masa depan. Di usia dua puluh enam ini, masih banyak hal yang ingin aku pelajari, masih haus akan pengalaman, dan masih punya banyak mimpi yang ingin dikejar. Perjalanan karirku masih panjang. Aku masih ingin belajar banyak tentang dunia marketing dan data. Aku masih ingin belajar dan punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Tapi di tengah kondisi seperti sekarang ini, rasanya bertahan hidup saja sudah menjadi pencapaian terbaik. Fokus awal yang ingin mengejar banyak mimpi, perlahan berubah menjadi fokus untuk sekadar bertahan hidup.

Apakah mimpi mimpi itu masih relevan? Apakah kita benar benar punya kesempatan untuk mewujudkannya ketika situasi negara seperti ini? Atau justru kita harus menyesuaikan diri dengan realita, mengurangi mimpi, dan hanya fokus pada hal hal yang bisa dikendalikan?

Aku jadi teringat dengan kata kata dari atasanku. Beliau berkata, "Tidak semua krisis itu membawa dampak negatif, beberapa diantaranya bisa membawa kita ke ide ide baru yang bisa memberi dampak positif."

Aku mencoba untuk tetap optimis seperti yang beliau katakan. Aku berusaha percaya bahwa kondisi yang sulit ini bisa melahirkan ide ide baru dan peluang yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi jujur saja, tidak semua orang punya privilege untuk sekadar 'berinovasi'. Banyak dari kita yang hanya fokus mencari cara agar besok masih bisa makan agar bisa membayar kebutuhan pokok. Rasanya sulit memikirkan mimpi besar ketika realita tidak seindah laporan statistik pemerintah. Kondisi negara yang tidak stabil membuat banyak dari kita, khususnya aku sendiir, mulai menurunkan banyak ekspektasi. Bukan karena tidak mampu, tapi karena realita yang memaksa begitu.

Sebagai rakyat, aku merasa tidak mendapatkan jaminan rasa aman dari negara. Bagaimana kami bisa berpikir kreatif di tengah krisis ketika kebutuhan dasar saja makin sulit terpenuhi? Rasanya seperti berjuang sendiri sementara mereka yang punya kekuasaan sibuk dengan kepentingan pribadi. 

Bukan berarti ingin dimanja atau selalu diberi bantuan ya. Justru sebaliknya, aku tidak setuju dengan pola pemerintah yang selalu mengandalkan bantuan sebagai solusi, seperti bansos misalnya. Bukannya memperkuat fondasi survival skill dan membangun sistem yang berkelanjutan, mereka memilih jalan pintas yang hanya menyelesaikan masalah untuk sesaat. Bantuan itu mungkin meringankan tapi kan tidak memberdayakan dan memiliki efek jangka panjang. Aku yakin kita semua sangat membutuhkan kebijakan yang membuat kita sebagai rakyat merasa lebih kuat dan aman, bukan malah jadinya ketergantungan.

Aku sering membayangkan bagaimana rasanya hidup di negara yang benar benar berpihak pada masyarakatnya? Mungkin kami bisa fokus berkarya, belajar, dan meraih mimpi tanpa harus cemas apakah besok harga kebutuhan pokok melonjak lagi atau apakah gajiku cukup untuk sekadar membayar kos dan juga makan. Namun pada realitanya, aku merasa harus selalu memasang mode survival. Tidak ada kepastian dan juga jaminan. Sejujurnya, aku mulai lelah melihat berita yang hanya berbicara soal angka pertumbuhan ekonomi sementara faktanya, banyak masyarakat bahkan aku sendiri masih berkutat dengan realita yang pahit: kesenjangan sosial yang makin tinggi.

Jika negara seharusnya hadir untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya, maka di mana mereka saat ini? Mungkinkah mereka BUTA dan TULI sebab memilih untuk tidak melihat dan juga mendengarkan?


PS.

Untuk rekan rekan yang terlibat aksi demonstrasi, semoga Tuhan senantiasa melindungi. Jaga barisan jangan sampai ada provokator yang menyusup dan membuat ricuh. Fokus kepada tuntutan awal dan jangan sampai terpecah belah, apalagi termakan isu SARA. Yang harus dilawan adalah pemerintah yang keji, bukan sesama kita sebagai masyarakat. Semoga Tuhan selalu melindungi. Semoga tidak ada aksi yang ditunggangi oleh kepentingan elite politik. 

Share:

Minggu, 10 Agustus 2025

From Proving to Improving: Transisi Perjalanan Seperempat Abad Akhir Menuju Kepala Tiga

Tidak seperti biasanya, Agustus 2025 ini kusambut dengan perasaan campur aduk: senang, haru, bingung, marah, cemas, takut, semua bercampur jadi satu. Senang, karena 90% bucket list sebelum usia 25 berhasil ku coret. Tapi juga cemas, karena tahun ini aku resmi memasuki fase menuju tiga puluh. 

Walau masih terhitung 4 tahun lagi, aku harus bersiap dari sekarang agar diriku di usia 30 bisa hidup lebih baik dari dirinya di usia 20 ini. Aku memang tidak tau sampai kapan aku diberi kesempatan hidup, tapi aku hanya ingin mempersiapkan diri agar tidak banyak menyesal di kemudian hari.

Enam tahun lalu, saat aku berusia 19 tahun, perasaan yang sama juga aku rasakan. Perasaan takut dan cemas ketika menghadapi pergantian usia. Saat itu aku panik karena sebentar lagi akan genap kepala dua tapi aku masih belum memiliki pencapaian yang membanggakan dan belum ada persiapan sama sekali. Untuk mengurangi rasa panik, aku mencoba menulis bucket list dan membuat rencana rencana yang ingin kujalani.

Salah satu rencana kala itu adalah mendapatkan gaji pertama sebelum genap kepala dua. Hingga akhirnya, pada Juni 2019, dua bulan sebelum genap kepala dua, aku mendapat pekerjaan pertama sekaligus gaji pertamaku. Rezeki dan nikmat dari Tuhan yang ternyata menjadi awal dari perjalanan yang tidak pernah aku bayangkan.

Enam tahun berlalu, tepatnya tahun 2025, aku masih tidak percaya. Pekerjaan yang awalnya hanya diniatkan sebagai part time justru membawaku sejauh ini: bertemu orang orang dari berbagai latar belakang, berinteraksi dengan sosok yang dulu hanya kulihat di TV atau media sosial, hingga berani bepergian ke tempat yang belum pernah aku kunjungi. Kalau comfort zone itu punya pagar tinggi, sepertinya aku sudah melompatinya berkali kali. 

Tentu ini terjadi atas izin dab bantuan dari Tuhan.

Namun, di balik semua pencapaian kecil dan pengalaman baru itu, aku sadar tidak semua langkah yang aku ambil itu benar benar bertujuan untuk bertumbuh jadi versi terbaik dari sebelumnya. 

Aku rasa aku terlalu fokus pada citra dan penilaian orang lain hingga aku lupa bertanya apakah aku benar benar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik atau sekadar menjalani hidup untuk mendapat validasi dari manusia? 

Mungkin, pada perjalanan ini, aku hanya sibuk berjalan untuk terlihat hebat dan keren di mata manusia.

From Proving to ImProving

Apakah aku menjalani masa 20an awal ini sesuai dengan rencana? TENTU SAJA TIDAK.

