Sabtu, 30 Agustus 2025

Apa Masih Ada Masa Depan untuk Kita?

Mendengar berita tentang kebijakan pemerintah akhir akhir ini membuatku muak. Bukan cuma aku, tapi hampir semua masyarakat di negeri ini turut merasakannya. Bukan semata mata karena isinya yang merugikan rakyat, tapi juga karena kesan bahwa suara kita tidak sepenting itu di mata pemerintah. Bukannya mendengar dan memberikan solusi, mereka malah melakukan banyak hal dan melahirkan kebijakan yang nirempati. Hingga akhirnya peristiwa demonstrasi tidak dapat dihindari. 

Adanya aksi demonstrasi ini membuat hatiku berdesir. Bukan aksi demonstrasinya yang aku khawatirkan, melainkan respon pemerintah yang ZONK. Alih alih mendengarkan, mereka memilih untuk bungkam dan lari. Alih alih introspeksi, mereka justru melawan. Marah, kecewa, sedih, takut, bingung… semuanya bercampur menjadi satu. Di tengah situasi yang genting ini, rasanya agak sulit membayangkan adanya harapan akan masa depan yang layak.

Aku bisa memahami akan terjadinya rentetan peristiwa demonstrasi seperti yang sudah berlangsung di Jakarta, Bandung, dan kota kota lain. Bagaimana tidak, di tengah tantangan ekonomi yang sedang sulit, pemerintah dan DPR terlihat seperti tidak berempati dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Mereka malah membuat banyak kebijakan yang hanya menguntungkan mereka secara pribadi. Seperti menaikkan tunjangan dan penghasilan DPR dengan seenaknya. Tunjangan perumahan baru sebesar 50 juta yang bernilai sepuluh kali lipat dari upah minimum DKI Jakarta, tunjangan membeli beras hingga 12 juta, serta tunjangan tunjangan lain dengan nilai fantastis.

Gaji pemerintah dan anggota DPR yang nilainya sangat fantastis dan mencerminkan kesenjangan sosial yang tinggi itu bersumber dari pajak rakyat. Ironisnya, di saat mereka hidup dengan segala fasilitas dan tunjangan fantastis, kita sebagai rakyat harus memutar otak hanya demi bertahan hidup sampai besok hari. Lebih menyakitkan lagi, dengan penghasilan sebesar itu masih sedikit sekali dampak nyata yang benar benar dirasakan oleh masyarakat negeri ini. 

Harga kebutuhan pokok terus melambung tinggi, lapangan kerja kian menyempit, sementara kebijakan yang lahir seolah tidak memihak pada buruh dan rakyat kecil. Bagaimana mungkin kita diminta bertahan hidup dengan kondisi seperti sekarang ini sedangkan para pemangku jabatan hidup dengan fasilitas yang serba mewah dan bersumber dari uang pajak yang kita setor setiap bulan? Aku sendiri tidak heran dengan berita kenaikan ini karena sebenarnya salah satu janji kampanye adalah menaikkan penghasilan para pejabat, bukan? Ironis...

Belum lagi cibiran dan perkataan yang nirempati keluar dari mulut mereka. Kata kata kasar seperti “tolol” terdengar dari orang yang seharusnya beradab dan berpendidikan. Seperti tidak pernah diajarkan bagaimana cara berkomunikasi di depan publik. 

Melihat mahasiswa, buruh, bahkan pelajar untuk menuntut keadilan, hatiku campur aduk antara frustrasi, bingung, sedih, dan takut. Namun, apa responnya? Bukan dialog, bukan solusi, tapi TINDAKAN REPRESIF. Gas air mata yang seharusnya digunakan untuk situasi darurat kini menjadi jawaban rutin atas suara masyarakat. Gas air mata yang disemprotkan oleh aparat bersebaran dimana mana bahkan sampai mengenai masyarakat sipil yang sedang mencari nafkah dan tidak terlibat demonstrasi. Sampai kapan suara rakyat dianggap angin lalu? Sampai kapan keselamatan dan martabat manusia dikorbankan demi menjaga citra penguasa?

