Ayah oleh Irfan Hamka [REVIEW BUKU]

Mei 19, 2019

Judul : Ayah, Kisah Buya Hamka
Penulis : Irfan Hamka
Penerbit : Republika
Tahun Terbit : Mei, 2013 (Cetakan ke-1)
Tebal Buku : 321 Halaman
ISBN : 978-602-8997-71-3



BLURB 

BUYA HAMKA. Nama besar ini bukan hanya dikenal sebagai ulama besar, melainkan juga sebagai sastrawan, budayawan, politisi, cendikiawan, dan pemimpin masyarakat. Ketokohan serta keagungan karyanya membuat banyak orang tertarik untuk mengabadikannya.

Melalui penuturan anak kelimanya, Irfan Hamka, Republika Penerbit ingin mengenal sosok besar Hamka, namun dari sisi yang lebih dekat; Buya Hamka sebagai seorang ayah, suami, dan kepala keluarga.

Buku Ayah… menyuguhkan banyak kenangan, pengalaman, dan kisah luar biasa yang mungkin tak akan kita peroleh selain dari orang-orang terdekatnya. Dan, Republika Penerbit merasa beruntung bisa “mendengarnya” langsung dari Penulis, lantas menyampaikannya kepada pembaca. Semoga pembaca pun dapat memperoleh manfaat dengan membacanya.

Berikut sebagian kecil nasihat dan pengalaman yang dikenang oleh Irfan Hamka selama 33 tahun kebersamaannya dengan Buya Hamka, sang ayah. Kisah-kisah dalam buku Ayah… akan membawa pembaca mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka dari sisi yang berbeda.

“Ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh orang yang suka berbohong. Pertama, orang itu harus memiliki mental baja, berani, tegas, dan tidak ragu-ragu untuk berbohong. Jangan seperti kamu tadi. Kedua, tidak pelupa akan kebohongan yang diucapkannya. Ketiga, harus menyiapkan bahan-bahan perkataan bohong untuk melindungi kebenaran bohongnya yang pertama. Contoh, ada seorang teman bertanya kepada temannya, ‘Tadi hari Jum’at shalat di mana?’ Si teman yang ditanya sebenarnya tidak ikut shalat berjamaah Jum’at, namun karena malu, dia berbohong, lalu menjawab, ‘Di Masjid Agung’. Si teman yang bertanya kembali bertanya, ‘Di lantai mana kau shalat?’ Yang ditanya kembali menjawab, ‘Di lantai bawah’. Bertambah lagi bohongnya. ‘Saya juga di lantai bawah, kok. Tidak,bertemu?’ Dengan mantap yang ditanya menjawab, ’Saya di saf paling belakang’. Coba kau hitung, Irfan! Untuk melindungi bohongnya, berapa kali dia menambah bohong agar temannya percaya bahwa dia memang shalat di Masjid Agung? Mengerti kau, Irfan, akan cerita Ayah ini?” –Halaman 10-



Dokumentasi Pribadi

***

Atau kisah tentang perjalanan maut di Padang Pasir.

Mulanya, gulungan angin bercampur pasir itu masih berjarak sekitar dua kilometer di belakang kami. Umar, sopir kami, menambah kecepatan mobil dari 100, 110, lalu 120 mill per jam. Mobil terasa melayang di atas jalan raya.

Namun, angin pasir itu lebih cepat menyusul. Badan mobil terdengar seperti disiram oleh pasir. Suara gemuruh angin terdengar di dalam mobil kami. Seperti ada ribuan suara siulan yang mengepung mobil kami. Ayah terus menyebut nama Tuhan, “Allah, Allah”.

Aku pun mengikuti ucapan Ayah, “Allah, Allah, Allah”. –Halaman 137 s.d. 138- (disadur dari goodreads)


Sekilas Tentang Buku Ini



Dokumentasi Pribadi
Buku ini adalah buku yang ditulis oleh H. Irfan Hamka, anak ke-5 dari Buya Hamka dan istrinya. Sebenarnya, buku ini dulu berjudul Kisah Kisah Abadi Bersama Almarhum Ayahku yang telah diterbitkan oleh Uhamka Press. Karena Irfan Hamka ingin karya tersebut dapat disebar lebih luas lagi, akhirnya Irfan mengajukan ke pihak penerbit Republika agar buku ini dapat dicetak ulang. Pihak Republika setuju dan akhirnya terbitlah buku dengan sampul bergambar Buya Hamka.