Contoh kecilnya adalah ketika aku bermimpi mendapatkan gaji pertama sebelum usia 20 tahun. Bagiku itu adalah pencapaian yang cukup besar untuk diriku sendiri. Tapi kalau boleh jujur, di baliknya ada cerita yang berbeda. 

Mengejar gaji pertama sebelum usia 20 dengan menekuni dan mempelajari digital marketing sebenarnya bukan karena aku punya visi karier yang jelas. Melainkan hanya pelarian, sebuah distraksi untuk mengalihkan pikiranku dari rasa kecewa terhadap diri sendiri.

Aku merasa gagal pada banyak hal yang sebenarnya menjadi impianku dari lama. Jadi aku memilih berlari ke arah lain yang rasanya bisa lebih bisa aku raih. Dulu aku pikir kalau aku bisa cepat menghasilkan uang, setidaknya aku bisa membuktikan bahwa aku juga layak dan berharga. Padahal jauh di dalam hati, aku sedang mencoba menutup lubang kosong yang belum sempat aku sembuhkan. 

Akhir tahun 2018 sebenarnya menjadi titik terendahku, tahun di mana setiap usaha terasa sia sia dan setiap pencapaian terasa tidak pernah cukup baik untuk diri sendiri maupun orang di sekitarku. Aku berusaha memberikan yang terbaik, mengerahkan semua yang kumiliki, tapi tetap saja rasanya tidak cukup. 

Aku gagal meraih apa yang aku impikan dan juga gagal mendapat validasi dari orang sekitarku akan usaha yang sudah aku lakukan. Yang lebih menyakitkan sebenarnya bukan hanya kegagalannya, tapi perasaan bahwa aku tidak cukup kompeten untuk melakukan hal yang dulu menjadi impianku.

Dimulai dari sana, aku sibuk mencari kambing hitam. Aku marah pada keadaan tapi jauh lebih marah pada diriku sendiri. Aku melakukan sesuatu yang kini kusadari sangat merusak: gaslighting terhadap diri sendiri. Setiap hari aku memaki dan mencerca diri dengan kalimat kalimat yang kejam:

"Aku terlalu bodoh."

"Kayaknya aku emang gak layak untuk berada di sini."

"Masa kayak gini aja aku gak bisa?"

"Harusnya aku bisa, tapi kenapa malah gagal terus?"

"Aku memang gak worth it untuk mencapai apa yang aku impikan."

Perlahan aku mulai percaya pada kata kata jahat itu. Aku menanam keyakinan keliru bahwa aku memang tidak layak hidup dan tidak pantas menerima hal hal baik hanya karena aku merasa gagal. Dan saat keyakinan itu mengakar, kepercayaan diriku pun ikut runtuh. 

Itu adalah awal dari proses membunuh jiwaku sendiri. Jiwa yang dulunya penuh ambisi, selalu haus belajar, dan punya keinginan besar untuk bertumbuh. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, api itu padam dan tergantikan oleh keraguan serta perasaan tidak berharga.

Aku menjalani hari seperti air yang mengalir. Sesuatu yang dulu sangat aku benci. Iya, aku tidak suka dengan prinsip menjalani hidup seperti air yang mengalir karena aku pikir kita tidak akan pernah tau kemana air itu akan membawa kita. Ke tempat yang lebih jernih kah? Atau justru ke tempat yang lebih kotor? Bagiku, itu terdengar seperti alasan untuk pasrah dan menyerah pada nasib. Yang pasti air selalu membawa kita ke tempat yang lebih rendah. Dalam pikiranku hal itu sama saja dengan mundur dan kalah.

Hatiku bergidik karena membayangkan dulu waktu kecil kita belajar menjilat ice cream, ternyata ketika dewasa kita belajar menjilat ludah sendiri.

 Ya, aku merasa seperti menjilat ludah sendiri. Aku mengatakan benci kepada prinsip hidup yang hanya mengalir, tapi aku menjalaninya selama beberapa tahun terakhir ini. 

Namun, perjalanan ini juga perlahan mengubah perspektifku. Aku membiarkan diri mengikuti arus, menyerahkan kepada Tuhan sepenuhnya tentang kemana langkah ini akan menuju, dan ternyata rasanya tidak seburuk itu. Bahkan, tak jarang arus ini membawaku ke tempat yang tidak pernah ku pikirkan dan cenderung lebih baik. Dari sini aku belajar bahwa pemahamanku dulu keliru. 

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan prinsip menjalani hidup seperti air yang mengalir. Mungkin, maksud menjalani hidup seperti air yang mengalir di sini adalah memiliki tawakal dan percaya kepada Tuhan, sembari kita juga berusaha dan berproses. Sebab melawan arus tidak selalu menandakan keberanian atau bahkan kelemahan. Ada kalanya dalam hidup kita bergerak mengikuti arus dan menuju muara yang lebih jernih, seperti apa yang diarahkan oleh Tuhan.

Saat sedang menjalani hidup mengikuti arus ini, aku menyadari lagi satu hal baru: sepertiny aaku belum benar benar bertumbuh. Walau secara kasat mata aku terlihat lebih baik dibanding diriku di masa lalu, nyatanya aku hanya berputar di lingkaran yang sama.

Aku pikir aku sudah improve, ternyata aku hanya sibuk melakukan improving

Selama bertahun tahun aku mengira yang aku lakukan selama ini adalah bagian dari pertumbuhan. Tapi setelah aku pikir pikir lagi, yang aku lakukan hanyalah usaha untuk membuktikan sesuatu. Bukan kepada diri sendiri melainkan manusia lain. Sejujurnya, ku benci mengakui bahwa ada bagian kecil dari diriku yang selalu haus akan validasi manusia.

Rasanya seperti mengonsumsi narkotika: candu dan memberi ledakan dopamin sesaat, tapi meninggalkan kekosongan yang semakin membesar di dalam dada. 

Semakin keras aku mencari validasi, semakin aku kehilangan arah. Hingga akhirnya, yang tersisa hanyalah rasa kosong belaka.

Butuh waktu lama untuk menyadari semua ini. Puncaknya ketika aku mendapat kesempatan untuk merantau. Aku pikir aku berjalan maju, ternyata aku hanya berjalan memutar. Mengulang pola yang sama, jatuh ke lubang yang sama, sampai membuka luka yang sama.

Mengejar validasi rasanya seperti berlari di atas treadmill. Melelahkan tapi tidak pernah benar benar membuat kita maju. Aku bisa saja terus membuktikan diri di mata orang lain tapi tanpa alasan yang tepat semua itu hanya akan berakhir dengan rasa kosong.

Menyadari Bahwa Dunia Tidak Selalu Tentang Aku

Selama ini, aku merasa seolah olah dunia berputar hanya untuk menguji dan menilai aku. Seperti pusat dari segala perhatian dan penilaian seolah semua mata tertuju hanya pada langkah dan kesalahanku. Aku terlalu tenggelam dalam bagaimana orang lain melihat dan menilai, sampai lupa bahwa sebenarnya dunia ini jauh lebih luas dan penuh dengan kisah yang tidak selalu tentang aku.

Mengejar validasi dari orang lain seperti mengejar bayangan yang tidak pernah membuat kita puas. Saat aku unlearn tentang hal ini, itu artinya aku memberi ruang untuk bisa lebih fokus pada hal yang lebih penting dalam hidup, percaya dan menerima diri sendiri.