Tragedi Alm. Affan Kurniawan adalah bukti bahwa nyawa rakyat seringkali dianggap tidak lebih berharga daripada gengsi kekuasaan. Ironisnya, mereka yang berseragam seharusnya melindungi bukan malah melukai. Tapi di negeri ini siapa yang masih percaya bahwa aparat dan pemerintah benar benar ada untuk rakyat?

Ironisnya lagi, ketika masyarakat turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi dan menjalankan hak demokrasi, para pemangku kekuasaan malah memilih bersembunyi di balik layar laptop dengan kebijakan Work From Home, seakan akan tuntutan rakyat hanyalah bising semata dan bukan hal penting yang harus mereka dengar serta beri solusi. Mereka mengatakan negeri ini adalah negeri yang demokratis, tapi pada kenyataannya mereka takut ketika masyarakat benar benar menggunakan hak demokrasinya. 

Mereka kerap berkoar tentang transparansi dan keterbukaan. Tapi setiap kebijakan yang mereka buat, selalu lahir di ruang tertutup yang tidak bisa dijangkau masyarakat. Mereka bicara tentang pengorbanan padahal tidak pernah merasakan satu hari pun harus hidup dengan gaji UMR atau bahkan di bawah UMR! Mereka sibuk menyiapkan strategi komunikasi bukan solusi. Mereka pandai memainkan kata kata tapi gagap saat dituntut untuk mendengarkan dan ditanya tindakan nyatanya.

Berulang kali, setiap ada masa saksi, pemerintah seakan akan mengadu domba antara masyarakat sipil dan pihak aparat. Lalu ketika terjadi insiden yang tidak diinginkan, mereka dengan mudahnya berlindung di balik kata maaf dan merasa tidak bersalah sama sekali! Perkataan maaf yang keluar bukan karena mereka murni mengaku bersalah, melainkan karena formalitas belaka demi menjaga citra serta kursi kekuasaan. 

Belum lagi adanya provokator dan 'segelintir manusia' yang hadir dan seakan akan bertindak sebagai pelaku demonstrasi. Membakar fasilitas umum hanya di malam hari dan berbuat anarkis. Hei, kenapa tidak kau lakukan di siang hari? Apakah kau takut identitasmu sebagai provokator terbongkar? Dengan membakar fasilitas umum, bisa dijadikan narasi oleh pemerintah untuk mengecap bahwa pelaku demostran bertindak anarkis, bukan? Sebuah alibi yang manis. Kau dibayar berapa untuk melakukan hal ini?

Tapi..

Dibalik semua rentetan kejadian ini, aku juga memikirkan banyak hal tentang masa depan. Di usia dua puluh enam ini, masih banyak hal yang ingin aku pelajari, masih haus akan pengalaman, dan masih punya banyak mimpi yang ingin dikejar. Perjalanan karirku masih panjang. Aku masih ingin belajar banyak tentang dunia marketing dan data. Aku masih ingin belajar dan punya keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Tapi di tengah kondisi seperti sekarang ini, rasanya bertahan hidup saja sudah menjadi pencapaian terbaik. Fokus awal yang ingin mengejar banyak mimpi, perlahan berubah menjadi fokus untuk sekadar bertahan hidup.

Apakah mimpi mimpi itu masih relevan? Apakah kita benar benar punya kesempatan untuk mewujudkannya ketika situasi negara seperti ini? Atau justru kita harus menyesuaikan diri dengan realita, mengurangi mimpi, dan hanya fokus pada hal hal yang bisa dikendalikan?

Aku jadi teringat dengan kata kata dari atasanku. Beliau berkata, "Tidak semua krisis itu membawa dampak negatif, beberapa diantaranya bisa membawa kita ke ide ide baru yang bisa memberi dampak positif."