Buku ini berisikan kisah kisah yang dilalui Irfan sebagai seorang anak bersama Buya Hamka juga pandangan beliau terhadap akhlak dan kejadian yang dialami oleh Buya Hamka. 


Buku ini dibagi menjadi 10 pokok bahasan. Mulai dari sosok Buya Hamka sebagai seorang ayah, suami, ulama, pemimpin, dan figur teladan bagi kerabat dan warga Indonesia. Semua ditulis menggunakan sudut pandang dan pengalaman yang dilewati oleh Irfan Hamka bersama Buya. Tak ketinggalan, buku ini juga dilengkapi oleh pengantar dari Dr. Taufiq Ismail.


Berkenalan Dengan Sosok Buya Hamka



Image result for buya hamka
Source
Sebelumembaca buku ini, saya sama sekali tidak mengetahui persis tentang Buya Hamka secara mendetail. Yang saya tau, Buya Hamka ini adalah seorang ulama dan juga penulis beberapa buku diantaranya Tafsir Al-Azhar 30 Juz, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan sebagainya.

Saya menemukan buku ini di perpustakaan Bank Indonesia Sumatera Selatan. Saat itu, saya bingung ingin meminjam buku apa. Jadilah akhirnya saya meminjam buku mengenai Buya Hamka ini. 


Buya Hamka adalah sosok ulama besar yang lahir di Indonesia. Nama Buya tercatat penting dalam sejarah pergerakan bagi umat muslim dalamelawan penjajahan Belanda, baik pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Beliau pernah menduduki posisi strategis di Indonesia yaitu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beliau juga turut aktif dalamemberikan nasihat dan ceramah baik melalui media ataupun langsung dari masjid. Selain itu, Buya Hamka juga merupakan sosok penulis yang sampai saat ini karyanya masih diabadikan dan dibaca oleh masyarakat.



Image result for buya hamka
Source
Hamka sendiri bukanlah nama asli dari Buya. Buya memiliki nama asli Haji Abdul Malik Karim Amarullah yang kemudian lebih akrab disapa HAMKA. Buya memiliki seorang istri bernama Hj. Siti Raham Rasul yang telah berpulang pada 1 Januari 1971. 10 tahun kemudian, Buya menyusul kepergian istri tercinta yang kerap disapa ummi tersebut. 

Buya memiliki 12 anak. Tapi, 2 anak kembarnya meninggal dunia dan tinggallah 10 anak saja. Saat buku ini diterbitkan kembali pada Bulan Mei 2013, anak anak Buya yang masih hidup berjumlah 8 orang. 2 orang lainnya, Zaki dan Fachry, telah berpulang ke Rahmatullah.



Related image
Source
Buya Dalam Pandangan Anak-Anak

Buku ini dibuka dengan tiga nasihat yang diberikan Buya kepada anak-anaknya, para jamaah di pengajiannya juga kepada mereka yang secara personal langsung mendatangi Buya. 3 nasihat itu terekam sangat baik oleh anak-anak Buya terutama oleh Irfan Hamka.


Kisah ditulis dari pengalaman Irfan berumur 5 tahun bersama Buya dan telah mengalami berbagai rentetan peristiwa seperti pindah ke Jakarta, metode mengaji yang diajarkan Buya, hingga ilmu silat yang diajarkan Buya kepada Irfan. 



Image result for irfan hamka
Irfan Hamka (Source)
Ada satu kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan Irfan kepada Buya sejak ia kecil hingga dewasa. Irfan selalu memijat kaki Buya ketika Buya sedang membaca Al-Quran. Subhanallah.