Memaafkan dan Menerima Diri

Di usia dua puluh enam ini, aku belajar satu hal penting bahwa mencari validasi bukan musuh. Sesuatu yang wajar dan manusiawi karena kita semua sebagai manusia pada satu titik pasti ada rasa ingin diakui dan diterima.

This is our very first time being human and the journey is teaching us survival. Mungkin, dulu aku selalu mengejar validasi dan pembuktian diri semata mata demi bertahan hidup. Aku melakukan itu untuk meyakinkan diri bahwa aku layak meraih hal hal yang ku impikan. 

Tapi ketika seluruh hidup kita hanya berputar demi mendapatkan validasi semata, kita akan kehilangan arah dan perlahan kehilangan diri sendiri.

Aku belajar memaafkan diriku di masa lalu yang terlalu haus akan validasi dan selalu ingin membuktikan diri. Karena sekarang aku sudah mengerti, perjalanan ini bukan lagi tentang membuktikan siapa aku di mata orang lain, melainkan tentang memperbaiki siapa aku di mata diriku sendiri. Bukan sekadar tumbuh ke arah luar, tapi juga tumbuh dari dalam.

Dan mungkin, titik awal pertumbuhan yang sebenarnya adalah ketika kita mulai berani percaya pada diri sendiri. Karena pada akhirnya, semua validasi yang datang dari luar pasti akan pergi. Tapi keyakinan pada diri sendiri adalah satu satunya hal yang akan tetap ada dan bertahan.

Share:

Sabtu, 03 Mei 2025

Saat Kita Merasa Sudah Tau Segalanya, Saat Itulah Kita Berhenti Belajar

Di tahun tahun sebelumnya, aku pernah ada di posisi merasa cukup.

Cukup pintar.

Cukup tau segalanya.

Cukup paham arah hidup.

Cukup dengan kehidupan yang sudah aku jalani.

Hidup terasa cukup damai karena tidak ada drama seperti tahun tahun sebelumnya. Semuanya terasa aman, nyaman, dan stabil. Aku merasa semuanya akan berjalan dengan baik baik saja.

Aku bekerja. Aku berdaya. Aku bisa menghidupi diriku sendiri. Aku bisa bertemu dengan banyak orang baru. Aku bisa punya hobi baru. Aku bisa melakukan banyak hal. Aku bisa jalan kesana kemari tanpa harus ada yang mengekang ataupun mengomentari diriku. Tentu, ini pemikiran yang sangat sombong.

Tanpa aku sadari, perlahan aku sudah berubah menjadi manusia yang berhenti untuk membuka diri.

Perlahan, aku berhenti untuk mendengarkan orang orang di sekitarku dengan hati dan rasa empati. Aku merasa mereka tidak cukup tau daripada aku. Aku merasa sudah lebih dulu tau daripada mereka.

Perlahan, aku juga berhenti mempertanyakan tentang keputusan orang lain dan juga keputusan yang aku buat untuk diriku sendiri. Aku lebih memilih untuk diam, bahkan saat aku tau itu bukan hal yang seharusnya aku lakukan. Aku tau ada yang salah, tapi aku terlalu enggan untuk mengatakannya.

Aku berhenti untuk peduli dengan banyak hal.

Aku berubah menjadi apatis dengan berbagai hal di sekitarku. Aku terlalu malas untuk ikut campur dengan hal hal yang bukan menjadi urusanku. Walau sebenarnya aku melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Aku hanya tidak ingin terlibat dengan banyak konflik yang memusingkan. Aku sudah terlanjur nyaman dengan rasa stabil yang saat itu aku rasakan. Aku sudah di fase lelah untuk belajar lagi. Aku hanya ingin menikmati apa yang ada di dalam hidupku.

Tapi, hidup itu lucu.

Hidup selalu punya cara untuk menyadarkan kita sebagai manusia. Bukan dari kegagalan besar, melainkan dari momen momen kecil yang menampar kita. Sakit, tapi tidak berdarah, namun cukup menyadarkan manusia sombong ini.

Seperti saat aku sedang mencoba untuk menyampaikan suatu ide, tapi malah tidak ada yang mengerti karena pesan yang ku bawa tidak clear. Lucunya, kala itu aku merasa aku paling tau dan paham, tapi aku gagal menyampaikan dengan utuh dan mendengarkan sekelilingku dengan empati.

Atau momen ketika aku lagi diajak cerita tentang hal baru, tapi reaksiku cuma setengah hati. Bukannya penasaran atau nanya balik, aku malah sibuk menghakimi dalam hati, ohh cuma ini, aku udah pernah denger ini, ini bukan informasi baru buat aku. Padahal, aku belum tentu benar benar paham dengan hal itu. Atau mungkin, aku belum pernah mencobanya sama sekali. Tapi, saat itu aku sudah merasa paling tau segalanya.

Dari situ aku sadar kenapa semua terasa mandek, datar, hampa, atau bahkan stagnan. Ternyata, secara tidak langsung aku berhenti untuk bertumbuh karena aku merasa sudah cukup tau segalanya.

Dan itu menakutkan.

Bukan karena kita malas belajar, tapi karena kita merasa sudah tidak perlu lagi belajar. Padahal, hidup terus bergerak dan dunia senantiasa mengalami perubahan.

Dan kalau kita tidak belajar, kita hanya akan jadi versi lama dari diri kita yang mungkin sudah tidak lagi relevan di masa sekarang.

Kalau aku tidak memaksakan diri untuk terus belajar, besar kemungkinan aku akan banyak mengalami ketertinggalan. Bukan hanya dari orang lain, tapi dari versi diriku yang seharusnya bisa menjadi lebih baik dari saat ini.

Satu hal yang aku sadari adalah aku justru baru benar benar merasa belajar ketika aku mulai mengakui ketidaktauanku akan suatu hal. Walau terkadang, ego kita sebagai manusia seringkali susah diajak untuk berkompromi dan menolak ketidaktauan.

Mengakui ketidaktauan itu kerap kali terasa memalukan. Tapi mungkin, justru itulah titik baliknya. Saat kita sudah merasa tau segalanya, saat itulah kita akan berhenti belajar.

Pelan pelan, aku mau belajar untuk kembali membuka diri dan belajar banyak hal lagi.

Aku mau pelan pelan belajar untuk membuka ruang.

Aku mau pelan pelan belajar untuk tidak buru buru merasa paling tau segalanya.

Aku mau pelan pelan belajar mendengarkan dengan hati yang sepenuhnya hadir dan memberi ruang untuk hal hal baru yang akan masuk.

Aku mau belajar menjadi orang yang banyak mendengarkan lagi.

Aku mau jadi orang yang bisa jujur mengatakan, “Aku belum tau, tapi aku mau tau dan mau belajar.” atau “Aku emang belum yakin, tapi aku mau belajar supaya bisa jadi yakin dengan diriku dan juga hasilnya.”

Aku ingin belajar ,menjadi versi diriku yang tidak takut melakukan kesalahan walau konsekuensinya mungkin aku akan dihakimi, dimaki, atau bahkan tidak disukai.

Aku ingin belajar menjadi versi diriku yang tetap memiliki rasa penasaran dengan banyak hal di dunia, tanpa takut dicap bodoh karena memiliki ragam pertanyaan.