Aku mencoba untuk tetap optimis seperti yang beliau katakan. Aku berusaha percaya bahwa kondisi yang sulit ini bisa melahirkan ide ide baru dan peluang yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi jujur saja, tidak semua orang punya privilege untuk sekadar 'berinovasi'. Banyak dari kita yang hanya fokus mencari cara agar besok masih bisa makan agar bisa membayar kebutuhan pokok. Rasanya sulit memikirkan mimpi besar ketika realita tidak seindah laporan statistik pemerintah. Kondisi negara yang tidak stabil membuat banyak dari kita, khususnya aku sendiir, mulai menurunkan banyak ekspektasi. Bukan karena tidak mampu, tapi karena realita yang memaksa begitu.

Sebagai rakyat, aku merasa tidak mendapatkan jaminan rasa aman dari negara. Bagaimana kami bisa berpikir kreatif di tengah krisis ketika kebutuhan dasar saja makin sulit terpenuhi? Rasanya seperti berjuang sendiri sementara mereka yang punya kekuasaan sibuk dengan kepentingan pribadi. 

Bukan berarti ingin dimanja atau selalu diberi bantuan ya. Justru sebaliknya, aku tidak setuju dengan pola pemerintah yang selalu mengandalkan bantuan sebagai solusi, seperti bansos misalnya. Bukannya memperkuat fondasi survival skill dan membangun sistem yang berkelanjutan, mereka memilih jalan pintas yang hanya menyelesaikan masalah untuk sesaat. Bantuan itu mungkin meringankan tapi kan tidak memberdayakan dan memiliki efek jangka panjang. Aku yakin kita semua sangat membutuhkan kebijakan yang membuat kita sebagai rakyat merasa lebih kuat dan aman, bukan malah jadinya ketergantungan.

Aku sering membayangkan bagaimana rasanya hidup di negara yang benar benar berpihak pada masyarakatnya? Mungkin kami bisa fokus berkarya, belajar, dan meraih mimpi tanpa harus cemas apakah besok harga kebutuhan pokok melonjak lagi atau apakah gajiku cukup untuk sekadar membayar kos dan juga makan. Namun pada realitanya, aku merasa harus selalu memasang mode survival. Tidak ada kepastian dan juga jaminan. Sejujurnya, aku mulai lelah melihat berita yang hanya berbicara soal angka pertumbuhan ekonomi sementara faktanya, banyak masyarakat bahkan aku sendiri masih berkutat dengan realita yang pahit: kesenjangan sosial yang makin tinggi.

Jika negara seharusnya hadir untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya, maka di mana mereka saat ini? Mungkinkah mereka BUTA dan TULI sebab memilih untuk tidak melihat dan juga mendengarkan?


PS.

Untuk rekan rekan yang terlibat aksi demonstrasi, semoga Tuhan senantiasa melindungi. Jaga barisan jangan sampai ada provokator yang menyusup dan membuat ricuh. Fokus kepada tuntutan awal dan jangan sampai terpecah belah, apalagi termakan isu SARA. Yang harus dilawan adalah pemerintah yang keji, bukan sesama kita sebagai masyarakat. Semoga Tuhan selalu melindungi. Semoga tidak ada aksi yang ditunggangi oleh kepentingan elite politik. 

Share:

Minggu, 10 Agustus 2025

From Proving to Improving: Transisi Perjalanan Seperempat Abad Akhir Menuju Kepala Tiga

Tidak seperti biasanya, Agustus 2025 ini kusambut dengan perasaan campur aduk: senang, haru, bingung, marah, cemas, takut, semua bercampur jadi satu. Senang, karena 90% bucket list sebelum usia 25 berhasil ku coret. Tapi juga cemas, karena tahun ini aku resmi memasuki fase menuju tiga puluh. 

