Laut Bercerita - Leila S. Chudori [REVIEW BUKU]

Desember 26, 2018

"Aku ingat pembicaraanku dengan sang penyair. Dia berkata bahwa dia tidak takut pada gelap. Karena dalam hidup, ada terang dan ada gelap. Ada perempuan dan ada lelaki. Gelap adalah bagian dari alam. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, satu titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi” 
–Sang Penyair-






Judul : Laut Bercerita

Penulis : Leila S. Chudori
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tebal Buku : 379 hlm
ISBN : 978 - 602 - 424 - 694 - 5

Sinopsis

Jakarta, Maret 1998
Di sebuah senja, di sebuah rumah susun di Jakarta, mahasiswa bernama Biru Laut disergap empat lelaki tak dikenal. Bersama kawan-kawannya, Daniel Tumbuan, Sunu Dyantoro, Alex Perazon, dia dibawa ke sebuah tempat yang tak dikenal. Berbulan-bulan mereka disekap, diinterogasi, dipukul, ditendang, digantung, dan disetrum agar bersedia menjawab satu pertanyaan penting: siapakah yang berdiri di balik gerakan aktivis dan mahasiswa saat itu.

Jakarta, Juni 1998
Keluarga Arya Wibisono, seperti biasa, pada hari Minggu sore memasak bersama, menyediakan makanan kesukaan Biru Laut. Sang ayah akan meletakkan satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang ibu, satu piring untuk Biru Laut, dan satu piring untuk si bungsu Asmara Jati. Mereka duduk menanti dan menanti. Tapi Biru Laut tak kunjung muncul.

Jakarta, 2000
Asmara Jati, adik Biru Laut, beserta Tim Komisi Orang Hilang yang dipimpin Aswin Pradana mencoba mencari jejak mereka yang hilang serta merekam dan mempelajari testimoni mereka yang kembali. Anjani, kekasih Laut, para orangtua dan istri aktivis yang hilang menuntut kejelasan tentang anggota keluarga mereka. Sementara Biru Laut, dari dasar laut yang sunyi bercerita kepada kita, kepada dunia tentang apa yang terjadi pada dirinya dan kawan-kawannya.


Ikhtisar

Laut bercerita mengisahkan tentang tindak kekejaman dan kebiadaban yang dialami oleh para aktivis mahasiswa pada masa orde baru. Bukan hanya itu, laut bercerita juga mengingatkan kita kembali akan hilangnya 13 aktivis yang hingga saat ini belum juga menemukan titik terangnya.

Kisah pada novel ini dibagi menjadi dua bagian dalam rentang waktu yang berbeda. Bagian pertama berisikan kisah dan narasi berdasarkan kejadian yang dialami Biru Laut dan rekan rekan sesama aktivis dalamenuntaskan visi mereka.


Pada bagian pertama, kita akan disuguhkan narasi yang disuarakan oleh Biru Laut dan sang penyair. Matilah kau, dan kau akan hidup berkali kali adalah syair pembuka novel ini. Lalu, narasi ini juga berisikan tentang ikhtisar kejadian tentang penyekapan, kekejaman dan kebiadaban yang dilakukan oleh sekelompok manusia terhadap Biru Laut dan teman temannya. Tiap bab baru dimulai, selalu diawali dengan narasi dan cerita bagaimana Laut dan kawan kawan disekap serta disiksa.




Alur kembali mundur beberapa tahun sebelum peristiwa itu terjadi. 


Laut merupakan mahasiswa jurusan sastra inggris di Yogyakarta tepatnya di Universitas Gadjah Mada. Laut sangat menyukai dunia sastra. Ia memiliki banyak buku sastra klasik baik dalam bahasa indonesia maupun dalam bahasa inggris. Laut juga suka membaca buku buku karangan Pramoedya Ananta Toer yang pada saat itu dilarang beredar di Indonesia. Laut memutuskan untuk memfotokopi buku tersebut secara diam diam di suatu tempat yang dijuluki fotokopi terlarang. Dari sanalah ia bertemu dengan Kinan, mahasiswi FISIP yang mengenalkan Laut pada organisasi Winatra dan Wirasena.

