Menolak Lupa Tragedi Banyuwangi 1998 dalam Novel Perempuan Bersampur Merah - Intan Andaru [REVIEW BUKU]

Mei 26, 2019

Judul : Perempuan Bersampur Merah
Penulis : Intan Andaru
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 216 halaman
ISBN : 9786020621951
Cetakan ke-1, 7 Januari 2019
Rate: 3.8/5



BLURB
Tragedi tahun 1998 tidak akan pernah hilang dari ingatan Sari. Tak hanya kehilangan bapak yang tertuduh sebagai dukun santet, Sari juga kehilangan paman sekeluarga—yang seketika pergi meninggalkan kampung lantaran mendapat stigma.

Untuk mencari jawaban atas kematian bapaknya, Sari menuliskan daftar nama orang yang ikut mengarak pembantaian bapaknya pada selembar kertas. Karena mengharapkan bantuan, ia bagikan kertas tersebut kepada dua sahabatnya, Rama dan Ahmad.

Pencarian itu rupanya tidak hanya membawa Sari bergabung dalam sanggar tari gandrung yang penuh rahasia, tetapi juga mengubah persahabatan Sari-Rama-Ahmad menjadi kisah cinta yang rumit. Cinta yang akhirnya menuntun mereka bertiga kembali pada tragedi di tahun kelam itu.



*****

Kisah yang Terjadi
Kisah bermula ketika tokoh utama bernama Ayu memiliki seorang bapak dengan pekerjaan sebagai dukun suwuk (pengobat/penyembuh). Banyak orang yang bermain ke rumah Ayu dengan tujuan meminta si bapak untuk membantu kerabat/teman/anak mereka yang sedang sakit.

Namun, beberapa waktu kemudian beredar kabar tak enak di desa mereka. Para warga mengatakan banyak ninja berkeliaran yang ingin menangkap dan membunuh orang orang terduga dukun santet termasuk bapak Ayu yang telah diincar. Hingga akhirnya, kabar itu menjadi kenyataan dan bapak Ayu menjadi korban atas peristiwa tersebut.

Di kemudian hari, Ayu mengubah namanya menjadi Sari. Sari memiliki teman akrab bernama Ahmad dan Rama. Sari mengajak mereka berdua untuk mengusut kasus pembantaian bapaknya dengan menuliskan nama nama yang diduga menjadi dalang dari peristiwa tersebut. Namun akhirnya hanya Ahmad yang setia menemani Sari untuk mengusut kasus tersebut. Rama memilih mundur karena ayahnya melarang ia bergaul dengan Sari.

Petualangannya dalam mengusut kasus tersebut membawanya untuk mengenal sebuah tarian bernama Tari Gandrung. Sari lalu berkenalan dengan Mak Rebyak juga Mbak Nena. Dari Mbak Nena inilah, Sari memperoleh sampur berwarna merah. Kiprah Sari cukup baik dalam dunia tari.

Selain tragedi pembantaian saat itu, buku ini juga mengisahkan tentang kisah cinta yang terdengar klise tapi memiliki jiwa romansanya sendiri. Kisah yang terjadi antara Sari - Ahmad - Rama. Ahmad menyukai Sari. Tetapi, Sari lebih menyukai Rama dibanding Ahmad. Sayangnya, keluarga dan orang tua Rama tidak merestui hubungan mereka dikarenakan latar belakang yang dimiliki oleh Sari sebagai anak dari seorang dukun.

Tragedi Kelam Banyuwangi


Berkas:Santet2.jpg
Source
Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar tahun 1998? Krisis moneter? Tragedi Trisakti? Kerusuhan warga? Orde reformasi?

Tahun 1998 memang memiliki memori tersendiri bagi warga Indonesia dimana pada tahun itulah puncak dari pemerintahan rezim Soeharto berdiri dan merupakan awal mula dari kebangkitan reformasi. Tapi ternyata, selain peristiwa tersebut, juga terdapat peristiwa lain yang tidak kalah mengejutkan dan mungkin banyak yang belum mengetahuinya.

