Perihal Luka yang Tak Kunjung Aku Mengerti (Deep Story)

November 20, 2019


Kamu pernah merasakan terluka yang bahkan kamu sendiri tidak tau apa penyebabnya? Kamu pernah merasakan terluka yang sangat mengganggu pikiran kamu? Kamu pernah merasakan terluka hingga kamu tidak mampu mendefinisikan lagi bagaimana rasanya?


***

Setiap manusia pasti pernah merasakan lelah secara emosional tak terkecuali aku dan juga kamu yang sekarang sedang membaca tulisan ini. Perasaan lelah tidak hanya dapat menyerang fisik, tapi juga dapat menyerang batin seseorang.  

Memang benar, hidup tak ayalnya seperti roller coaster. Kadang bahagia, kadang bersedih. Sesekali berada di puncak, sesekali berada di bawah. Sesekali menjadi pemain, sesekali menjadi pengamat. 

Tak banyak yang bisa menebak dengan tepat apa penyebab dari lelah emosional yang acapkali kita rasakan. Beberapa orang mengatakan, hal itu terjadi karena kita terlalu lelah dengan aktivitas yang sedang kita jalani. Fisik kita yang sudah terlalu over dalam melakukan aktivitas akhirnya berimbas kepada pikiran dan jiwa kita. Tapi, semua itu tidak melulu disebabkan karena over-activity. Siapa yang menyangka? Bisa saja hal itu terjadi karena terdapat secuil luka batin yang telah lama terpendam dan berefek dengan kehidupan yang sekarang sedang dijalani.

Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi perspektif dan juga sedikit cerita. Aku bukan seorang mahasiswa psikologi ataupun orang yang memang berkecimpung di dalam dunia psikologi, bukan. Maka, apabila dalam tulisan ini kamu menemukan pendapat atau data yang tidak sesuai dari sudut pandang dunia psikologi, silakan disampaikan melalui kolom komentar.

Sekali lagi, dalam tulisan ini aku hanya ingin bercerita sahaja...

***

Hari ini aku tidak masuk kuliah lagi. Tak terhitung berapa kali aku sudah bolos kuliah entah karena memang berhalangan hadir atau karena disengaja. Ingin sekali rasanya aku mengatakan bahwa aku memang sedang sakit. Bukan sakit fisik, melainkan batinku yang sedang meraung sakit. 

Ah, tapi apa perduli orang-orang itu terhadap sakit yang berhubungan dengan batin seperti ini? Atau yang sering mereka anggap sebagai sakitnya orang gila.  Ya, jika aku katakan aku sedang gila, mereka juga tidak akan peduli. Persetan dengan mereka yang menganggap orang dengan luka batin adalah orang yang gila, atau orang yang mentalnya lemah. Aku tidak peduli.

Berbicara tentang luka, sungguh bahkan aku tidak tau luka apa yang sedang bersemayam di dalam jiwaku. Luka masa kecil? Luka masa remaja? Atau bahkan luka yang ada sejak aku dilahirkan. Aku tidak tau. Yang aku tau, batinku selalu merasa perih jika membahas hal-hal sensitif seperti keluarga dan juga cinta. Dua hal yang aku sangat berarti dalam hidupku sekaligus dua hal yang selalu hampir membunuhku. Andai Allah tidak menguatkanku, mungkin aku sudah tidak ada lagi di muka bumi ini.

Seringkali aku merasa lelah. Bukan lelah fisik, melainkan lelah secara emosional. Sulit rasanya mendeskripsikan bagaimana rasanya lelah emosional. Perasaan tidak berharga, tidak percaya pada diri sendiri, cemas, hingga merasa insecure terhadap lingkungan sekitar. Perasaan insecure ini sering aku rasakan terutama ketika berada di keramaian, di kampus, dan ketika aku sedang mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan manusia. Fyi, rasa insecure ini baru aku rasakan ketika duduk di bangku kuliah. 

Menjadi mahasiswa membuatku lebih jauh memandang tentang sikap dan karakter seseorang. Aku tidak tau bahwa ada orang yang tega berbicara kasar kepada temannya bahkan tak sungkan untuk membentak dengan kasar. Ada juga orang yang tega menyakiti rekan yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri. Tanpa pernah ada rasa bersalah dari orang tersebut. Tanpa pernah ada kata maaf dan menganggap bahwa perbuatannya dapat dibenarkan dan dapat dimaklumi. Pun jika meminta maaf terdengar tidak ikhlas. Aku rasa batinku masih mampu membedakan antara mereka yang tulus dan mereka yang hanya 'sekadarnya' saja. Entahlah, aku tak mengerti.