Aku ingin jadi versi diriku yang tidak kehilangan semangat untuk terus bertumbuh dan berproses, meski hanya dari hal hal kecil yang sederhana. Mungkin tidak terlihat wah di mata orang lain, tapi memiliki arti penting untuk kehidupanku di masa mendatang.

Aku ingin selalu belajar. Belajar untuk tidak cepat merasa puas. Belajar untuk selalu jadi yang terbaik dari diriku di hari kemarin. Belajar untuk terus berproses walaupun tidak ada apresiasi dari sana sini. Aku ingin belajar untuk menjadi versi diriku yang paling terbaik, bukan untuk orang lain, melainkan untuk diriku sendiri.

Tentu saja semua ini butuh proses dan pastinya tidak akan bisa instan serta butuh waktu yang tidak sebentar.

Pada akhirnya, aku menyadari kalau ternyata menjadi manusia itu bukan tentang yang paling tau banyak hal, tapi tentang yang tidak pernah berhenti mencari tau walau ia sudah tau dan belajar banyak hal.

Share:

Jumat, 02 Juli 2021

Sedih Senang Secukupnya

beberapa hari ini, sedih datang menghampiri
seakan tidak memberi celah bagi senang untuk singgah barang sejenak.
⁣⁣⁣
beberapa hari ini, wajahnya dipaksa untuk ceria,⁣⁣⁣
seakan tidak memperdulikan apa yang sesungguhnya dirasa.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
beberapa hari ini, dia kembali mencoba menerka,⁣⁣⁣
tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
ia tau dan menyadari,⁣⁣⁣
bahwa masalah yang ia hadapi,⁣⁣⁣
tak sebanding dengan semua nikmat yang ia dapatkan.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
ia tau,⁣⁣⁣
mengeluh tidak akan mengubah keadaan,⁣⁣⁣
dan salah satu solusinya adalah tetap melangkah ke depan,⁣⁣⁣
melakukan yang terbaik,⁣⁣⁣
semampu yang ia bisa lakukan,⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
merasa sedih senang secukupnya.⁣⁣⁣
mengucap syukur tanpa henti,⁣⁣⁣
dan berhenti untuk bertanya,
"Kenapa Allah selalu mengujiku?"

Share:

Senin, 07 Juni 2021

Review Buku Merindu Baginda Nabi - Habiburrahman El-Shirazy

Judul : Merindu Baginda Nabi 
Penulis : Habiburrahman El-Shirazy
Penerbit : Republika
Terbit : April 2018
Jumlah Halaman : 188 hlm.
ISBN : 9786025734199


BLURB (GOODREADS)

Awan putih yang bergerombol itu seumpama kumpulan jutaan malaikat yang sedang berzikir dalam diam. Gadis berjilbab merah marun itu menyeka air matanya sambil memandang ke luar jendela pesawat yang dinaikinya. Ada kerinduan yang menggelegak dan membara dalam dadanya. Kerinduan kepada Baginda Nabi, menyatu dengan kerinduan kepada abah dan umminya, serta teman-temannya, anak-anak yatim di Darus Sakinah sana.

Diam-diam ia merasa iri dengan abahnya. Bagaimana abahnya bisa memiliki rasa rindu sedemikian dalam kepada Baginda Nabi Saw.. Ia berharap suatu saat juga memiliki rasa rindu seperti itu. Rasa rindu nan dahsyat yang hanya dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-hamba terpilih. 

***

“Hidup ini untuk berjuang. Berjuang supaya dekat dengan Allah. Jalan dekat dengan Allah itu bermacam-macam. Yang bermacam-macam itu muaranya akan satu, yaitu ridha Allah, selama ikut caranya Kanjeng Nabi. Semua cara yang tidak ikut caranya Kanjeng Nabi, tidak akan sampai kepada ridha Allah.” 
 
Aku memutuskan untuk membaca buku ini ketika sedang berlangganan paket full premium dari Gramedia Digital dan qadarullah buku ini termasuk buku premium yang bisa dibaca meski bukan terbitan dari Gramedia Group. Jadi, berkisah tentang apa buku Merindu Baginda Nabi karangan Habiburrahman El-Shirazy ini?

***

Buku ini menceritakan tentang seorang anak perempuan bernama Dipah dengan berbagai ujian yang ia temui dalam kehidupannya. Dipah adalah seorang anak buangan yang awalnya ditemukan oleh seorang nenek tua bernama Embah Tentrem di tempat pembuangan sampah. Embah Tentrem tidak lama mengasuh Dipa. Setelah beliau meninggal dunia, Dipah akhirnya diasuh oleh Pak Nur dan Ibu Salamah yang selanjutnya ia panggil dengan sebutan Abi dan Ummi. Dipah diganti namanya menjadi Syarifatul Bariyyah yang selanjutnya dipanggil dengan nama Rifa. Sampai Rifa dewasa, ia tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Meski begitu, Rifa menjalani kehidupannya dengan bahagia bersama Abi dan Ummi angkatnya. 

Sebelum meninggal, Mbah Tentrem sempat menitipkan rumahnya untuk diwakafkan kepada Pak Nur supaya bisa dikelola dengan tujuan merawat anak-anak terlantar lainnya seperti yang dialami oleh Rifa. Di bawah asuhan Pak Nur dan bu Salamah, rumah tersebut diberi nama Panti Asuhan Darus Sakinah dengan daya tampung lebih dari 100 anak.

Rifa termasuk siswi yang berprestasi di sekolahnya. Berkat kecerdasannya itu, Rifa berhasil mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar ke Amerika dan tinggal di rumah keluarga Bill yang terletak di kawasan San Jose. Keluarga Bill punya anak bernama Fiona. Bersama keluarga Bill, Rifa banyak belajar tentang kehidupan di Amerika. Rifa diajak keliling Eropa selama 2 bulan dan Keluarga Bill bermaksud ingin membiayakan Rifa kuliah di Amerika. Namun, karena kecintaan dan kerinduannya kepada keluarganya di Indonesia, akhirnya Rifa memilih pulang dan menyelesaikan sekolah tahun terakhirnya disana.


"Tanpa dimulai dengan bismillah segala amal baik jadi sia-sia. Abah dan ummi saya mengajari itu sejak kecil. Ini doa paling mudah dan paling ampuh yg bisa kita amalkan untuk semua aktivitas positif..." 

 

Sepulangnya Rifa dari Amerika, Rifa mendapat sambutan hangat dari teman-teman dan guru-gurunya di sekolah. Namun, ada satu teman Rifa bernama Arum yang ternyata iri melihat prestasi yang Rifa dapatkan. Arum selalu mencari cara agar Rifa dapat celaka. Dibantu dengan teman Arum bernama Tiwi yang ternyata suka berghibah, mereka mulai menyebarkan cerita hoax mengenai Rifa. Nah, disinilah salah satu letak pembelajaran novel ini. Sikap sabar yang dilakukan Rifa ketika menghadapi kelakuan Arum pun berbuah manis. Sedangkan Arum dan Tiwi? Mereka harus siap menerima konsekuensi dari perbuatan yang telah mereka lakukan.