Adalah Tragedi Pembantaian di Banyuwangi yang menjadi salah satu peristiwa bersejarah di tahun 1998 dan merupakan topik yang dibahas dalam novel ini. Puncak pembantaiannya adalah pada tahun 1998 dimana orang orang yang dituduh menjadi dukun santet akan dibunuh. Rentetan peristiwa lain bermunculan seperti munculnya teror menyerupai ninja yang membantai para penduduk dengan ganas, pembunuhan guru guru ngaji, aktivis HAM hingga tari gandrung yang menjadi salah satu kebudayaan Banyuwangi.

Menyedihkan. Hingga saat ini motif dibalik pembantaian tersebut belum diketahui secara pasti. Dari beberapa data diketahui bahwa orang orang yang dibunuh tidak semuanya melakukan praktik santet. Diantara korban tersebut ada guru ngaji, dukun suwuk (pengobat), hingga ketua RT/RW.

Salah satu yang menjadi sasaran adalah suku Using, suku terbanyak di daerah Banyuwangi. Suku Using ini adalah suku asli daerah Banyuwangi. Mereka memiliki keyakinan bahwa ada 4 jenis ilmu ghaib. Salah satunya adalah ilmu putih (untuk penyembuhan) dan ilmu merah (ilmu santet).


***

Novel ini adalah novel perdana dari Intan Andaru yang saya baca melalui aplikasi iPusnas. Bagi saya, novel ini bagus dan informatif karena mengambil sisi sejarah sebagai alur ceritanya. Saya yang sering ketiduran ketika pelajaran sejarah SMA dulu setidaknya bisa memahami secuil peristiwa sejarah pada saat itu. Hehe

Namun, menurut saya novel ini kurang mendetail. Beberapa adegan hanya diperlihatkan sekilas saja. Dan juga cerita mengenai tarian gandrung tidak terlalu banyak. Ending cerita juga cukup menggantung dan tidak terlalu membuat saya berteriak Wah ketika membacanya. Hanya yang membuat saya tertarik membaca buku ini karena mengambil katar belakang sejarah mengenai tragedi Banyuwangi yang tidak banyak dibahas oleh orang.

Overall, novel ini menjelma bak media untuk mengingatkan kembali kepada kita dan para pejabat berwenang bahwa ada pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia dan sampai saat ini masih belum dapat diusut tuntas. Kebenaran dan dalang dari peristiwa tersebut harus segera ditemukan mengingat banyaknya korban tak bersalah dalam peristiwa itu. Jumlah warga yang menjadi korban versi Pemkab adalah 115 orang dan menurut versi TPF NU adalah 147 orang. Jumlah yang sangat banyak untuk ukuran pembantaian manusia secara sewenang-wenang.

Wikipedia

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

7 comments

  1. Sebagai orang Banyuwangi saya mengalami sendiri tragedi ini. Tiap malam di dera ketakutan. Dari dukun santet berubah jadi para kyai yang jadi korban. 😭😭😭 .. seraaam.. meski belum membaca bukunya, saya bisa merasakan auranya. Masih terngiang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya yang bacanya aja ngeri apalagi mbak yang mengalami langsung yah :'(

      Hapus
  2. keren nih neng
    buku barukah di gramed?

    BalasHapus
  3. Novel ini kelihatannya menarik Kak...
    Aku jadi penasaran sih...
    Apalagi aku suka baca-baca buku sejenis gini karena membuatku tahu daerah-daerah di Indonesia yang pernah mengalami kejadian-kejadian yang begini.

    Btw, link review-nya langsung aku kirim ke temenku yang asli Banyuwangi dan suka baca novel gini juga.
    Siapa tahu dia belum tahu novel ini.

    Terima kasih Kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaahh, terima kasih juga yaa kak ^^ hehe semoga temennya bisa ikut berbagi nih tentang apa yang pernah terjadi di Banyuwangi dulu

      Hapus
  4. Halo.. makasih banyak review review bukunya. Tadi udah baca beberapa review yang kakak tulis. Lanjutkan ya kak. Aku menunggu review buku buku terbaru yang oke. :))

    BalasHapus