Sejak bergabung dengan Winatra, Laut semakin menyukai kegiatan diskusi buku yang ia lakukan bersama teman-temannya. Tidak hanya buku, tapi juga konsep pergerakan apa yang akan mereka lakukan untuk melawan doktrin pemerintah di negara yang hanya dipimpin satu presiden lebih dari 30 tahun ini.

Selain sibuk dengan diskusi kepemudaan di Winatra, laut juga sangat suka menulis. Ia sering menumpahkan pemikirannya yang disajikan dalam bentuk tulisan. Kemudan ia kirimkan tulisan tersebut agar dapat dimuat di media cetak seperti koran. Ia juga sesekali bekerja sebagai translator, menerjemahkan novel novel berbahasa inggris ke bahasa indonesia.


Dikisahkan dalam novel ini, Laut dan kawan kawan melakukan beberapa aksi untuk membela rakyat yang dirampas haknya oleh pemerintah. Salah satunya adalah Aksi Tanam Jagung  Blangguan. 


Namun, jauh sebelum aksi tersebut, mereka melakukan sebuah diskusi yang dikenal dengan diskusi kwangju. Itu awal dari Laut dan kawan kawan mengenal arti pengkhianatan. Diskusi kwangju yang seharusnya dapat berjalan lancar, malah terganggu akibat adanya intel yang mendatangi basecamp mereka. Tidak ada yang mengetahui siapa yang membocorkan kegiatan diskusi itu. Sebagian anggota Winatra mencurigai Naratama yang menjadi pengkhianat karena ia tidak pernah ada disaat penangkapan terjadi. Akan tetapi, ini baru hipotesis mereka saja.


Setelah melakukan aksi tanam jagung di Blangguan (Saya tidak bisa menyebutkan apakah aksi mereka berhasil atau tidak. Kalian baca saja dulu, hehe)mereka kembali ke terminal. Mereka berpencar, ada yang ke Yogyakarta dan ada yang ke pacet. Pada saat di ruang tunggu bus, ada sekelompok orang yang mengintai mereka. Mereka berhasil ditangkap (Laut, Alex dan Bram) sedangkan sisanya melarikan diri entah kemana.


Mereka dibawa ke suatu tempat seperti markas tentara. Disana mereka diinterogasi dan mendapat siksaan seperti dipukul, ditinjak bahkan disetrum. Pertanyaan mereka sama; siapa dalang dibalik aktivitas yang mereka lakukan.


Setelah dua hari satu malam, penyekapan dan penyiksaan itu berakhir. Laut, Alex dan Bram dibebaskan dan dikembalikan di terminal Bungurasih. Satu pernyataan yang saya suka dari Laut;



"Yang paling tak bisa kusangga adalah perasaan kemanusian yang kian lama terkelupas selapis demi selapis karena mereka memperlakukan kami seperti nyamuk nyamuk pengganggu." -laut- (hlm. 171)


That's right! Poin penting yang kedua setelah pengkhianatan dalam novel ini adalah mengenai kemanusiaan. Bagaimana bisa mereka memperilakukan manusia layaknya binatang yang tak beradab? 

Di terminal Burungasih, mereka dijemput oleh kedua kakak Anjani (Saya akan mengenalkan Anjani pada kalian di bagian penokohan). Mereka diboyong ke sebuah safehouse di daerah Pacet. Disana telah menunggu Daniel, Kinan, Anjani dan kawan kawan mereka yang lain.


Singkat cerita, pada tanggal 13 Maret 1998, Laut ditangkap oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Sejak mereka menjadi buron tahun 1996 karena organisasi Winatra dan Wirasena dinyatakan berbahaya bagi pemerintah, beberapa kawan kawan mereka hilang entah kemana. Sebelumnya, sudah ada Sunu, Mas Gala dan Narendra yang duluan menghilang. Dan kini, giliran Laut disusul oleh Daniel dan Alex.


Pada masa masa penculikan itu, mereka disekap dan mendapat siksaan yang sangat biadab. Sebut saja, mereka dipukuli, digantung dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah, disetrum, disiram air es, disuruh telentang di atas balok es yang dingin, dan berbagai penyiksaan keji lainnya. Jujur, pada bagian ini emosi saya benar benar bermain. Saya merasa kesal dan ingin marah terhadap orang yang telah melakukan tindak kekerasan itu! 



Image result for laut bercerita
source





(SPOILER ALERT)


Ada satu momen mengejutkan pada saat Laut akan disiksa menggunakan balok es. Ya, Laut bertemu dengan Gusti, salah satu temannya di Winatra yang sangat menyukai dunia fotografi. Ia memakai baju batik, celana hitam, lengkap dengan sepatu pantofel dan sangat rapi. Ia membidik kameranya beberapa kali untuk memfoto Laut ketika disiksa. Unexpected moment! Ternyata selama ini yang menjadi pengkhianat diantara mereka adalah Gusti, laki laki polos yang tidak pernah dicurigai keberadaannya. Dugaan awal mereka salah karena Naratama juga akhirnya ikut dicebloskan ke dalam penjara. 

Malang tak dapat dihindari. Laut, Julius, dan Dana dibawa keluar dari sel tempat mereka tinggal dan dibawa ke suatu tempat. Julius dan Dana dibawa dalam satu mobil sedangkan Laut dibawa oleh mobil lainnya. Sejak saat itu, semua kehidupan mereka dan orang orang di sekitar mereka berubah.


Pada bagian pertama, selain membahas kehidupan Laut dan kawan kawannya mengenai pergerakan yang akan mereka lakukan, bagian ini juga menyisipkan cerita antara Laut dan Keluarganya.


Ibunya sangat berbakat dalamemasak. Laut sangat menyukai masakan ibunya terutama tengkleng. Dilengkapi dengan aroma rempah rempah, membuat tengkleng itu semakin nikmat dirasakan. 


Berbeda dengan bapak. Bapak laut adalah seorang wartawan dan juga menyukai dunia sastra. Laut sering berdiskusi pada bapaknya mengenai kepenulisan dan juga buku buku sastra.


Sementara Asmara. adik yang paling sering dijahili oleh Laut. Meskipun begitu, laut sangat menyayangi adiknya. Salah satu kenangan masa kecil mereka yang selalu diingat oleh Laut adalah saat mereka sedang bermain petak umpet dan Asmara yang sedang bersaat itu. Ia mencari cari dimana Laut dan tak kunjung menemukannya. Ia menangis dan menemui ibunya lalu bilang bahwa Laut telah diculik. Ternyata, Laut sedang bersembunyi di rumah tetangga dan sedang membaca buku. Bagian ini tak hanya lucu, tapi juga filosofis. Coba buktikan langsung dengan baca bukunya deh, hehe.


Sejak Laut kuliah di Yogyakarta, mereka jadi jarang memiliki waktu berkumpul. Oleh karena itu, bapak menetapkan hari Minggu sebagai hari bersama untuk mereka, tidak boleh diganggu gugat. Ritual yang menarik biasa mereka lakukan adalah pada saat makan malam. Dimana, Laut dan Asmara membantu ibunya memasak sesekali bermain tebak resep. Ibunya kadang meminta Laut untuk mencicipi masakannya dan memintanya bumbu apa yang kurang. Bapak biasanya memutar lagu The Beattles dan Asmara menyiapkan perlengkapan makan. Terasa sekali kebahagiaan menyelimuti keluarga kecil itu.


Tak ketinggalan, novel ini juga sesekali menyelipkan cerita antara Laut dan aktivitas kuliahnya sebagai mahasiswa Sastra Inggris. Meskipun Laut sibuk akan kegiatan di Winatra, ia tak melupakan aktivitas kuliahnya. Ia masih membuat skripsi dan mampu menyelesaikannya, meski ia berpikir untuk menunda pengumpulan berkas skripsi itu.


Berlanjut pada bagian kedua.



Pada bagian kedua, giliran Asmara Jati yang bernarasi. Asmara, adik Laut yang memiliki visi berbeda dengan kakaknya. Ia lebih tertarik pada dunia sains daripada sastra atau dunia aktivis seperti Laut karena baginya semua itu bersifat abstrak, tidak pasti.