Ada salah satu scene dalam buku ini yang menjelaskan tentang bertamu dan makanan. Kamu pernah gak waktu main ke rumah teman atau keluarga, lalu disuguhkan hidangan tapi gak kamu ambil lantaran malu? Nah, Kang Abik dalam buku ini mencoba memberi tahu bahwa hidangan yang ditawarkan kepada kita ketika bertamu, sebaiknya ya dimakan saja. Apalagi kalau makanan tersebut disajikan oleh orang-orang shaleh dan dari rezeki yang halal, bisa jadi tuh hidangan bakal jadi obat untuk tubuh kita. :)

Scene lain dalam buku ini yang aku suka adalah ketika Fiona, teman Rifa dari Amerika, memutuskan untuk masuk islam atau dengan kata lain menjadi muallaf setelah mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran. Aku membayangkan saat itu jika aku menjadi Rifa, melihat Fiona pertama kalinya mengucapkan syahadat, pasti rasanya bahagia tak terkira :")

Sebenarnya, isi novel ini tidak sama dengan apa yang aku perkirakan. Jauh dari ekspetasi. Aku kira bukunya tentang kerinduan seorang tokoh terhadap Nabi Muhammad SAW. Namun setelah aku baca, bukunya lebih mengisahkan tentang remaja perempuan dan kehidupannya sebagai anak yang berprestasi di sekolah bersama teman-temannya, keluarga angkatnya, dan guru-gurunya. Tokoh utamanya, Rifa, pun dibuat seolah-olah perfect dengan sedikit sekali kekurangan (atau bahkan tidak ada sama sekali). Tapi hal tersebut tidak mengurangi esensi dari buku ini, kok. Justru, banyak value yang bisa diambil ketika kita membaca buku ini.

Sesuai dengan kategori novelnya sebagai pembangun jiwa, Novel Merindu Baginda Nabi benar-benar mampu membangun jiwa melalui cerita tokohnya dan dialog yang ada di dalamnya. Membaca buku ini membuat aku jadi kepikiran, "Sudah sejauh apa aku membuktikan rasa cintaku pada Yang Kuasa dan Kekasih-Nya? Sudahkah aku meneladani akhlakul karimah dari Kekasih-Nya dalam kehidupanku sehari-hari?" Novel ini membuatku banyak bermuhasabah diri, pastinya :)  



Share:

Selasa, 01 Juni 2021

Peristiwa Hari Asyura' - Ustadzah Halimah Alaydrus [Catatan Kajian]

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Umat islam di seluruh dunia saat ini sedang memasuki suasana tahun baru hijriah 1443 H yang dimulai dari bulan Muharram. Pada bulan Muharram ini, terdapat hari yang mulia yaitu Hari 'Asyura. Umat islam disunnahkan untuk berpuasa dan meluaskan sedekahnya kepada sanak keluarga serta anak yatim. Ada kisah yang menjadi penyebab mengapa hari asyura' menjadi hari yang tergolong mulia bagi umat islam. Bahkan, ada yang mengatakan jika kaum nonmuslim memeringati hari kasih sayang setiap tanggal 14 februari, maka umat islam juga akan memeringati hari kasih sayang yang jatuh pada Hari 'Asyura.

Saya mau berbagi sedikit catatan dari sesi tausyiah yang disampaikan oleh Ustadzah Syarifah Halimah Alaydrus mengenai beberapa peristiwa mulia yang terjadi pada Hari 'Asyura. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan catatan🙏


PERISTIWA HARI ASYURA'

  • Hari 'Asyura termasuk hari yang penting sepanjang tahun yang sudah berlaku dari jaman Nabi Adam as. Banyak kemuliaan yang terjadi pada Hari 'Asyura ini.
  • Nabi Muhammad(ﷺ) sudah berpuasa Hari 'Asyura bahkan sebelum datang perintah wajib puasa ramadhan. Perintah untuk melaksanakan puasa ramadhan itu baru turun di tahun kedua setelah hijrahnya Nabi Muhammad(ﷺ). Sedangkan Nabi Muhammad(ﷺ) sudah berpuasa Hari 'Asyura sejak berada di Mekkah dan sebelum peristiwa hijrah itu terjadi.
  • Sebelum datangnya perintah wajib puasa ramadhan, semua puasa hukumnya wajib termasuklah puasa 'Asyura. Namun, ketika turun perintah diwajibkannya puasa ramadhan, puasa yang lain berubah menjadi sunnah termasuk puasa 'Asyura.
  • Beberapa peristiwa yang terjadi pada Hari 'Asyura:
  1. Allah menyembuhkan Nabi Ayyub as
  2. Nabi Yunus as dikeluarkan dari perut ikan.
  3. Kapal Layar Nabi Nuh as tertambat di suatu pulau.
  4. Diterimanya taubat Nabi Adam as.
  5. Selamatnya Nabi Ibrahim as dari api.

Sedikit Kisah Nabi Yunus as yang diselamatkan Allah di Hari 'Asyura

Nabi Yunus atau Yunus bin Matta adalah Nabi yang diutus kepada kaum Nainawa. Kaum Nainawa adalah kaum yang orangnya baik-baik namun tidak beriman dan mengikuti Nabi Yunus as. Mereka tetap berlaku baik kepada Nabi Yunus as, tapi ketika diajak beriman, mereka tidak beriman. Berbeda dengan kaum Nabi-Nabi lainnya seperti kaum Nabi Luth as yang mendurhakai Nabinya. Oleh karena kaum Nainawa yang tak kunjung beriman, Nabi Yunus memutuskan untuk meninggalkan kaum Nainawa dan pergi menggunakan kapal laut.

Ketika kapal yang dinaiki Nabi Yunus as sudah berada di laut, kapal tersebut terkena ombak. Padahal, wilayah yang dilalui itu bukan wilayah yang biasanya terjadi ombak. Sang nakhoda kapal tersebut mengatakan kalau ada penumpang di kapal yang tidak diinginkan oleh pemilik lautan. Dilakukanlah pengundian nama-nama penumpang dan qadarullah keluarlah nama Nabi Yunus as sebanyak tiga kali. Akhirnya, Nabi Yunus as pun dikeluarkan dari kapal tersebut.

Allah mengutus ikan paus yang fisiknya sangat besar untuk menelan Nabi Yunus as saat dikeluarkan dari kapal atas perintah Allah. Ikan tersebut biasanya berada di dasar lautan dan lebih sering berada dalam posisi diam.

Salah satu ibrah dari kisah Nabi Yunus as : Ketika kamu merasa sumpek karena banyak masalah, bayangkan kalau kamu ada di posisi Nabi Yunus as yang berada di dalam perut ikan paus. Nabi Yunus as pada saat itu tidak bisa mencari jalan keluar sama sekali, tidak bisa bergerak, juga tidak bisa melakukan apa-apa. Namun, Nabi Yunus as tetap berserah diri dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Sedangkan kesumpekan itu sendiri terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

Hazn (kesedihan).
Kalau kamu sedang dalam hazn (kesedihan) karena lagi banyak masalah yang datang, ada baiknya untuk segera mencari dimana akar permasalahan tersebut berasal lengkap dengan solusi untuk mengatasinya. Masalah kita itu ibarat kabel yang terlilit. Jadi, cara menyelesaikannya adalah dengan mengurai kabel (masalah) tersebut. Jangan biarkan masalah itu tetap terikat/terilit.