Walau masih terhitung 4 tahun lagi, aku harus bersiap dari sekarang agar diriku di usia 30 bisa hidup lebih baik dari dirinya di usia 20 ini. Aku memang tidak tau sampai kapan aku diberi kesempatan hidup, tapi aku hanya ingin mempersiapkan diri agar tidak banyak menyesal di kemudian hari.

Enam tahun lalu, saat aku berusia 19 tahun, perasaan yang sama juga aku rasakan. Perasaan takut dan cemas ketika menghadapi pergantian usia. Saat itu aku panik karena sebentar lagi akan genap kepala dua tapi aku masih belum memiliki pencapaian yang membanggakan dan belum ada persiapan sama sekali. Untuk mengurangi rasa panik, aku mencoba menulis bucket list dan membuat rencana rencana yang ingin kujalani.

Salah satu rencana kala itu adalah mendapatkan gaji pertama sebelum genap kepala dua. Hingga akhirnya, pada Juni 2019, dua bulan sebelum genap kepala dua, aku mendapat pekerjaan pertama sekaligus gaji pertamaku. Rezeki dan nikmat dari Tuhan yang ternyata menjadi awal dari perjalanan yang tidak pernah aku bayangkan.

Enam tahun berlalu, tepatnya tahun 2025, aku masih tidak percaya. Pekerjaan yang awalnya hanya diniatkan sebagai part time justru membawaku sejauh ini: bertemu orang orang dari berbagai latar belakang, berinteraksi dengan sosok yang dulu hanya kulihat di TV atau media sosial, hingga berani bepergian ke tempat yang belum pernah aku kunjungi. Kalau comfort zone itu punya pagar tinggi, sepertinya aku sudah melompatinya berkali kali. 

Tentu ini terjadi atas izin dab bantuan dari Tuhan.

Namun, di balik semua pencapaian kecil dan pengalaman baru itu, aku sadar tidak semua langkah yang aku ambil itu benar benar bertujuan untuk bertumbuh jadi versi terbaik dari sebelumnya. 

Aku rasa aku terlalu fokus pada citra dan penilaian orang lain hingga aku lupa bertanya apakah aku benar benar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik atau sekadar menjalani hidup untuk mendapat validasi dari manusia? 

Mungkin, pada perjalanan ini, aku hanya sibuk berjalan untuk terlihat hebat dan keren di mata manusia.

From Proving to ImProving

Apakah aku menjalani masa 20an awal ini sesuai dengan rencana? TENTU SAJA TIDAK.

Contoh kecilnya adalah ketika aku bermimpi mendapatkan gaji pertama sebelum usia 20 tahun. Bagiku itu adalah pencapaian yang cukup besar untuk diriku sendiri. Tapi kalau boleh jujur, di baliknya ada cerita yang berbeda. 

Mengejar gaji pertama sebelum usia 20 dengan menekuni dan mempelajari digital marketing sebenarnya bukan karena aku punya visi karier yang jelas. Melainkan hanya pelarian, sebuah distraksi untuk mengalihkan pikiranku dari rasa kecewa terhadap diri sendiri.

Aku merasa gagal pada banyak hal yang sebenarnya menjadi impianku dari lama. Jadi aku memilih berlari ke arah lain yang rasanya bisa lebih bisa aku raih. Dulu aku pikir kalau aku bisa cepat menghasilkan uang, setidaknya aku bisa membuktikan bahwa aku juga layak dan berharga. Padahal jauh di dalam hati, aku sedang mencoba menutup lubang kosong yang belum sempat aku sembuhkan. 

Akhir tahun 2018 sebenarnya menjadi titik terendahku, tahun di mana setiap usaha terasa sia sia dan setiap pencapaian terasa tidak pernah cukup baik untuk diri sendiri maupun orang di sekitarku. Aku berusaha memberikan yang terbaik, mengerahkan semua yang kumiliki, tapi tetap saja rasanya tidak cukup. 

