Aku dan Quarter Life Crisis; Ketakutan Hebat Menjelang Usia Duapuluhan

Juli 24, 2019

Kamu pernah mengalami takut berlebih ketika memikirkan kemungkinan tentang masa depan?

Kamu sering bertanya dalam hatimu mengenai siapa diri kamu yang sebenarnya?


Tahun 2018 silam adalah tahun tersulit yang pernah aku lewati. Rasa sakit, stress, takut, hingga rasa ingin menyudahi hidup aku rasakan pada saat itu. Tekanan datang bertubi-tubi dari segala lini. Mulai dari ayah dan ibu, teman, organisasi hingga ke ranah kampus. Semua punya tuntutan. Semua menuntut bahwa aku harus menjadi sesuai apa yang diharapkan.

Entah mungkin aku yang terlalu berlebihan dalam merasa atau memang semua orang juga akan melewati fase seperti apa yang aku rasakan.

Dari segala tuntutan yang hadir, perasaan cemas mulai menggerogoti pikiranku. Tanpa ku sadari, aku begitu takut untuk mengambil pilihan hidup. Aku takut bila nantinya aku salah dalam memilih. Aku begitu takut untuk mengambil sebuah komitmen.

Belum lagi berbagai pertanyaan muncul dari dalam diri. Khususnya pertanyaan mengenai identitas diri; Siapakah aku? Apa yang selanjutnya akan aku lakukan?

Tentang Quarter Life Crisis; Krisis Identitas dan Emosional pada Usia Duapuluhan.

Image result for quarter life crisis
Source
Saat mengalami masa masa yang dipenuhi ketakutan akan masa depan, aku selalu bercerita pada seorang teman yang ku anggap dapat menjadi pendengar sekaligus pemberi solusi dari permasalahan yang sedang aku hadapi.

Beliau menyarankanku untuk mencari informasi mengenai Quarter Life Crisis karena apa yang aku rasakan pada saat itu memiliki kesamaan dengan orang-orang yang tengah menghadapi masa Quarter Life Crisis.

Well, jika merunut dari buku yang sedang aku baca, juga artikel dari berbagai website tepercaya, apa yang aku rasakan memang memiliki benang merah dengan tanda-tanda seseorang mengalami Quarter Life Crisis. Tapi aku tidak berani mengambil kesimpulan sendiri karena bertanya langsung pada psikolog lebih baik daripada melakukan self diagnose.

Quarter Life Crisis, Apa itu?

Image result for quarter life crisis


Quarter life  crisis sendiri adalah sebuah fase dimana kita sedang mempertanyakan perihal identitas diri kita yang sebenarnya. Menurut tokoh psikologi, Atwood dan Scholtz (2008), Quarter Life Crisis adalah sebuah fase perkembangan psikologis yang muncul di usia 18-29 tahun sebagai transisi dari masa remaja menuju fase dewasa.

Ada pula dari sumber lain mengatakan bahwa Quarter Life Crisis terjadi pada mereka yang berada pada usia 25 hingga 30 tahun. Pada intinya, dapat kita tarik kesimpulan bahwa Quarter Life Crisis adalah fase krisis identitas diri bagi mereka yang memasuki usia duapuluhan hingga tigapuluh tahunan.

Selanjutnya, aku akan menyebut Quarter Life Crisis ini dengan sebutan QLC.

Image result for Emerging Adulthood.
Source

Istilah lain juga menyebutkan nama lain dari fase ini yaitu Emerging Adulthood. Istilah Emerging Adulthood pertama kali disuarakan oleh Arnett (2011). Arnett mengatakan bahwa orang-orang yang berusia 18-39 tahun banyak mendapatkan tuntutan dari lingkungan sekitarnya karena lingkungan mereka pada saat itu telah menganggap mereka sudah dewasa dan tidak sepantasnya bersikap seperti remaja. Di sisi lain, sikap dewasa belum benar-benar berdaya dari diri kita. Hal itulah yang menyebabkan ketidakstabilan dan mengundang berbagai perasaan berkecamuk di dalam diri.

Apa Sih Tandanya Kalo Kita Lagi Mengalami Fase QLC?

Image result for quarter life crisis
Source
Black Alisson mengatakan bahwa QLC menyebabkan berbagai tekanan dan rasa bimbang tertentu atas pencapaian karir, finansial, ketakutan akan menjalin hubungan dengan orang-orang, juga dampak yang dirasakan seperti perasaan cemas hingga depresi.

Juga perasaan seperti gelisah, pesimis hingga merasa bahwa kita tak punya pencapaian di usia dewasa ini juga menggambarkan bahwa seseorang sedang terkena QLC.

Nah, perasaan itu juga yang aku rasakan di tahun 2018 lalu. Berbagai pertanyaan juga bermunculan di dalam benak. Perasaan minder karena aku merasa belum punya pencapaian yang bisa membuat bangga kedua orang tuaku. Sedih sih waktu inget masa-masa itu, hiks.

Aku langsung kasih aja ya beberapa tanda kalau sebenarnya kita lagi berada pada fase QLC. Well, kamu tetep gak boleh memberi kesimpulan atas diagnosa yang kamu lakukan sendiri tanpa bantuan dari ahlinya. Karena belum tentu kamu sedang mengalami QLC meskipun sebagian besar tandanya telah kamu rasakan. Tetap percayakan pada ahlinya ya, temans!

1. Berbagai pertanyaan muncul seperti, "Apa ini yang benar aku inginkan?"

Related image
Source
"Apa ini yang benar aku inginkan?"
"Mengapa ya aku bisa ada di dunia?"
"Kenapa akutuh gagal terus, apa aku emang ga akan pernah berhasil setiap mencoba sesuatu?"

Serta berbagai pertanyaan lainnya yang sering buat pusing kepala juga pikiran. Pertanyaan yang sebenarnya hanya bisa dijawab oleh diri kita sendiri karena kita yang paling tau apa yang sebenarnya kita mau.

2. Suka membandingkan pencapaian diri dengan pencapaian orang lain.

Image result for membandingkan
Source

3. Merasa tidak bahagia.

Image result for tidak bahagia
Source
4. Mudah jenuh dengan pekerjaan.

Image result for jenuh
Source

5. Merasa kehilangan tujuan hidup yang sebenarnya.


Image result for kehilangan tujuan
Source
*note: lima tanda di atas aku kumpulkan dari berbagai sumber ya, temans!*

Fase Quarter Life Crisis

Nah, QLC ini ternyata memiliki beberapa fase. Jadi, ngga selamanya kita akan terjebak dan berada pada fase ini. Juga bukan berarti ketika kita udah bergairah kembali, kita udah lepas dari fase QLC ini.

Menurut Robinson (2011), ada lima fase yang akan kita lalui ketika sedang mengalami QLC.

1. Fase pertama; adanya perasaan terjebak dalam berbagai pilihan tetapi tidak tau pilihan mana yang akan diambil.

2. Fase kedua; adanya motivasi yang kuat untuk mengubah situasi dan kondisi.

3. Fase ketiga; melakukan tindakan yang cukup krusial dan mengejutkan banyak pihak. Seperti resign dari pekerjaan, dan lain sebagainya.

4. Fase keempat; membangun pondasi baru dimana individu bisa mulai untuk mengendalikan arah hidupnya.

5. Fase kelima alias fase terakhir; membangun kehidupan baru dan lebih berfokus pada minat serta value yang telah ditetapkan oleh diri kita sendiri.

***

Post mengenai quarter life crisis pending sampai sini dulu ya, temans. Insya Allah, next aku akan cerita bagaimana caranya aku bisa menghadapi masa-masa sulit saat itu hingga aku berani membuat keputusan-keputusan penting dalam hidupku.

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

7 comments

  1. nice post mbak :)
    sayapun sedang mengalami QLC ini

    BalasHapus
  2. Jadi inget waktu jaman kuliah semester 5. Masa-masa gak yakin dengan pilihan jurusan kuliah yg di ambil, sampe lulus pun masih gak yakin. Nice post. Di tunggu cerita selanjutnya :)

    BalasHapus
  3. Jangan khawatir akan hidup..karena semuanya sudah disediakan Tuhan
    coba lihat orang gila di jalan mereka tetap hidup meski gak punya rumah, gak punya uang , gak tau makan apa besok..

    Kadang kita mikirin hal yang belum tentu terjadi, coba ingat waktu kita kecil kita gak pernah takut kelaparan , kita gak pernah takut gk jajan, ..semua dibawa happy

    BalasHapus
  4. Kalau saya mungkin sadar gak sadar dengan ilmiah seperti yang disebutin di atas, hidup ya dinikmati saja.
    Jangan terlalu banyak dengar "kata orang", "kata ini", "kata itu". Lebih baik yang dilakukan, "baca ini", "baca itu", tapi bukan asal baca, dipahami dengan baik.

    BalasHapus
  5. ini saya pernah alami sejak setelah lulus kuliah sampai awal awal kerja, tapi semua itu pasti berakhir :)

    BalasHapus
  6. Kalau udah masuk kepala 2 gini wajar sih mengalami ketakutan ketakutan seperti itu, seperti terpikirkan besok mau kemana, mau jadi apa, mau gimana, dan lain sebagainya. Soalnya kita gak akan selamanya tinggal dengan orang tua atau bergantung sama orang tua.. Karena sukses atau tidaknya itu dari diri kita sendiri.

    Tapi untuk mengatasi hal itu mungkin bisa mencoba coba hal yang disukai dari yang terdekat, karena jaman sekarang kek gini apapun bisa, bahkan dari hal yang sangat sederhana. Jadi jangan takut untuk mencoba, dan tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik :D

    BalasHapus