Kham/Ham (ini saya bingung gimana tulisannya, jadi bisa ditandai dulu ya).
Merasa sumpek tapi tidak jelas sumbernya dari mana? Bisa juga bermakna ketika kita memiliki masalah banyaak yang dibiarkan bertumpuk-tumpuk dan tidak kunjung diselesaikan. Pada posisi ini sebenarnya masih bisa dicari jalan keluar dari permasalahan yang kita alami.

Ghom (kesumpekan di atas kesumpekan).
Masalahnya sudah terasa sangat berat. Terasa mentok. Masalah banyak dibiarkan menumpuk dan tidak juga diselesaikan. Masalah besar yang pada akhirnya tidak bisa ditanggung lagi sampai berpotensi pada perasaan depresi.

Nah, saat berada di dalam perut ikan tersebut, Nabi Yunus as ada dalam kondisi 'ghom'. Nabi Yunus memahami posisinya dimana beliau tidak bisa melakukan apapun selain mengharap pertolongan Allah SWT. Oleh karena itu, Nabi Yunus berdzikir:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya, “Ya Allah, Tiada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Allah. Sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri dan aku termasuk golongan orang yang zalim.”
    
Sebenarnya para malaikat mendengar dzikirnya Nabi Yunus as namun tidak tau dimana Nabi Yunus as tersebut berada. Nabi Yunus as, selama di dalam perut ikan, berada dalam tiga kegelapan yaitu, gelapnya perut ikan, gelapnya malam, dan gelapnya lautan.

Tepat pada tanggal 10 Muharram atau Hari 'Asyura, Allah mengeluarkan Nabi Yunus as dari perut ikan tersebut dengan cara ikan itu dibuat sakit perut dan mengeluarkan semua isi perutnya termasuklah Nabi Yunus as turut keluar dan kondisinya saat itu dalam keadaan yang lesu akibat tidak ada makanan yang masuk. Posisi itu membuat Nabi Yunus as tidak bisa mencari rezekinya sendiri. Maka, atas kuasa Allah, rezeki itu sendirilah yang menghampiri Nabi Yunus as. Allah berikan rezeki berupa buah-buahan yang tepat tumbuh di depan mulut Nabi Yunus as agar Nabi Yunus bisa memakannya.

Setelah kejadian ini, Nabi Yunus pun akhirnya kembali kepada kaum Nainawa dan kaum Nainawa pun beriman kepada Allah sebagai akibat dari berkah kesabaran Nabi Yunus as.

Pelajaran dari kisah Nabi Yunus as :

  1. Bersabar atas segala sesuatu yang terjadi. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup.
  2. Rezeki sudah dijamin oleh Allah SWT. Selagi Allah masih menakdirkan kita untuk hidup, maka rezeki itu tetap akan ada. Ketika kita tudak tau dimana lagi mencari rezeki, maka rezeki yang akan menghampiri kita sebagaimana yang dialami oleh Nabi Yunus as saat keluar dari perut ikan paus.

Beberapa amalan pada Hari 'Asyura yaitu:

  1. Puasa Tasu'a dan 'Asyura (ada hadits shahih).
  2. Meluaskan rezeki bagi keluarganya (ada hadits shahih).
  3. Menyantuni anak yatim (menunjukkan kasih sayang secara materi) dan juga mengusap kepala anak yatim.
  4. Berdoa dan perbanyak dzikir.
  5. Berziarah kepada para ulama'.
  6. Menjenguk orang sakit.
  7. Memakai celak, mandi, dan potong kuku (haditsnya tidak ada, tetapi tetap boleh dikerjakan karena hal ini termasuk mubah).
Note: Kalau ingin pakai celak, pakainya di malam hari karena makruh hukumnya pakai celak ketika sedang berpuasa.

***

Kalam Ustadzah Syarifah Halimah Alaydrus

  • Bagaimana jika kita sudah berdoa tapi tak kunjung dikabulkan? Ada seorang ulama mengatakan, "Kalau doa saya diijabah, saya senengnya satu kali. Kalau doa saya tidak dijabah, saya senangnya berkali-kali. Doa diijabah artinya Allah menjadikan saya seperti yang saya mau. Sedangkan ketika doa saya tidak diijabah, itu artinya Allah hendak menjadikan saya seperti yang Allah mau. Dalam ketetapan Allah, selalu Allah memberikan yang terbaik." - Ustadzah Halimah Alaydrus
  • Yang tertulis untukmu akan sampai padamu... - Ustadzah Halimah Alaydrus.
  • "Bukan masalahnya yang berat. Tetapi dirimu lah yang tidak mampu untuk menyelesaikan masalah tersebut." - Ustadzah Halimah Alaydrus.
  • "Tidaklah menimpa suatu musibah tanpa perbuatan kalian sendiri." - Ustadzah Halimah Alaydrus.
Share:

Rabu, 05 Mei 2021

REVIEW NOVEL SELAMAT TINGGAL - TERE LIYE [NOVEL TENTANG BUKU BAJAKAN]

Judul : Selamat Tinggal 

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Terbit : November 2020

Jumlah Halaman : 360 hlm.

ISBN : 9786020647821

Score : 4/5




BLURB (GOODREADS)

Kita tidak sempurna. Kita mungkin punya keburukan, melakukan kesalahan, bahkan berbuat jahat, menyakiti orang lain. Tapi beruntunglah yang mau berubah. Berjanji tidak melakukannya lagi, memperbaiki, dan menebus kesalahan tersebut.

Mari tutup masa lalu yang kelam, mari membuka halaman yang baru. Jangan ragu-ragu. Jangan cemas. Tinggalkanlah kebodohan dan ketidakpedulian. “Selamat Tinggal” suka berbohong, “Selamat Tinggal” kecurangan, “Selamat Tinggal” sifat-sifat buruk lainnya.

Karena sejatinya, kita tahu persis apakah kita memang benar-benar bahagia, baik, dan jujur. Sungguh “Selamat Tinggal” kepalsuan hidup.

Selamat membaca novel ini. Dan jika kamu telah tiba di halaman terakhirnya, merasa novel ini menginspirasimu, maka kabarkan kepada teman, kerabat, keluarga lainnya. Semoga inspirasinya menyebar luas. 

***

"Ayo mari kita memperbaiki. Kita mulai dari diri kita sendiri, dari keluarga sendiri, esok lusa kita akan menyaksikan perubahan telah datang. Saat itu tiba, suara-suara kita akan membahana terdengar. Kepal tinju kita akan menggetarkan gunung-gunung. Percayalah." 


Sebagai fans garis keras dari pembaca Tere Liye, aku langsung memutuskan untuk membaca buku ini ketika masih awal-awal diterbitkan. Novel ini ternyata membawa tema khusus mengenai peredaran buku ilegal/bajakan. Nah, bagaimana kisah dari buku ini?

Selamat Tinggal berkisah tentang kisah hidup seorang penjaga toko buku bajakan bernama Sintong Tinggal. Sintong merupakan mahasiswa yang sudah 7 (tujuh) tahun mendekam di kampus akibat belum menyelesaikan tugas skripsinya. Sintong merupakan anak dari keluarga yang miskin. Oleh karena itulah, Sintong harus rela bekerja membantu pakleknya menjaga toko buku bajakan agar Sintong terus dapat melanjutkan pendidikan kuliahnya. Sintong akhirnya tak hanya dikenal sebagai mahasiswa abadi, tetapi juga sebagai penjual buku bajakan.