Aku gagal meraih apa yang aku impikan dan juga gagal mendapat validasi dari orang sekitarku akan usaha yang sudah aku lakukan. Yang lebih menyakitkan sebenarnya bukan hanya kegagalannya, tapi perasaan bahwa aku tidak cukup kompeten untuk melakukan hal yang dulu menjadi impianku.

Dimulai dari sana, aku sibuk mencari kambing hitam. Aku marah pada keadaan tapi jauh lebih marah pada diriku sendiri. Aku melakukan sesuatu yang kini kusadari sangat merusak: gaslighting terhadap diri sendiri. Setiap hari aku memaki dan mencerca diri dengan kalimat kalimat yang kejam:

"Aku terlalu bodoh."

"Kayaknya aku emang gak layak untuk berada di sini."

"Masa kayak gini aja aku gak bisa?"

"Harusnya aku bisa, tapi kenapa malah gagal terus?"

"Aku memang gak worth it untuk mencapai apa yang aku impikan."

Perlahan aku mulai percaya pada kata kata jahat itu. Aku menanam keyakinan keliru bahwa aku memang tidak layak hidup dan tidak pantas menerima hal hal baik hanya karena aku merasa gagal. Dan saat keyakinan itu mengakar, kepercayaan diriku pun ikut runtuh. 

Itu adalah awal dari proses membunuh jiwaku sendiri. Jiwa yang dulunya penuh ambisi, selalu haus belajar, dan punya keinginan besar untuk bertumbuh. Dari hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, api itu padam dan tergantikan oleh keraguan serta perasaan tidak berharga.

Aku menjalani hari seperti air yang mengalir. Sesuatu yang dulu sangat aku benci. Iya, aku tidak suka dengan prinsip menjalani hidup seperti air yang mengalir karena aku pikir kita tidak akan pernah tau kemana air itu akan membawa kita. Ke tempat yang lebih jernih kah? Atau justru ke tempat yang lebih kotor? Bagiku, itu terdengar seperti alasan untuk pasrah dan menyerah pada nasib. Yang pasti air selalu membawa kita ke tempat yang lebih rendah. Dalam pikiranku hal itu sama saja dengan mundur dan kalah.

Hatiku bergidik karena membayangkan dulu waktu kecil kita belajar menjilat ice cream, ternyata ketika dewasa kita belajar menjilat ludah sendiri.

 Ya, aku merasa seperti menjilat ludah sendiri. Aku mengatakan benci kepada prinsip hidup yang hanya mengalir, tapi aku menjalaninya selama beberapa tahun terakhir ini. 

Namun, perjalanan ini juga perlahan mengubah perspektifku. Aku membiarkan diri mengikuti arus, menyerahkan kepada Tuhan sepenuhnya tentang kemana langkah ini akan menuju, dan ternyata rasanya tidak seburuk itu. Bahkan, tak jarang arus ini membawaku ke tempat yang tidak pernah ku pikirkan dan cenderung lebih baik. Dari sini aku belajar bahwa pemahamanku dulu keliru. 

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan prinsip menjalani hidup seperti air yang mengalir. Mungkin, maksud menjalani hidup seperti air yang mengalir di sini adalah memiliki tawakal dan percaya kepada Tuhan, sembari kita juga berusaha dan berproses. Sebab melawan arus tidak selalu menandakan keberanian atau bahkan kelemahan. Ada kalanya dalam hidup kita bergerak mengikuti arus dan menuju muara yang lebih jernih, seperti apa yang diarahkan oleh Tuhan.

Saat sedang menjalani hidup mengikuti arus ini, aku menyadari lagi satu hal baru: sepertiny aaku belum benar benar bertumbuh. Walau secara kasat mata aku terlihat lebih baik dibanding diriku di masa lalu, nyatanya aku hanya berputar di lingkaran yang sama.

Aku pikir aku sudah improve, ternyata aku hanya sibuk melakukan improving

Selama bertahun tahun aku mengira yang aku lakukan selama ini adalah bagian dari pertumbuhan. Tapi setelah aku pikir pikir lagi, yang aku lakukan hanyalah usaha untuk membuktikan sesuatu. Bukan kepada diri sendiri melainkan manusia lain. Sejujurnya, ku benci mengakui bahwa ada bagian kecil dari diriku yang selalu haus akan validasi manusia.

Rasanya seperti mengonsumsi narkotika: candu dan memberi ledakan dopamin sesaat, tapi meninggalkan kekosongan yang semakin membesar di dalam dada. 

Semakin keras aku mencari validasi, semakin aku kehilangan arah. Hingga akhirnya, yang tersisa hanyalah rasa kosong belaka.

Butuh waktu lama untuk menyadari semua ini. Puncaknya ketika aku mendapat kesempatan untuk merantau. Aku pikir aku berjalan maju, ternyata aku hanya berjalan memutar. Mengulang pola yang sama, jatuh ke lubang yang sama, sampai membuka luka yang sama.

Mengejar validasi rasanya seperti berlari di atas treadmill. Melelahkan tapi tidak pernah benar benar membuat kita maju. Aku bisa saja terus membuktikan diri di mata orang lain tapi tanpa alasan yang tepat semua itu hanya akan berakhir dengan rasa kosong.

Menyadari Bahwa Dunia Tidak Selalu Tentang Aku

Selama ini, aku merasa seolah olah dunia berputar hanya untuk menguji dan menilai aku. Seperti pusat dari segala perhatian dan penilaian seolah semua mata tertuju hanya pada langkah dan kesalahanku. Aku terlalu tenggelam dalam bagaimana orang lain melihat dan menilai, sampai lupa bahwa sebenarnya dunia ini jauh lebih luas dan penuh dengan kisah yang tidak selalu tentang aku.

Mengejar validasi dari orang lain seperti mengejar bayangan yang tidak pernah membuat kita puas. Saat aku unlearn tentang hal ini, itu artinya aku memberi ruang untuk bisa lebih fokus pada hal yang lebih penting dalam hidup, percaya dan menerima diri sendiri.

Memaafkan dan Menerima Diri

Di usia dua puluh enam ini, aku belajar satu hal penting bahwa mencari validasi bukan musuh. Sesuatu yang wajar dan manusiawi karena kita semua sebagai manusia pada satu titik pasti ada rasa ingin diakui dan diterima.

This is our very first time being human and the journey is teaching us survival. Mungkin, dulu aku selalu mengejar validasi dan pembuktian diri semata mata demi bertahan hidup. Aku melakukan itu untuk meyakinkan diri bahwa aku layak meraih hal hal yang ku impikan. 

Tapi ketika seluruh hidup kita hanya berputar demi mendapatkan validasi semata, kita akan kehilangan arah dan perlahan kehilangan diri sendiri.

Aku belajar memaafkan diriku di masa lalu yang terlalu haus akan validasi dan selalu ingin membuktikan diri. Karena sekarang aku sudah mengerti, perjalanan ini bukan lagi tentang membuktikan siapa aku di mata orang lain, melainkan tentang memperbaiki siapa aku di mata diriku sendiri. Bukan sekadar tumbuh ke arah luar, tapi juga tumbuh dari dalam.

Dan mungkin, titik awal pertumbuhan yang sebenarnya adalah ketika kita mulai berani percaya pada diri sendiri. Karena pada akhirnya, semua validasi yang datang dari luar pasti akan pergi. Tapi keyakinan pada diri sendiri adalah satu satunya hal yang akan tetap ada dan bertahan.

Share:

Sabtu, 03 Mei 2025

Saat Kita Merasa Sudah Tau Segalanya, Saat Itulah Kita Berhenti Belajar

Di tahun tahun sebelumnya, aku pernah ada di posisi merasa cukup.

Cukup pintar.

Cukup tau segalanya.

Cukup paham arah hidup.

Cukup dengan kehidupan yang sudah aku jalani.

Hidup terasa cukup damai karena tidak ada drama seperti tahun tahun sebelumnya. Semuanya terasa aman, nyaman, dan stabil. Aku merasa semuanya akan berjalan dengan baik baik saja.

Aku bekerja. Aku berdaya. Aku bisa menghidupi diriku sendiri. Aku bisa bertemu dengan banyak orang baru. Aku bisa punya hobi baru. Aku bisa melakukan banyak hal. Aku bisa jalan kesana kemari tanpa harus ada yang mengekang ataupun mengomentari diriku. Tentu, ini pemikiran yang sangat sombong.

Tanpa aku sadari, perlahan aku sudah berubah menjadi manusia yang berhenti untuk membuka diri.

Perlahan, aku berhenti untuk mendengarkan orang orang di sekitarku dengan hati dan rasa empati. Aku merasa mereka tidak cukup tau daripada aku. Aku merasa sudah lebih dulu tau daripada mereka.

Perlahan, aku juga berhenti mempertanyakan tentang keputusan orang lain dan juga keputusan yang aku buat untuk diriku sendiri. Aku lebih memilih untuk diam, bahkan saat aku tau itu bukan hal yang seharusnya aku lakukan. Aku tau ada yang salah, tapi aku terlalu enggan untuk mengatakannya.

Aku berhenti untuk peduli dengan banyak hal.

Aku berubah menjadi apatis dengan berbagai hal di sekitarku. Aku terlalu malas untuk ikut campur dengan hal hal yang bukan menjadi urusanku. Walau sebenarnya aku melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Aku hanya tidak ingin terlibat dengan banyak konflik yang memusingkan. Aku sudah terlanjur nyaman dengan rasa stabil yang saat itu aku rasakan. Aku sudah di fase lelah untuk belajar lagi. Aku hanya ingin menikmati apa yang ada di dalam hidupku.

Tapi, hidup itu lucu.

Hidup selalu punya cara untuk menyadarkan kita sebagai manusia. Bukan dari kegagalan besar, melainkan dari momen momen kecil yang menampar kita. Sakit, tapi tidak berdarah, namun cukup menyadarkan manusia sombong ini.

Seperti saat aku sedang mencoba untuk menyampaikan suatu ide, tapi malah tidak ada yang mengerti karena pesan yang ku bawa tidak clear. Lucunya, kala itu aku merasa aku paling tau dan paham, tapi aku gagal menyampaikan dengan utuh dan mendengarkan sekelilingku dengan empati.

Atau momen ketika aku lagi diajak cerita tentang hal baru, tapi reaksiku cuma setengah hati. Bukannya penasaran atau nanya balik, aku malah sibuk menghakimi dalam hati, ohh cuma ini, aku udah pernah denger ini, ini bukan informasi baru buat aku. Padahal, aku belum tentu benar benar paham dengan hal itu. Atau mungkin, aku belum pernah mencobanya sama sekali. Tapi, saat itu aku sudah merasa paling tau segalanya.

Dari situ aku sadar kenapa semua terasa mandek, datar, hampa, atau bahkan stagnan. Ternyata, secara tidak langsung aku berhenti untuk bertumbuh karena aku merasa sudah cukup tau segalanya.

Dan itu menakutkan.

Bukan karena kita malas belajar, tapi karena kita merasa sudah tidak perlu lagi belajar. Padahal, hidup terus bergerak dan dunia senantiasa mengalami perubahan.

Dan kalau kita tidak belajar, kita hanya akan jadi versi lama dari diri kita yang mungkin sudah tidak lagi relevan di masa sekarang.

Kalau aku tidak memaksakan diri untuk terus belajar, besar kemungkinan aku akan banyak mengalami ketertinggalan. Bukan hanya dari orang lain, tapi dari versi diriku yang seharusnya bisa menjadi lebih baik dari saat ini.

