Untuk Kita Yang Mulai Berjarak

Juni 14, 2019

Aku selalu bertanya pada daun yang berjatuhan, apakah pertambahan umur memiliki korelasi dengan tingkat kesenangan seseorang pada keramaian?

***

Bisa dikatakan aku adalah 
pribadi yang cukup aktif jika ditinjau dalam kehidupan sosial. Ini dapat dilihat dari riwayat serta pengalamanku dalam bergabung pada suatu organisasi atau perkumpulan tak bisa dibilang sedikit. Sedari duduk di bangku SD, aku telah aktif pada kegiatan organisasi dan sosial seperti pramuka dan regu petugas upacara. Lalu berlanjut ke OSIS, Rohis, hingga kegiatan ekstrakurikuler lainnya seperti English Club, Jurnalistik, dan Kelompok Ilmiah Remaja. Ya, katakanlah bahwa aku memang cukup menyukai keramaian.



Aku menyukai lingkungan yang dipenuhi oleh orang orang beserta ide briliannya. Aku menyukai perkumpulan. Aku tak suka pada hening. Karena ia sunyi dan tak dapat menjadi pelipur lara. Setidaknya itu yg aku rasakan hingga aku tamat dari sekolah dan menduduki bangku perkuliahan.

Aku selalu mencari kesempatan meski hanya sekadar bermain di halaman rumah. Aku bersemangat ketika diperintah membeli sesuatu di warung karena aku bisa mendapat dua keuntungan sekaligus; upah yang dapat digunakan untuk sekadar 
membeli jajanan kampung serta izin bermain bersama teman-teman.

Aku berusaha untuk selalu ada di barisan terdepan ketika bergabung di suatu perkumpulan. Aku menyukai berjalan keliling kelas demi mengambil dana sumbangan karena hanya dengan itu aku bisa menghindar dari pelajaran guru yang killer. Aku menyukai obrolan receh dengan teman walau sebenarnya hal itu banyak menghabiskan waktu. Aku 
mulai berani pulang malam sejak SMA. Sikap mama dan papa dari yg melarang mati-matian hingga bisa menolerir jam pulang malam anak gadisnya ini.



Aku pernah bertanya pada diri. 
Apakah selamanya aku akan tetap menjadi seperti ini?
Apakah nanti aku akan turut merasakan kejenuhan? 
Faktanya, aku baru mendapat jawabannya ketika tiba di pertengahan masa kuliahku.

Sekarang, aku tak begitu terlalu menyukai keramaian seperti dulu ketika aku 
masih duduk di bangku sekolah. Maksudku, aku lebih menyukai pergi hangout dengan 2-4 orang teman saja. Aku lebih sering makan di luar ditemani laptop dan buku bacaan. Sesekali aku pergi ke toko buku bersama 1-2 teman atau hanya pergi sendiri. Pergi ke bioskop atau hanya sekadar jalan jalan pun aku lebih sering sendiri. Aku terlampau menikmati waktu sendiri. 

Sangat kontras apabila dilihat dari bagaimana aku ketika dulu di sekolah dan bagaimana aku yang kini duduk di bangku kuliah.

Ada beberapa hal yang aku dapatkan ketika aku sedang sendiri dan jarang aku dapatkan ketika berada di keramaian. Aku lebih mudah mengenali siapa diriku sendiri. Aku lebih lapang untuk memikirkan apa yang sebenarnya aku mau. Aku bisa bermuhasabah. Dan terpenting, aku tak perlu bersusah payah 
mengikuti apa maunya orang lain.

Aku berusaha menebak. Apakah aku telah berubah menjadi individualis? Atau aku yang sudah terlalu jenuh pada keramaian dan hingar bingar penduduk bumi?

Apakah aku yang terlalu menutup diri atau memang semua orang jua akan mengalami fase ini?




Ah, tapi kalau dipikir-pikir, hidup memang seperti itu, kan? Dinamis dan juga fluktuatif. Tak mudah ditebak. Dulu kita A, boleh jadi di masa depan kita menjadi B. Tak ada yang pasti. Dan perubahan adalah satu dari bentuk keniscayaan. Kalau kita menyangkal perubahan, berarti kita juga menyangkal hukum alam yang terjadi.


Sebagian teman mengatakan aku telah berubah dan tak lagi sama seperti dulu. Aku katakan pada mereka, "Pada bagian mana aku berubah?"

Karena aku sendiri pun merasa tak pernah berubah yang terlalu signifikan. Aku merasa hanya sedang menjalani suatu fase dimana aku tak begitu menyukai suara hingar bingar dan banyak orang. Aku tetap aku yang dulu. Aku hanya sedang mencari suasana dan lingkungan yang berbeda. Aku sedang belajar menyelami diri sendiri. Aku butuh perspektif baru.

Aku tak membenci keramaian. Aku hanya sedang mengurangi jumlah orang-orang yang berinteraksi denganku. Aku merasa energiku akan cepat habis jika berinteraksi dengan banyak orang sekaligus. 

Aku butuh lingkungan baru tuk melepaskan sesuatu yang mengganjal di dalam pikiran. Sebagai makhluk sosial, aku masih tetap mengikuti organisasi meski tak sebanyak dan tak terlalu dikenal keberadaannya. Aku masih suka berkumpul dengan teman-temanku walau itu terjadi beberapa kali dalam satu tahun. Aku masih bercengkerama dengan sahabat-sahabatku walau tidak sesering seperti dulu. 

Aku hanya mengurangi intensitas, bukan kuantitas dari sebuah lingkaran pertemanan. 

Aku tak pernah menjauh kepada siapapun termasuk kepada sahabat-sahabatku. Kalau memang kita sudah mulai berjarak, itu artinya Allah sedang memberi pelajaran tentang betapa berharganya sebuah kesempatan untuk bisa saling bertemu.



Ingin ku sampaikan pada 'kita' yang mungkin saat ini sudah mulai berjarak.

Tak ada yang berubah. Kalaupun ada yang berubah, semoga ia berubah ke arah yang menjurus pada perbuatan baik. Apa yang kamu rasakan mungkin tak lagi sama. Tapi, aku yakin esensinya tetaplah sama. Bukankah berteman tak harus harus selalu bersama dalam bayang nyata? Selama doa masih terpanjat, hubungan pertemanan akan tetap terjalin. Sampai kapan pun. Bahkan, hingga kita telah berada pada alam yang berbeda. 



"Walau berjarak sekalipun,
Teman dan sahabat akan selalu dicintai."


Ditulis untuk orang-orang yang telah bersedia menjadi teman.
Terima kasih.

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

19 comments

  1. Keren si mba, sejak SD sudah jadi aktivis. Kaya akan pengalaman tentunya.

    quotenya mantap.. "menyangkal perubahan berarti menyangkal hukum alam" 👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, mungkin karena itu saya jadi merasa jenuh ya mas.

      Hapus
    2. hukum alam juga soal jenuh. Kita akan melewati juga fase2 melow

      Hapus
  2. Btw pernah dengar nasyid Teman Sejati ? bagus tuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya pernah nih, tapi lupa grup nasyid apa ya namanya?

      Hapus
    2. pengen ngasih link yutubnya boleh gak nih

      Hapus
  3. Sedih juga sih jauh dari teman atau sahabat atau juga orang-orang terdekat .., tapi kadang kwadaan yang mengharuskan terjadi begitu.

    Untuk itu, kita harus kuat dan jadi pribadi yang tegar.

    BalasHapus
  4. Setiap orang pasti mengalami itu.. harus menjauh dari yang terdekat.. keadaan yang biasanya jadi penyebab.. tapi semua itu sudah digariskan.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya, lebih ke pengen cari suasana baru aja sih, wkwk

      Hapus
  5. Hal yang sekarang saya sesali nih, karena waktu single dulu, saya terlalu takut berpetualangan seorang diri, even hanya beli makan di warung juga minta ditemani hahaha.

    Padahal saya tuh aslinya lebih suka kesendirian, tapi gak berani kalau pergi-pergi sendirian :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk, Alhamdulillah setelah married ada yang nemenin ya mbak :D

      Hapus
  6. saya dahulu mualessss bngtz ikut organisasi...skrng baru kerasa klu organisasi itu penting bingitzzz...minimal bisa membuat kita pede dikeramaian.✌😆

    #Satu satunya organisasi yg saya ikutin adalah ".Organisasi Bewe" hahah...

    #Mbak Orang Plg yah ? tinggal dimana..? saya di OKU.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, iya mas. Penting banget memang.

      Bewe? apaan tuu? wkwk

      Iya, aku di daerah lemabang dan sekitarnya mas.

      Hapus
  7. Sama mba, aku juga lagi di fase sedang berjarak. Kurang begitu suka hingar bingar. Padahal pas kuliah aku aktif banget, tapi sekarang.. ya bener si, hidup ini di

    BalasHapus
  8. suka kalimat terakhirnya. tapi saya juga ngerasa begitu sih, ada masa saya punya banyak teman, ada masa saya lebih suka menyendiri dalam sepi. ke mana-mana juga sendiri.

    BalasHapus
  9. Memang ada kalanya kita perlu waktu untuk sendiri. Supaya lebih paham apa yang kita mau. Munhkin karena mbak rizky udah terbiasa dengan keramaian lalu tiba-tiba jadi jenuh dan rindu rasanya duduk sendiri.

    Suka sama kalimat-kalimatnya👍👍
    Keren banget😁

    BalasHapus
  10. Saya tipikal orang yang kurang nyaman ditemgah keramaian. Hahahaa.. Dulu masa masa sekolah emang suka rame2 bareng. Tapi paling rame 4 orang. Sering gak bisa konsentrasi kalo ditengah keramaian. Hihihi...

    BalasHapus