"Di toko yang dia jaga ini memang banyak logika yang tidak berlaku. Lihat saja, nama tokohnya Berkah, entah kesambet setan mana dulu pemiliknya punya ide nama tersebut. Di mana coba berkahnya ilmu yang diperoleh dari buku bajakan?" 

 

Buku ini memiliki tiga tokoh utama yakni Sintong Tinggal, mahasiswa abadi sekaligus perantau yang menjadi penjaga toko buku bajakan milik Pakleknya. Mawar Terang Bintang, gadis pujaan Sintong yang merupakan mahasiswa keperawatan di salah satu kota di Sumatra. Dan Jess, mahasiswa semester awal yang jatuh hati pada Sintong.

“Fantastis sekali, mereka belajar tentang hukum dari buku-buku bajakan. Hukum seperti apa coba yang hendak mereka tegakkan? Sapunya kotor kok mau membersihkan lantai?”

Dulu, ketika masih masa-masa bersekolah, Sintong memiliki teman sekaligus gadis yang menjadi pujaan hatinya bernama Mawar Terang Bintang. Singkat cerita, sejak Mawar Terang Bintang menikah dengan lelaki lain asal Sumatra, Sintong patah hati dan menjadi kehilangan semangat untuk meneruskan hidupnya. Skripsinya pun terbengkalai. Sintong dapat diibaratkan seperti mayat hidup yang hanya menjaga toko bajakan milik Pakleknya. 

"Setiap kita berharap mendapatkan sesuatu, maka bersiaplah melepaskannya. Karena di dunia ini, bahkan yang sudah jadi milik kita bisa hilang, apalagi yang belum."

Sampai suatu hari, ada seorang perempuan yang merupakan Mahasiswa Baru (MABA) bernama Jess datang berkunjung ke toko Sintong untuk membeli buku. Mereka terlibat dalam beberapa obrolan santai. Sintong pun mulai basa-basi menanyakan beberapa hal yang sebenarnya tidak penting. Dari sanalah mereka mulai dekat. Hadirnya Jess dalam hidup Sintong sangat membantunya untuk segera move on dari Mawar Terang Bintang.

Sintong Tinggal juga kembali bersemangat menyelesaikan skripsinya setelah menemukan sebuah buku karangan penulis besar yang telah dianggap hilang dalam sejarah literasi nasional bernama Sutan Pane. Buku itu ternyata belum diterbitkan dan merupakan versi pra-cetak. Buku itu diyakini sebagai salah satu dari lima karya misteri yang ditulis oleh Sutan Pane sebelum dianggap hilang pada peristiwa tahun 1965. Sintong akhirnya menjadikan Sultan Pane sebagai topik penelitiannya. Bermula dari pencarian jejak Sutan Pane, Sintong mendapatkan hal-hal baru yang belum pernah terpikirkan olehnya. Pencarian itu bukan hanya sekadar untuk menyelesaikan skripsinya, melainkan ia juga banyak belajar dari tokoh Sutan Pane terutama tentang dunia kepenulisan. Sintong juga mulai aktif kembali mengirimkan tulisan-tulisannya ke berbagai media dan ini turut membuat dekan serta para dosennya menjadi senang. Perlu diketahui bahwa ketika Sintong masih menjadi mahasiswa baru, Sintong sangat rajin membuat tulisan dan mengirimnya dan akhirnya dimuat di berbagai koran ternama. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa Sintong tidak mendapat status Drop Out (DO) dari kampusnya, itu dikarenakan Sintong pernah menjadi mahasiswa yang membanggakan pada masanya. 

"Aku juga sering kali takut menulis, Darman. Tapi aku lebih takut lagi jika tidak bersuara. Harus ada yang menyampaikan prinsip-prinsip kebaikan. Aku juga berkali-kali gemetar saat mengetikkan tulisan, gentar sekali. Tapi aku lebih takut jika keadilan itu tidak disampaikan. Maka biarlah aku mengetiknya, menyampaikan suara-suara yang diam." — Sutan Pane

Kisah pertemuan antara Sintong dan Jess ini juga yang nantinya akan mempertemukan mereka pada suatu simpul. Simpul itu yang menyadarkan mereka tentang bagaimana konsekuensi dan risiko dari peredaran produk-produk ilegal/palsu/bajakan. Pada akhirnya, Sintong harus segera mengambil keputusan yang tegas mengenai dirinya. Akankah Sintong akan tetap bertahan untuk terus menjaga toko buku bajakan dari pakleknya atau ia akan mundur dari pekerjaan tersebut? Langsung baca bukunya, yaa^^

"Kamu akan selalu punya jalan keluar. Tidak hari ini, besok lusa akan tampak. Tidak malam ini, tapi sepanjang kamu sungguh-sungguh, itu akan menjadi keniscayaan."

Share:

Jumat, 02 April 2021

Pentingnya Mujahadah Nafsu - Jalsah Habaib Daurah Darzahra Shaifiyyah 27 [Catatan Kajian]


Jalsah Habaib bersama Ustaz Muhammad Nasrullah bin Nadzri adalah Jalsah Habaib ketiga yang diadakan pada kegiatan Daurah Dar Zahra Shafiyyah 27 dengan membahas tema seputar hawa nafsu serta bagaimana cara mengendalikannya. Memang pada hakikatnya, musuh terbesar bagi manusia adalah hawa nafsu. Saking berbahayanya hawa nafsu ini, Rasulullah(ﷺ) bersabda dalam salah satu haditsnya:

Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah (ﷺ) ? Rasulullah  menjawab, “Jihad (memerangi) hawa nafsu."

Mujahadah artinya bersungguh-sungguh dalam mengendalikan sesuatu. Nafsu adalah makhluk dari Allah yang telah Allah tetapkan kepada diri dari masing-masing manusia. Maka, Mujahadah Nafs dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk bersungguh-sungguh dalam mengendalikan hawa nafsu.

Ustaz Muhammad Nasrullah bin Nadzri menyampaikan bahwasanya barangsiapa yang takut pada Allah, takut pada kedudukan Allah, dan mengekang hawa nafsunya dari keinginan semata, mereka itulah yang nanti tempat kembalinya adalah surga.

Ada lima perkara yang sudah pasti Allah tetapkan pada diri manusia, yaitu:

  • Anggota badan seperti mata, hidung, mulut, tangan, dan lain sebagainya
  • Akal. Akal di sini bukan hanya sekadar otak saja. Otak itu adalah satu dari sekian banyak anggota badan. Sedangkan akal adalah awal permulaan dari kita memahami sesuatu.
  • Nafsu. Nafsu adalah segala kepuasan atau keinginan manusia yang diinginkan.
  • Ruh.
  • Hati. Hati adalah tempat dimana manusia akan membuat keputusan. Dimana keputusan ini akan berubah tergantung bagaimana akal dan nafsu manusia itu sendiri. Itulah mengapa hati disebut dengan qalbun yang memiliki arti berbolak-balik. 

Akal adalah sesuatu yang mampu berpikir dan senantiasa gaduh di dalam diri manusia. Akal dapat mengetahui mana perkara yang benar dan mana perkara yang salah. Melatih akal untuk dapat memutuskan sesuatu perkara bisa didapat dari mempelajari ilmu-ilmu agama. Akal tidak bisa berpikir dengan benar bila terputus dari Al-Qur'an dan juga ilmu-ilmu agama. Oleh karena itu, untuk melatih akal agar mampu melawan nafsu yang ada di dalam diri bisa dengan mempelajari Al-Quran dan juga ilmu agama.

Ketika kita akan membuat suatu keputusan, kita akan melibatkan hati dan juga akal. Keputusan terakhir antara akal dan juga nafsu terdapat pada hati (qalbun). Itulah alasan kenapa hati sangat mudah berbolak-balik. Sebab keputusan hati tergantung pada bagaimana akal dan nafsu yang terdapat dalam diri manusia tersebut.

Sejatinya, akal dan nafsu senantiasa tidak menjumpai titik temu. Akal sebenarnya mengetahui bahwa dirinya adalah hamba Allah dan memiliki kewajiban di dunia. Sedangkan nafsu lebih berpihak kepada kepuasan diri. Manusia seringkali terjerumus dalam nafsunya sendiri (termasuk alfaqir sendiri).

Kenapa nafsu sifatnya berbahaya? Ada tiga perkara yang menjadikan nafsu berbahaya yaitu :
  • Nafsu yang mengajak pada keburukan.
  • Nafsu itu layaknya musuh dalam selimut. Mengapa dikatakan musuh dalam selimut? Karena nafsu itu adalah musuh yang tidak tampak dan merupakan musuh yang ada dalam diri sendiri.
  • Nafsu itu seperti benda yang memuaskan kita yang menyebabkan kita untuk selalu menginginkan sesuatu yang lebih, lebih, dan lebih tanpa pernah merasa puas dan bersyukur atas apa yang sudah dimiliki.

Ustaz Muhammad Nasrullah bin Nadzri mengatakan, bahwasanya untuk melawan nafsu, kita harus bermuhajadah. Sedangkan untuk menguatkan akal, kita harus beribadah. Ada tiga hal yang menjadi pemicu timbulnya nafsu, yaitu:
  • Syaitan
  • Dunia
  • Makhluk

Jika kita tidak tau betapa bahayanya nafsu, kita akan lebih mudah untuk merusak hati dan tidak pula memedulikan kebenaran akal. Itulah sebabnya kita harus tau bagaimana melemahkan nafsu. Salah satu cara melemaskan nafsu adalah dengan menuduh diri sendiri, "Kau berbuat seperti ini karena mau ini, kan?"


Mengapa kita harus melakukan muhajadah?

Mujahadah nafsu sangat penting untuk dilakukan karena jika kita bisa menjinakkan nafsu, kita bisa melakukan kebaikan dan bersedih ketika melakukan maksiat atau kejahatan. Apabila kita tidak dapat menjinakkan nafsu, kita akan lebih mudah meninggalkan kebaikan.


Cara menjinakkan nafsu menurut para ulama':

  • Mengurangi makan. Manusia melakukan aktivitas makan biasanya ada dua alasan, yaitu: untuk memenuhi hajat lapar dan hajat kepuasan (nafsu).
  • Kurangi bercakap-cakap,
  • Kurangi bergaul.

Nafsu memiliki dua sifat, yaitu:

  • Rakus/Serakah.
  • Nafsu seperti hewan.

Semua sifat nafsu itu tidak baik. Kecuali satu sifat yang mengikuti pola kebiasaan. Jika nafsu tersebut dibiasakan untuk berbuat amal dan kebaikan, maka ia akan senantiasa melakukan kebaikan. Tetapi kalau nafsu tersebut dibiasakan untuk berbuat maksiat keburukan, maka ia pun akan senantiasa melakukan keburukan.


Beberapa kisah Mujahadah Pada Zaman Rasulullah(ﷺ) :

  • Sayyidah Aisyah selalu bermuhajadah dengan melakukan puasa dan bersedekah.
  • Ummu dardak, salah satu shahabiyat nabi yang suaminya bernama Abu dardak. Ummu dardak pernah mengumpulkan murid-muridnya untuk melaksanakan qiyamullail sampai ada yg mengatakan kalau mereka qiyamullail sampai bengkak kakinya.
  • Salah satu tabi'in melakukan sholat malam sebanyak 600 rakaat dan selalu menganggap pagi hari adalah pagi terakhirnya dan malam hari adalah malam terakhirnya.

Ustaz Muhammad Nasrullah bin Nadzri berpesan, Ketika kita merasa berat melakukan suatu ibadah, ingatlah bahwa rasa berat itu datang dari nafsu. Pun ketika kita sedang duduk dalam suatu majelis ilmu dan kita merasa berat, itu juga datangnya dari nafsu.

Banyak perkara yang harus dimujahadah oleh kaum muslimah. Rasulullah(ﷺ) telah memberitahukan sifat-sifat pada muslimah yang menyebabkan mereka banyak terperangkap ke arah neraka, diantaranya;

  • Senang melepaskan kata-kata yang tidak baik dan keji. Kata-kata itu terkadang sampai melaknat orang lain. Oleh karena itu, sebagai seorang muslimah, berlatihlah untuk mengucapkan kata-kata baik.
  • Sering lupa pada kebaikan dan budi seseorang. Hal ini sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga dimana istri sering melupakan kebaikan suami hanya karena suami melakukan suatu kesalahan.
  • Rasa malu. Sebagai seorang muslimah, sudah seharusnya untuk memiliki rasa malu. Sebuah kisah dari Sayyidah Ummu Sulaim dapat kita jadikan teladan untuk mencontoh bagaimana sifat malunya para muslimah di zaman Rasulllah(ﷺ). Sayyidah Ummu Sulaim pernah menanyakan kepada Rasulullah(ﷺ) berapa panjang kain yang bisa dipanjangkan untuk menutupi kaki muslimah. Rasulullah(ﷺ) pun memberi tahu bahwa panjang kain tersebut tidak boleh lebih dari satu hasta.

SESI TANYA JAWAB

Apa perbedaan di antara hawa nafsu dan syahwat?
Hawa nafsu lebih kepada keinginan. Sedangkan syahwat lebih kepada kepuasan.

Apa perbedaan antara bisikan syaitan dan nafsu?
Syaitan membisikkan kepada kejahatan dan keburukan. Sedangkan nafsu, bila ingin sesuatu, dia hanya ingin itu. Dan tidak akan berhenti sampai dia mendapat hal itu. Bisikan syaitan bisa dilawan dengan dzikir. Tapi nafsu dilawan dengan melakukan dialog kepada nafsu itu sendiri, memarahinya, serta melawannya.

Kapan saat yang tepat untuk melakukan mujahadah?
Kapan kita merasa makanan itu yang paling enak? Apabila dimakan saat lapar. Kapan tidur yang paling enak? Apabila tidur setelah penat. Kapan kita bermuhajadah? Ketika kita sudah merasa bersungguh-sungguh beribadah, bersungguh-sungguh dalam sholat. Contohnya misal, ketika kita akan melakukan mujahadah saat sholat. Alhabib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz radhiyallahuanhu mengatakan cara sholat menjadi khusyu' yaitu kita paksa untuk bisa khusyuk, paksa tau apa yang kita baca, rasakan diri kita bermuhajadah ketika kita sedang sholat.


Wallahu'alam bisshawab.

Share: