Mendengar berita tentang kebijakan pemerintah akhir akhir ini membuatku muak. Bukan cuma aku, tapi hampir semua masyarakat di negeri ini turut merasakannya. Bukan semata mata karena isinya yang merugikan rakyat, tapi juga karena kesan bahwa suara kita tidak sepenting itu di mata pemerintah. Bukannya mendengar dan memberikan solusi, mereka malah melakukan banyak hal dan melahirkan kebijakan yang nirempati. Hingga akhirnya peristiwa demonstrasi tidak dapat dihindari.
Adanya aksi demonstrasi ini membuat hatiku berdesir. Bukan aksi demonstrasinya yang aku khawatirkan, melainkan respon pemerintah yang ZONK. Alih alih mendengarkan, mereka memilih untuk bungkam dan lari. Alih alih introspeksi, mereka justru melawan. Marah, kecewa, sedih, takut, bingung… semuanya bercampur menjadi satu. Di tengah situasi yang genting ini, rasanya agak sulit membayangkan adanya harapan akan masa depan yang layak.
Aku bisa memahami akan terjadinya rentetan peristiwa demonstrasi seperti yang sudah berlangsung di Jakarta, Bandung, dan kota kota lain. Bagaimana tidak, di tengah tantangan ekonomi yang sedang sulit, pemerintah dan DPR terlihat seperti tidak berempati dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Mereka malah membuat banyak kebijakan yang hanya menguntungkan mereka secara pribadi. Seperti menaikkan tunjangan dan penghasilan DPR dengan seenaknya. Tunjangan perumahan baru sebesar 50 juta yang bernilai sepuluh kali lipat dari upah minimum DKI Jakarta, tunjangan membeli beras hingga 12 juta, serta tunjangan tunjangan lain dengan nilai fantastis.
Gaji pemerintah dan anggota DPR yang nilainya sangat fantastis dan mencerminkan kesenjangan sosial yang tinggi itu bersumber dari pajak rakyat. Ironisnya, di saat mereka hidup dengan segala fasilitas dan tunjangan fantastis, kita sebagai rakyat harus memutar otak hanya demi bertahan hidup sampai besok hari. Lebih menyakitkan lagi, dengan penghasilan sebesar itu masih sedikit sekali dampak nyata yang benar benar dirasakan oleh masyarakat negeri ini.
Harga kebutuhan pokok terus melambung tinggi, lapangan kerja kian menyempit, sementara kebijakan yang lahir seolah tidak memihak pada buruh dan rakyat kecil. Bagaimana mungkin kita diminta bertahan hidup dengan kondisi seperti sekarang ini sedangkan para pemangku jabatan hidup dengan fasilitas yang serba mewah dan bersumber dari uang pajak yang kita setor setiap bulan? Aku sendiri tidak heran dengan berita kenaikan ini karena sebenarnya salah satu janji kampanye adalah menaikkan penghasilan para pejabat, bukan? Ironis...
Belum lagi cibiran dan perkataan yang nirempati keluar dari mulut mereka. Kata kata kasar seperti “tolol” terdengar dari orang yang seharusnya beradab dan berpendidikan. Seperti tidak pernah diajarkan bagaimana cara berkomunikasi di depan publik.
Melihat mahasiswa, buruh, bahkan pelajar untuk menuntut keadilan, hatiku campur aduk antara frustrasi, bingung, sedih, dan takut. Namun, apa responnya? Bukan dialog, bukan solusi, tapi TINDAKAN REPRESIF. Gas air mata yang seharusnya digunakan untuk situasi darurat kini menjadi jawaban rutin atas suara masyarakat. Gas air mata yang disemprotkan oleh aparat bersebaran dimana mana bahkan sampai mengenai masyarakat sipil yang sedang mencari nafkah dan tidak terlibat demonstrasi. Sampai kapan suara rakyat dianggap angin lalu? Sampai kapan keselamatan dan martabat manusia dikorbankan demi menjaga citra penguasa?
Tragedi Alm. Affan Kurniawan adalah bukti bahwa nyawa rakyat seringkali dianggap tidak lebih berharga daripada gengsi kekuasaan. Ironisnya, mereka yang berseragam seharusnya melindungi bukan malah melukai. Tapi di negeri ini siapa yang masih percaya bahwa aparat dan pemerintah benar benar ada untuk rakyat?
Ironisnya lagi, ketika masyarakat turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi dan menjalankan hak demokrasi, para pemangku kekuasaan malah memilih bersembunyi di balik layar laptop dengan kebijakan Work From Home, seakan akan tuntutan rakyat hanyalah bising semata dan bukan hal penting yang harus mereka dengar serta beri solusi. Mereka mengatakan negeri ini adalah negeri yang demokratis, tapi pada kenyataannya mereka takut ketika masyarakat benar benar menggunakan hak demokrasinya.
Mereka kerap berkoar tentang transparansi dan keterbukaan. Tapi setiap kebijakan yang mereka buat, selalu lahir di ruang tertutup yang tidak bisa dijangkau masyarakat. Mereka bicara tentang pengorbanan padahal tidak pernah merasakan satu hari pun harus hidup dengan gaji UMR atau bahkan di bawah UMR! Mereka sibuk menyiapkan strategi komunikasi bukan solusi. Mereka pandai memainkan kata kata tapi gagap saat dituntut untuk mendengarkan dan ditanya tindakan nyatanya.
Berulang kali, setiap ada masa saksi, pemerintah seakan akan mengadu domba antara masyarakat sipil dan pihak aparat. Lalu ketika terjadi insiden yang tidak diinginkan, mereka dengan mudahnya berlindung di balik kata maaf dan merasa tidak bersalah sama sekali! Perkataan maaf yang keluar bukan karena mereka murni mengaku bersalah, melainkan karena formalitas belaka demi menjaga citra serta kursi kekuasaan.
Belum lagi adanya provokator dan 'segelintir manusia' yang hadir dan seakan akan bertindak sebagai pelaku demonstrasi. Membakar fasilitas umum hanya di malam hari dan berbuat anarkis. Hei, kenapa tidak kau lakukan di siang hari? Apakah kau takut identitasmu sebagai provokator terbongkar? Dengan membakar fasilitas umum, bisa dijadikan narasi oleh pemerintah untuk mengecap bahwa pelaku demostran bertindak anarkis, bukan? Sebuah alibi yang manis. Kau dibayar berapa untuk melakukan hal ini?
Tapi..
Dibalik semua rentetan kejadian ini, aku juga memikirkan banyak hal tentang masa depan. Di usia dua puluh enam ini, masih banyak hal yang ingin aku pelajari, masih haus akan pengalaman, dan masih punya banyak mimpi yang ingin dikejar. Perjalanan karirku masih panjang. Aku masih ingin belajar banyak tentang dunia marketing dan data. Aku masih ingin belajar dan punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Tapi di tengah kondisi seperti sekarang ini, rasanya bertahan hidup saja sudah menjadi pencapaian terbaik. Fokus awal yang ingin mengejar banyak mimpi, perlahan berubah menjadi fokus untuk sekadar bertahan hidup.
Apakah mimpi mimpi itu masih relevan? Apakah kita benar benar punya kesempatan untuk mewujudkannya ketika situasi negara seperti ini? Atau justru kita harus menyesuaikan diri dengan realita, mengurangi mimpi, dan hanya fokus pada hal hal yang bisa dikendalikan?
Aku jadi teringat dengan kata kata dari atasanku. Beliau berkata, "Tidak semua krisis itu membawa dampak negatif, beberapa diantaranya bisa membawa kita ke ide ide baru yang bisa memberi dampak positif."
Aku mencoba untuk tetap optimis seperti yang beliau katakan. Aku berusaha percaya bahwa kondisi yang sulit ini bisa melahirkan ide ide baru dan peluang yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi jujur saja, tidak semua orang punya privilege untuk sekadar 'berinovasi'. Banyak dari kita yang hanya fokus mencari cara agar besok masih bisa makan agar bisa membayar kebutuhan pokok. Rasanya sulit memikirkan mimpi besar ketika realita tidak seindah laporan statistik pemerintah. Kondisi negara yang tidak stabil membuat banyak dari kita, khususnya aku sendiir, mulai menurunkan banyak ekspektasi. Bukan karena tidak mampu, tapi karena realita yang memaksa begitu.
Sebagai rakyat, aku merasa tidak mendapatkan jaminan rasa aman dari negara. Bagaimana kami bisa berpikir kreatif di tengah krisis ketika kebutuhan dasar saja makin sulit terpenuhi? Rasanya seperti berjuang sendiri sementara mereka yang punya kekuasaan sibuk dengan kepentingan pribadi.
Bukan berarti ingin dimanja atau selalu diberi bantuan ya. Justru sebaliknya, aku tidak setuju dengan pola pemerintah yang selalu mengandalkan bantuan sebagai solusi, seperti bansos misalnya. Bukannya memperkuat fondasi survival skill dan membangun sistem yang berkelanjutan, mereka memilih jalan pintas yang hanya menyelesaikan masalah untuk sesaat. Bantuan itu mungkin meringankan tapi kan tidak memberdayakan dan memiliki efek jangka panjang. Aku yakin kita semua sangat membutuhkan kebijakan yang membuat kita sebagai rakyat merasa lebih kuat dan aman, bukan malah jadinya ketergantungan.
Aku sering membayangkan bagaimana rasanya hidup di negara yang benar benar berpihak pada masyarakatnya? Mungkin kami bisa fokus berkarya, belajar, dan meraih mimpi tanpa harus cemas apakah besok harga kebutuhan pokok melonjak lagi atau apakah gajiku cukup untuk sekadar membayar kos dan juga makan. Namun pada realitanya, aku merasa harus selalu memasang mode survival. Tidak ada kepastian dan juga jaminan. Sejujurnya, aku mulai lelah melihat berita yang hanya berbicara soal angka pertumbuhan ekonomi sementara faktanya, banyak masyarakat bahkan aku sendiri masih berkutat dengan realita yang pahit: kesenjangan sosial yang makin tinggi.
Jika negara seharusnya hadir untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya, maka di mana mereka saat ini? Mungkinkah mereka BUTA dan TULI sebab memilih untuk tidak melihat dan juga mendengarkan?
PS.
Untuk rekan rekan yang terlibat aksi demonstrasi, semoga Tuhan senantiasa melindungi. Jaga barisan jangan sampai ada provokator yang menyusup dan membuat ricuh. Fokus kepada tuntutan awal dan jangan sampai terpecah belah, apalagi termakan isu SARA. Yang harus dilawan adalah pemerintah yang keji, bukan sesama kita sebagai masyarakat. Semoga Tuhan selalu melindungi. Semoga tidak ada aksi yang ditunggangi oleh kepentingan elite politik.
0 Comments:
Posting Komentar