Bab awal pada bagian kedua diawali pada tahun 2000 tepat dua tahun Laut dan 13 kawan lainnya menghilang. Ada hal yang menyesakkan terjadi pada saat itu, yakni ketika mereka melakukan ritual makan malam bersama tiap hari minggu. Ibu memasak seperti biasa dan Bapak selalu mengambil piring sebanyak empat buah. Satu untuk dirinya, satu untuk ibu, satu lagi untuk Asmara, dan yang terakhir untuk Laut. Mereka masih berharap bahwa Laut masih hidup dan akan pulang ke rumah untuk makan malam bersama. Tapi, hasilnya tetap sama. Laut tidak pernah kembali.

Bapak dan Ibu Asmara belum dapat mengikhlaskan anaknya. Mereka masih terjebak masa lalu dan semua kenangan tentang Laut. (Apakah ini termasuk spoiler?)

Asmara bersama teman teman yang lain akhirnya membuka suatu lembaga khusus untuk menangani kasus orang yang dihilangkan secara paksa seperti kakaknya. Asmara bekerja sama dengan orang orang serta keluarga dari kawan kawan Laut yang masih belum bisa ditemukan hingga tahun itu. Dengan adanya lembaga ini, Asmara berharap kasus mengenai kakaknya tidak akan lekang dimakan zaman dan dapat diselesaikan oleh pemerintahan.

Hingga pada akhirnya, ia mendapat kabar bahwa ada penduduk di kepulauan seribu menemukan tulang belulang manusia. Sebagian dikubur dan sebagian lainnya diteliti oleh seorang dokter forensik. Asmara segera pergi bersama Alex dan Coki menuju kepulauan seribu untuk memastikan tulang apakah itu. Asmara tidak yakin itu adalah tulang belulang kakaknya. Namun, ia meyakini bahwa kakaknya tak akan kembali.


"Yang paling sulit adalah menghadapi ketidakpastian. Kami tidak merasa pasti tentang lokasi kami; kami tak merasa pasti apakah kami akan bisa bertemu dengan orangtua, kawan, dan keluarga kami, juga matahari; kami tak pasti apakah kami akan dilepas atau dibunuh; dan kami tidak tahu secara pasti apa yang sebetulnya mereka inginkan selain meneror dan membuat kami hancur..."


PENOKOHAN
Leila S. Chudori menuliskan beberapa tokoh dengan karakter yang khas di dalam novel ini. Jika kita telusuri lebih jauh, karakter dan tokoh dalam novel ini terasa nyata. Sebut saja sang penyair yang kerap disapa Mas Gala. Karakter sang penyair disini mirip sekali dengan karakter Widji Thukul, salah seorang aktivis yang hingga kini dinyatakan hilang.

Saya memaklumi jika karakter dalam novel ini memiliki banyak persamaan seperti kejadian asli. Leila S, Chudori menuliskan novel ini karena terinspirasi dari kisah nyata penculikan dan penyekapan yang terjadi pada tahun 1998. Leila S. Chudori mewawancarai secara langsung Nezar Patria, aktivis yang pernah diculik pada Maret 1998. Bisa dikatakan hampir sebagian besar kisah di novel ini berdasarkan kisah nyata.

Diawal saya membaca, saya kira yang akan menjadi pacar Laut adalah Kinan. Karena Kinan adalah sosok perempuan yang dekat dengan Laut. Tapi ternyata, yang menjadi kekasih Laut adalah Anjani. Anjani adalah wanita yang pintar membuat sketsa gambar dan memiliki tiga orang kakak laki laki yang begitu protektif padanya. Anjani adalah wanita pertama yang mampu meluluhkan hati Laut bahkan sejak awal mereka bertemu.

Lalu ada Sunu dan Alex. Mereka adalah kawan seperjuangan Laut sejak awal kuliah. Ada Bima yang berperan sebagai pemimpin gerakan mereka. Lalu ada Gusti, seorang laki laki yang suka dunia fotografi sama seperti Alex. Bedanya adalah Gusti selalu memotret menggunakan blitz, sedangkan Alex senang memotret dengan sudut pandang berbeda. 

Alex ini juga merupakan kekasih Asmara. Asmara telah jatuh cinta pada Alex bahkan saat pertama mereka bertemu (sama kejadiannya pada saat Laut bertemu Anjani). 

Kelebihan
1) Pemilihan tema dan setting berbeda dari yang lain.
Leila S. Chudori sangat tepat ketika memutuskan untuk memilih tema mengenai rasa kemanusiaan di era orde baru. Saya rasa, novel ini pantas untuk mendapatkan predikat novel dengan genre fiksi sejarah/historical fiction terbaik sepanjang masa. 

Sebenarnya, selain novel Laut Bercerita, Leila S. Chudori juga pernah menuliskan novel dengan konsep yang sama -historical fiction- berjudul PULANG. Bedanya, pada novel pulang mengambil setting pada kerusuhan yang terjadi pada tahun 1965.

2) Visualisasi yang terasa nyata.
Penggambaran karakter dan suasana begitu terasa nyata ketika kita membaca novel ini. Terutama, pada saat bagian penyiksaan yang dialami Laut dan kawan kawan. Saya sempat menunda membaca bagian itu karena penyiksaan yang dilakukan begitu kejam dan memilukan.

Satu lagi yang penting. Novel ini diangkat dari kisah nyata berdasarkan pengalaman para aktivis yang diculik pada Maret 1998 dan berhasil kembali (saat itu 13 aktivis hilang dan 9 kembali, persis seperti cerita yang ada pada novel ini)

3) Pengetahuan sejarah bertambah.
Tentu saja, hal pasti yang akan kita dapatkan setelah membaca novel ini adalah pengetahuan sejarah kita akan bertambah. Novel ini tidak hanya memuat sejarah Indonesia pada rezim orde baru saja, tapi novel ini juga memuat sejarah pergerakan menegakkan keadilan dan sistem demokratis yang ada di dunia. 

Sebut saja peristiwa EDSA yang ada di Filipina, peristiwa Madrez de Plaza de Mayo, Argentina, dan berbagai peristiwa lain sebagainya. Dijamin, pengetahuan kita akan sejarah akan bertambah. Hehe.

4) Pengingat diri untuk tidak melupakan sejarah dan mementingkan faktor kemanusiaan diatas segalanya.
Salah satu moral value dalam novel ini adalah bagaimana caranya kita untuk tetap dapat memperhatikan faktor kemanusiaan dalam segala aspek. Selain itu, novel ini kembali mengingatkan dan menegur kita bahwa masih ada tugas yang belum terselesaikan di negeri ini. Mereka, orang orang yang dihilangkan secara paksa, berhak untuk mendapatkan keadilan. Orang tua mereka juga berhak mengetahui dimana anak mereka berada.

Kekurangan
1) Alur maju mundur
Alur yang digunakan pada novel ini adalah maju mundur. Apabila kita tidak memahaminya, maka kita akan kebingungan mencari pokok cerita. Bahkan, sebelumembaca novel ini saya mencari revie-nya di good reads terlebih dahulu.

2) Terdapat bagian yang vulgar (18++)
Sangat disayangkan pada novel sebagus ini terdapat bagian yang sudah termasuk kategori 18++. Jika saja bagian ini tidak ada, novel ini dapat dijadikan bahan edukasi bagi remaja milleanials di Indonesia terutama untuk anak anak tingkat menengah dan atas. 

Saya sangat risih ketika membaca bagian ini dan berharap Leila S. Chudori tidak lagi menuliskan bagian ini ke dalam novelnya (semoga ya Mbak Leila, biar adikku juga bisa baca huft).

Kesimpulan

Overall, ceritanya keren dan beda dari yang lain! Aku kasih 4,8/5 untuk novel Laut Bercerita. Novel ini layak dibaca untuk usia 18 keatas. Jangan lupa, setelah membacanya, ajaklah teman teman yang lain untuk turut membacanya agar kisah mereka yang hilang dapat diketahui dan ditemykan.

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

0 comments