Bukan hanya itu saja, rasa trauma terhadap masa lalu turut mempengaruhi bagaimana kondisi emosionalku saat ini. Apa yang aku alami dan aku rasakan di masa lalu masih terekam sangat jelas. Masa-masa ketika aku ingin kabur dari rumah saat usia lima tahun dan akhirnya terealisasikan saat aku berumur 11 tahun (kurang lebih kelas VI SD)  meski pada akhirnya aku harus dijemput pulang karena saat itu pun kondisinya aku tidak memiliki uang untuk bertahan hidup. Aku memang cukup nekat untuk melakukan hal-hal seperti ini.

Apakah hanya cukup sampai disitu? Oh, tidak sayang. Sampai saat ini pun aku masih memiliki pikiran untuk tidak tinggal di rumah. Bahkan dulu motivasiku ingin kuliah di luar kota adalah karena aku tidak ingin lagi berada di rumah. Tapi ternyata Allah belum memberi izin jua.

Ada lagi hal yang tidak aku pahami. Aku tidak mengerti. Sedari aku SD hingga SMA, aku sangat aktif dalam kegiatan organisasi maupun sosial. Awal-awal masa perkuliahan pun aku masih semangat mengikuti organisasi. Tapi semangat itu hilang ketika di penghujung tahun 2018. Rasa-rasanya energiku habis dan tidak memiliki daya lagi untuk mengikuti kegiatan organisasi. Bahkan, untuk bertemu dengan orang pun aku harus berusaha mengumpulkan energi terlebih dahulu.

Aku mencoba untuk mengisolasi diri. Selama masa pengisolasian itu, aku menutup erat diriku rapat-rapat. Aku tidak ingin tau dengan urusan orang sebagaimana aku juga tidak ingin mereka tau dengan urusanku saat ini. Aku menutup akses komunikasi dengan sebagian orang. Aku benar-benar merasa bahwa aku bukan 'aku' yang dulu pernah ada. 

Beberapa kali aku berpikiran untuk mengakhiri saja hidup kalau memang harus seperti ini. Tapi, aku bersyukur karena Allah menguatkan aku untuk tidak melakukan perbuatan yang sangat dibenci agama tersebut.

Jika kamu bertanya apa alasannya, aku tak mengerti. Aku tak paham mengapa aku bisa seperti ini. Mungkinkah karena perlakuan menyakitkan yang aku terima dan aku pendam, akhirnya terakumulasi menjadi satu hingga membunuh karakterku? Aku tak mengerti, teman.

Jika kamu berkata bahwa aku salah, ku akui aku memang salah. Aku salah jika selalu menyalahkan keadaan dan mengutuk diri sendiri. Aku salah jika selalu mengurung diri dan tak mencari solusi. Aku salah jika aku tidak bergerak dan hanya memasrahkan diri pada keadaan. Aku salah.

Karena itu aku mencoba untuk lepas dari perangkap beracun ini. Aku ingin lepas dari semua hal yang menyebabkan luka ini menyeruak. Aku ingin berdamai dengan masa lalu. Aku ingin berdamai dengan diriku sendiri. Aku ingin memaafkan semua hal yang menyakitkan. Aku ingin bahagia.

Aku mencoba untuk kembali mencari potongan diriku yang hilang. Aku mencoba untuk menemukan diriku seutuhnya. Aku mencoba menjadi 'aku' yang dulu pernah ada. Aku mencoba dan terus mencoba. Aku ingin karakter 'aku' yang dulu kembali. Bukan yang sekarang.

Tidak lagi di komunitas, organisasi atau apapun itu karena besar kemungkinan ada trauma yang terkubur di dalam sana dan karena aku juga ingin mencari pengalaman baru. Maka, aku mencoba masuk ke dunia pekerjaan. Masuk ke dunia yang katanya harus mampu bersikap lebih profesional.  Lalu, aku kembali mencoba membangun lingkaran pertemanan yang baru. Apakah aku dapat diterima? Apakah aku akan cocok masuk ke dunia yang cukup baru ini? Aku tidak tau. Aku hanya sedang mencoba pulih dengan cara menyibukkan diri. Meleburkan diri ke dalam kegiatan yang positif dengan harapan aku dapat menemukan potongan diriku yang hilang entah kemana.

Mengapa tak mencoba pergi ke psikolog?
Mengapa tak meminta bantuan pada mereka yang sudah profesional di bidang ini?

Pergi ke psikolog adalah rencana yang tak kunjung aku realisasikan. Pertama, keterbatasan akses akan informasi dimana psikolog yang terdapat di kotaku membuatku jadi bingung harus dimana aku mencari mereka. Kedua, pengobatan menggunakan bantuan profesional sudah pasti membutuhkan budget yang lebih dan tidak murah. 

Tapi, doakan saja. Karena baru saja aku mendapat informasi mengenai dokter di tempat tinggalku yang berkecimpung di dunia psikolog. Range biayanya tidak terlalu mahal dan masih dapat dijangkau. Apalagi saat ini aku sudah memiliki penghasilan sendiri. Walau pada kenyataannya aku sedih karena uang yang seharusnya dapat aku sisihkan untuk dana darurat malah aku gunakan untuk menyembuhkan luka lama. Membuktikan bahwa begitu mahal harga dari 'nikmat sehat' yang ada. 

Pergi ke psikolog juga upaya untuk tidak melakukan self diagnose. Akan lebih baik jika semuanya dikonsultasikan kepada yang lebih ahli. Lagipula, melakukan self diagnose tidak baik karena bukannya semakin pulih, yang ada malah kita semakin 'sakit' karena telah men-judge diri dengan diagnosa yang tidak-tidak.

***

Dapat menulis sampai sini saja aku perlu menghabiskan banyak energi dan juga waktu. Tidak semua mampu aku tuliskan bukan karena aku tak bisa,tapi karena aku tak cukup mampu membuka kembali kisah lama itu. 

Dari tulisan ini, aku ingin kita semakin aware dan peduli terhadap mental health. Banyak orang yang salah kaprah terhadap kesehatan mental. Menganggap bahwa orang yang memiliki luka batin ataupun orang yang kesehatan mentalnya sedang tidak baik-baik saja adalah orang yang lemah, orang yang tidak kuat iman, ataupun orang gila. Jika kamu tidak mampu membuat suasana menjadi lebih baik, setidaknya jangan menjadi pengacau. Jika kamu tidak mau memberi dukungan, maka diam lebih baik. Jika kamu merasa jijik, silakan pergi dan enyahlah saja.

Aku meminta maaf karena terlalu banyak kesalahan yang aku perbuat. Bisa saja aku sedang menuai apa yang aku tanam kemarin. Tapi, bagaimana jika aku tidak pernah berbuat hal yang menyakitkan kepada orang lalu orang tersebut malah berbuat hal yang menyakitkan kepadaku? Ah, sudahlah. Aku tak punya daya untuk melawan. Aku cuma manusia lemah yang mudah rapuh diterjang badai. Biarlah Allah yang membalas. Biarlah Allah yang menegur. Karena hanya Allah sebaik-baiknya Hakim di seluruh jagat semesta ini.

Tidak ada unsur untuk menyinggung atau menyindir pihak manapun. Sekali lagi, aku hanya ingin bercerita tentang hal yang selama ini selalu menganggu pikiran dan konsentrasiku. Permohonan maaf dariku sekali lagi.

Doakan aku agar lekas pulih kembali.


Salam,

Aku yang merindukan 'sosok aku' yang dulu.


***

Menulis cerita ini adalah salah satu metode "Self Healing" yang saat ini sedang aku tekuni. Menulis memang katarsisku. Menulis memang jiwaku. Jika kamu tak menyukainya, tidak masalah karena aku menulis untuk diriku sendiri dan untuk orang yang membutuhkannya. Semoga dari tulisan ini kamu dapat mengambil hikmah dan pelajaran yang ada. 

Aku akan membahas lebih lanjut mengenai Self Healing Insya Allah pada tulisan selanjutnya. See you..

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

6 comments

  1. Tetep semangat ya kak.. Semoga dimudahkan prosesnya nanti.
    Oh ya, daripada ke psikolog, bisa langsung ke psikiater. Soalnya psikiater adalah dokter ahli jiwa. Jadi lebih paham soal mental health.

    Oh ya, tentang kamu yang merindukan sosokmu yang dulu.. Aku dulu sering begitu dan terkadang muncul pikiran itu sekarang. Tapi ya, manusia itu kan pasti berproses tiap waktunya. Kita gak mungkin sama seperti kita yang kemarin. Jadi, salah satu caraku untuk bisa self love ya berdamai dengan kelebihan dan kelemahan kita. Susah memang dan itu butuh proses yang lama. Hehe..
    Sekadar berbagi pengalaman ya ini. Dari orang yang masih terus berproses untuk self love :D

    BalasHapus
  2. Suka dengan tulisannya, karena saya sendiri juga merindukan saya yang dulu. Saya juga punya trauma yang nggak bisa saya ceritakan sama siapapun. Dan seringkali merasa terbebani dengan hal tersebut. Orang yang nggak tahu, mungkin akan mengejek, karena mereka emang nggak tahu gimana rasa sakitnya. Sakit yang obatnya nggak bisa dibeli di toko obat terdekat

    BalasHapus
  3. Beberapa orang melakukan self healing dengan meluapkan semua perasaannya dalam tulisan. Karna perkara sakit hati dan sampah hati itu nggak mudah disembuhkan kalau ke diri sendiri aja nggak mau jujur. Btw masalah konsul ke psikolog rata-rata di puskesmas ada, untuk biaya sih aku nggak paham berapa tapi beberapa ada yang bilang kalau bisa pake bpjs. Atau bisa juga pakai Halodoc, kemaren aku pernah coba konsul dapet free satu sesi 30menit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh, suka bgt sama remindernya kak. Emg kadang kita tuh susah bgt jujur sama diri sendiri. Hal yg sampe skrg masih belum aku temui caranya :')

      Hapus