Lalu dilanjutkan lagi dengan kisah ketika mereka telah pindah ke rumah baru. Ternyata, ada jin yang menghuni rumah tersebut. Hebatnya, Buya berhasil berdamai dengan jin yang dikenal dengan nama Innyiak Batungkek atau Kakek Bertongkat. Waku baca bagian ini, cukup serem sih ya soalnya saya membacanya waktu malam hari. :)


Pengalaman Naik Haji Bersama



Image result for kapal mae abeto
source
Cerita selanjutnya adalah cerita mengenai catatan perjalanan Buya bersama Ummi dan Irfan ketika berangkat naik haji ke Makkah. Rezeki ini Buya dapatkan dari Allah melalui perantara Pd. Presiden Jenderal Soeharto. Jadilah Buya bersama Ummi juga Irfan berangkat haji. Saat itu transportasi yang digunakan adalah jalur laut, bukan jalur udara. Buya, Ummi dan Irfan naik haji dengan kapal laut Mae Abeto (1968). 

Dalam perjalanan, ada insiden yang membuat duka yaitu satu orang jamaah haji meninggal dunia. Seluruh jamaan lain bersedih ketika melepaskan jenazah tersebut. Peraturannya, ketika ada yang meninggal dalam perjalanan menggunakan laut, maka jenazah tersebut akan dikuburkan dengan cara ditenggelamkan dalam laut.


Lalu, perjalanan mendebarkan selanjutnya adalah ketika Buya, Ummi dan Irfan berangkat dari Baghdad kembali menuju Makkah menggunakan mobil dan harus melintasi padang pasir Arab sejauh 6000 kilometer! Saat itu, Buya mendapat beberapa undangan dari Dubes RI ke beberapa negara tetangga, seperti Mesir, Suriah, dan Irak.


Wanita Hebat di Belakang Buya.



Related image
Source
Adalah Hj. Siti Raham bin Rasul St. Rajo Endah yang menjadi faktor kesuksesan dari seorang Buya Hamka. Beliau akrab disapa Ummi oleh Buya dan juga anak-anaknya. Ummi adalah sosok wanita hebat yang turut andil dalam perjalanan hidup Buya Hamka. Kebaikan hati yang terpancar dari perilaku beliau tak jauh berbeda dengan kebaikan yang dilakukan Buya terhadap sesama.

Salah satu akhlakul karimah Ummi adalah kecintaan beliau terhadap jalinan silahturahim. Beliau selalu mencatat nama nama saudara yang ingin dikunjungi ketika hari raya tiba. Sebelum mereka memiliki mobil sendiri, mereka mengunjungi sanak keluarga tersebut menggunakan angkutan umum.


Kisah Romantis Antara Buya dan Ummi



Source
Source
Ada satu kisah antara Buya dan Ummi yang menurut saya lebih romantis dibanding kisah Habibie Ainun. 

Ketika Ummi telah berpulang ke Rahmatullah, Buya adalah salah satu orang yang merasa kehilangan Ummi, sosok yang telah menemani Buya hingga lebih dari 50 tahun lamanya. Sanak keluarga dan tetangga datang silih berganti untuk menyampaikan belasungkawa. Ketika suasana sudah mulai tenang, Buya kembali menjalankan aktivitas seperti biasa. 


Ketika sedang sendiri, Buya selalu bersenandung dengan senandung Kaba. Biasanya, setelah bersenandung, Buya langsung mengambil air wudhu dan lekas sholat. Selesai sholat, Buya melanjutkan membaca Al-Quran sampai beliau mengantuk. Buya bisa menghabiskan waktu 5-6 jam dalam satu hari untuk membaca Al-Quran


Ketika Irfan bertanya, "Mengapa ayah begitu kuat dalam membaca Al-Quran?"


Buya menjawab, "Ayah dan Ummi telah berpuluh tahun hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah untuk melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila ayah rindu dan ingat pada Ummi, ayah akan mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan itu terlalu kuat, ayah akan segera mengambil air wudhu dan sholat taubat 2 rakaat. Kemudian ayah lanjutkan dengan mengaji. Ayah berupaya mengalihkan dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah."


"Lalu mengapa Ayah harus melakukan Sholat Taubat?"


"Ayah takut kecintaan Ayah pada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah sholat Taubat terlebih dahulu."


Subhanallah. Sungguh tidak ada yang lebih indah daripada mencintai karena Allah semata.


Hasil Karya Buya Hamka



Image result for Buya hamka karya
Source


Image result for Buya hamka karya
Source
Pernah menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck? Nah, film tersebut diadaptasi dari sebuah karya yang ditulis oleh Buya Hamka. Selain itu, karya Buya Hamka lain yang fenomenal adalah Tafsir Al-Azhar 30 Juz. Beliau menulis tafsir tersebut ketika menjalani masa tahanan di penjara akibat tuduhan fitnah dari Ir. Soekarno.


Image result for Buya hamka tafsir
Source


Beberapa karya Buya yang lainnya; Di Bawah Lindungan Ka'bah, Falsafah Hidup, Tasawuf Modern, Merantau ke Deli, Kenang-kenangan Hidup Jilid I,II dan III.

Pada tanggal 8 November 2011, Buya Hamka adalah salah satu orang yang diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintahan Indonesia karena pengorbanan dan dedikasinya terhadap Bangsa Indonesia.


Jiwa Pemaaf dari Seorang Buya Hamka

Salah satu bab kisah mengenai Buya Hamka yang menjadi favorit saya adalah ketika tiba cerita bagaimana Buya berdamai dengan tiga tokoh di Indonesia yang pernah menyakiti beliau.

Buya Hamka dan Soekarno



Image result for buya hamka dan soekarno
source
Tahun 1964-1966, selama 2 tahun 4 bulan, Buya Hamka ditahan atas perintah Presiden Soekarno. Buya dituduh melanggar UU Anti Subsversif Pempres No. 11 yaitu merencanakan pembunuhan Presiden Soekarno. Bahkan, buku buku karangan Buya pun dilarang terbit dan beredar. Buya baru dibebaskan kembali ketika  rezim Soekarno digantikan oleh rezim Soeharto.

Ketika tanggal 16 Juni 1970, seorang ajudan Presiden Soeharto mengunjungi rumah Buya dengan membawa satu amanat penting yaitu pesan terakhir dari Soekarno. Soekarno ingin ketika ia meninggal, Buya Hamka yang menjadi imam sholatnya.

Tanpa berpikir panjang, Buya langsung mengiyakan dan mantap menjadi Imam Sholat Jenazah Soekarno, seorang presiden yang dulu telah mencebloskan Buya ke dalam penjara. Buya dengan ikhlas melakukannya. Subhanallah.

Ketika ditanya, "Apakah Buya dendam terhadap Soekarno?"

Buya menjawab, "Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, Soekarno tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik. Saya tidak pernah dendam kepada orang yang menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama 2 tahun 4 bulan saya ditahan, saya merasakan itu sebuah anugerah dari Allah karena saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al-Quran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, saya tidak mungkin ada waktu untuk mengerjakannya."


Masya Allah... Sungguh Buya Hamka adalah sosok yang pemaaf dan berjiwa besar.


Buya Hamka dan Moh. Yamin.



Related image
source
Tahun 1955-1957, Buya Hamka cukup aktif sebagai anggota Konstituante dari fraksi dari Partai Masyumi  dalam merumuskan sidang Dasar Negara Republik Indonesia. Saat itu, ada dua opsi sebagai Dasar Negara;


  1. UUD 1945 dan Pancasila sebagai Dasar Negara (dipilih oleh PNI/Partai Nasional Indonesia)
  2. UUD 1945 dan Dasar Negara Berdasarkan Islam (dipilih oleh Partai Masyumi)
Dalam suatu persidangan, Buya Hamka berkata, "Jika kita mengambil Pancasila sebagai Dasar Negara, maka sama saja kita menuju jalan ke neraka!"

Moh. Yamin yang berasal dari fraksi PNI sangat marah mendengar perkataan Buya Hamka saat itu. Tidak hanya marah besar, Moh. Yamin juga sangat membenci Buya walaupun mereka sama sama berasal dari Sumatera Barat. 


Hingga pada 1962, Buya mendengar kabar bahwa Moh. Yamin jatuh sakit dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat.


Suatu hari, Chaerul Saleh, Menteri di Kabinet Soekarno saat itu berkunjung dan membawa pesan dari Moh. Yamin untuk Buya. Moh. Yamin mengatakan bahwa ia ingin Buya dapat mendamping ia saat menjelang ajal hingga ke liang lahat. Selain itu, Moh. Yamin ingin dikuburkan di kampung halamannya."


Dengan kelapangan hati, Buya bersegera memenuhi permintaan Moh. Yamin, orang yang dulu sangat membencinya karena perbedaan pendapat. Subhanallah.


Buya dan Pramoedya Ananta Toer



Image result for buya hamka dan yamin
Source
Satu lagi kisah Buya berdamai dengan salah satu tokoh di Indonesia. Kali ini adalah Pramoedya Ananta Toer.

Awal mula konflik dipicu ketika Pramoedya menuduh Buya kalau karya beliau yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck adalah hasil jiplakan dari pengarang Alfonso Care, seorang pujangga asal Prancis.


Berbulan-bulan lamanya, Buya Hamka mendapatkan hujatan dan fitnah tuduhan dari Pramoedya Ananta Toer terkait tulisannya, bahkan sampai menyerang pribadi. Hal itu baru berhenti ketika peristiwa pemberontakan oleh PKI. Tak lama dari itu, Pramoedya Ananta Toer ditahan di Pulau Buru.


Suatu hari, Buya kedatangan sepasang tamu. Wanita dari kaum pribumi, sedangkan laki lakinya adalah keturunan China. Diketahui nama perempuan itu adalah Astuti, sedangkan laki lakinya bernama Daniel. Buya cukup terkejut karena Astuti ternyata anak sulung dari Pramoedya Ananta Toer.


Astuti berkata bahwa ayahnya menyetujui hubungan itu jika Daniel menjadi muallaf. Dan ayahnya menyuruh Astuti untuk menemui Buya Hamka dengan maksud meminta Buya untuk membimbing Daniel menjadi muallaf. Masya Allah... Bahkan, Buya tidak pernah menceritakan apa yang telah dilakukan Pram terhadap beliau kepada Astuti. Buya melakukannya seperti tidak ada apa-apa diantara mereka.


Dari ketiga kisah tersebut, jelaslah bagi kita bahwa Buya Hamka memang memiliki jiwa yang besar dan juga pemaaf. Subhanallah



Dokumentasi Pribadi

Buya dan Kucing Kuning

source
source
Pernah mendengar kisah Hachiko? Seorang anjing yang sangat setia pada pemiliknya hingga pemiliknya meninggal. Buya pun juga memiliki hewan peliharaan seperti Hachiko.

Hewan itu adalah kucing berwarna kuning yang diambil Buya ketika kucing tersebut masih anak-anak. Buya dengan senang hati merawat kucing kecil tersebut hingga akhir hayatnya. Buya senang memberinya makan berupa susu putih.

Setiap Buya sholat di masjid, si Kuning dengan setia menunggui Buya di luar masjid. Ketika pergi atau pulang, si Kuning selalu berjalan beriringan dengan Buya. Ketika Buya diharuskan istirahat di rumah selama tiga bulan akibat tergelincir, si Kuning dengan setia selalu menemani Buya.

Ketika Buya meninggal, si Kuning tidak terlihat lagi. Beberapa warga mengaku melihat si Kuning berada di pusaran kubur Buya. Masya Allah.

Segi Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam buku ini cukup ringan dan mudah dipahami. Ukuran font huruf yang tidak terlalu kecil menjadikan buku ini nyaman untuk dibaca. Terutama untuk kisah perjalanan Buya ketika berada di Tanah Suci Makkah. Kita seakan-akan turut mengalami langsung kejadian tersebut.

Alur Cerita

Sayangnya, penulis tidak menggunakan alur yang cukup runut dalam buku ini. Terlihat dari beberapa cerita yang melompat-lompat dan tidak sesuai dengan kronologis kejadian. Ada beberapa kejadian yang telah diceritakan pada bab sebelumnya, tapi kembali lagi diceritakan pada bab selanjutnya.

Review

Overall, saya suka sekali dengan buku ini! Rasanya, buku ini akan masuk dalam jajaran list buku favorit saya sepanjang masa. 


Saya beri bintang 4/5 untuk Buku Ayah... karangan dari Irfan Hamka ini.

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

4 comments