Satu hal yang aku sadari adalah aku justru baru benar benar merasa belajar ketika aku mulai mengakui ketidaktauanku akan suatu hal. Walau terkadang, ego kita sebagai manusia seringkali susah diajak untuk berkompromi dan menolak ketidaktauan.

Mengakui ketidaktauan itu kerap kali terasa memalukan. Tapi mungkin, justru itulah titik baliknya. Saat kita sudah merasa tau segalanya, saat itulah kita akan berhenti belajar.

Pelan pelan, aku mau belajar untuk kembali membuka diri dan belajar banyak hal lagi.

Aku mau pelan pelan belajar untuk membuka ruang.

Aku mau pelan pelan belajar untuk tidak buru buru merasa paling tau segalanya.

Aku mau pelan pelan belajar mendengarkan dengan hati yang sepenuhnya hadir dan memberi ruang untuk hal hal baru yang akan masuk.

Aku mau belajar menjadi orang yang banyak mendengarkan lagi.

Aku mau jadi orang yang bisa jujur mengatakan, “Aku belum tau, tapi aku mau tau dan mau belajar.” atau “Aku emang belum yakin, tapi aku mau belajar supaya bisa jadi yakin dengan diriku dan juga hasilnya.”

Aku ingin belajar ,menjadi versi diriku yang tidak takut melakukan kesalahan walau konsekuensinya mungkin aku akan dihakimi, dimaki, atau bahkan tidak disukai.

Aku ingin belajar menjadi versi diriku yang tetap memiliki rasa penasaran dengan banyak hal di dunia, tanpa takut dicap bodoh karena memiliki ragam pertanyaan.

Aku ingin jadi versi diriku yang tidak kehilangan semangat untuk terus bertumbuh dan berproses, meski hanya dari hal hal kecil yang sederhana. Mungkin tidak terlihat wah di mata orang lain, tapi memiliki arti penting untuk kehidupanku di masa mendatang.

Aku ingin selalu belajar. Belajar untuk tidak cepat merasa puas. Belajar untuk selalu jadi yang terbaik dari diriku di hari kemarin. Belajar untuk terus berproses walaupun tidak ada apresiasi dari sana sini. Aku ingin belajar untuk menjadi versi diriku yang paling terbaik, bukan untuk orang lain, melainkan untuk diriku sendiri.

Tentu saja semua ini butuh proses dan pastinya tidak akan bisa instan serta butuh waktu yang tidak sebentar.

Pada akhirnya, aku menyadari kalau ternyata menjadi manusia itu bukan tentang yang paling tau banyak hal, tapi tentang yang tidak pernah berhenti mencari tau walau ia sudah tau dan belajar banyak hal.

Share:

Jumat, 02 Juli 2021

Sedih Senang Secukupnya

beberapa hari ini, sedih datang menghampiri
seakan tidak memberi celah bagi senang untuk singgah barang sejenak.
⁣⁣⁣
beberapa hari ini, wajahnya dipaksa untuk ceria,⁣⁣⁣
seakan tidak memperdulikan apa yang sesungguhnya dirasa.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
beberapa hari ini, dia kembali mencoba menerka,⁣⁣⁣
tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
ia tau dan menyadari,⁣⁣⁣
bahwa masalah yang ia hadapi,⁣⁣⁣
tak sebanding dengan semua nikmat yang ia dapatkan.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
ia tau,⁣⁣⁣
mengeluh tidak akan mengubah keadaan,⁣⁣⁣
dan salah satu solusinya adalah tetap melangkah ke depan,⁣⁣⁣
melakukan yang terbaik,⁣⁣⁣
semampu yang ia bisa lakukan,⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
merasa sedih senang secukupnya.⁣⁣⁣
mengucap syukur tanpa henti,⁣⁣⁣
dan berhenti untuk bertanya,
"Kenapa Allah selalu mengujiku?"

Share: