Menelusuri Jejak Berdarah dari Novel Katarsis - Anastasia Aemilia [RESENSI BUKU]

April 18, 2019


Judul buku: Katarsis
Penulis: Anastasia Aemilia
Editor: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan ke-1)
ISBN: 9789792294668

Tebal Buku: 261 hlm.


Tak ada manusia yang boleh memiliki segalanya. Jika ada, manusia itu harus mati. Karena di dunia ini, tak ada yang sempurna. Itulah cetak biru kehidupan. 

Blurb

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.

Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?


Apa Yang Terjadi?

Tara Johandi cukup berbeda dengan anak yang seusia dengannya. Tara membenci kedua orang tuanya. Bahkan, ia memanggil ayah dan ibunya dengan sebutan nama. Ia juga membenci namanya sendiri yang merupakan gabungan dari nama ayah dan ibunya, Tari dan Bara. Hingga sang ibu meninggal, Bara memutuskan untuk menitipkan Tara kecil pada paman dan bibinya.

Paman dan bibinya memiliki seorang anak laki laki bernama Moses yang ternyata memiliki sifat nakal. Tara kecil sering menjadi objek dari kenakalan yang dilakukan oleh Moses hingga menyebabkan Tara terjatuh dari sepeda. Tak disangka, dari kejadian itulah Tara kecil dapat bertemu dengan anak laki laki bernama Ello. Ello memberi koin lima rupiah kepada Tara kecil dan berkata bahwa koin tersebut dapat mengurangi rasa sakitnya. Semenjak itu, Tara  kecil selalu memegang koin tersebut terutama ketika ia sedang merasa sakit.

Ketika dewasa, Tara Johandi mengalami satu insiden yang memilukan. Tara adalah satu satunya orang yang selamat dalam peristiwa perampokan disertai pembunuhan tragis.  Ia ditemukan dalam kotak perkakas kayu dengan kondisi meringkuk. Ayah dan bibinya tewas. Pamannya kritis. Sedangkan Tara mengalami syok berat.

Tara akhirnya dirawat secara intensif di rumah sakit didampingi oleh seorang psikiater bernama Alfonso. Alfonso mencoba untuk mengobati rasa syok dan traumatik yang dialami oleh Tara. Alfonso juga menyadari bahwa sebenarnya Tara memiliki satu rahasia besar yang sedang disimpannya. Bersamaan dengan peristiwa tersebut, Ello kembali datang ke hadapan Tara dan mengingatkannya kembali pada koin lima rupiah. Tidak hanya itu, teror demi teror menggunakan kotak perkakas kayu kembali menyerang. Pihak kepolisian dan Alfonso pun mencurigai bahwa teror yang terjadi memiliki hubungan dengan peristiwa tragis yang dialami Tara.

Tentang Katarsis dan Anastasia Aemilia


Image result for novel katarsis
Cover Baru dari Katarsis.

'Ke psikiater bukan berarti gila. Dia mungkin saja bermasalah, tapi kita nggak tahu. Dia terlalu tenang, Sayang. Itu nggak wajar untuk gadis seusia dia. Dan kamu lihat sendiri kan obsesia dia sama koin lima rupiah itu?” 

Penulis novel Katarsis yang bernama Anastasia Aemilia dikenal sebagai salah satu editor di Gramedia Pustaka Utama. Novel Katarsis ini merupakan novel pertama yang berhasil diterbitkan dengan mengambil psychology thriller genre. Selain itu, Katarsis juga diterbitkan di Negara Tetangga, Malaysia, pada tahun 2014. Hingga pada tahun 2019, Katarsis kembali diterbitkan dalam versi bahasa inggris oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama.


Image result for katarsis versi inggris
Novel Katarsis Versi Bahasa Inggris

Menurut wikipedia, Katarsis secara umumemiliki arti penyucian jiwa. Sedangkan katarsis dalam novel ini tentu saja memiliki arti yang berbeda. Dilihat melalui kacamata psikologi, katarsis berarti mengungkapkan segala emosi yang sedang kita rasakan dalam berbagai media dan perbuatan yang berdampak baik maupun buruk.


Melalui novel ini, menurut gue si penulis mencoba untuk mengungkapkan bagaimana cara Tara untuk melepaskan semua kesenangan maupun kesakitan  yang ia rasakan dengan menggunakan koin lima rupiah.

Komentar Terhadap Buku

Rasa sakit itu ada untuk melindungimu, untuk mengajarimu banyak hal.

Ngilu! Itulah kata pertama yang terbesit dalam benak gue ketika membaca novel Katarsis. Seorang Tara yang ternyata memiliki jiwa psikopat dan memiliki ketergantungan terhadap koin lima rupiah. Membayangkan bagaimana Tara terkurung dalam kotak perkakas kayu dengan kondisi tubuh meringkuk.

Dari segi cover pada novel cetakan ke-1 (2013), Katarsis ini sudah dapat dirasakan kengeriannya dari ilustrasi yang dibuat. Seorang anak gadis tengah duduk sembari memegang boneka yang kepalanya udah terpenggal. Hiihh. 


Image result for katarsis
Ilustrasi cover Katarsis versi Cet. ke-1

Jangan harap Katarsis akan dipenuhi oleh nuansa romantis. Enggak. Katarsis sangat minim romantis. Sebaliknya, lo akan mendapatkan suasana ngeri dan pilu ketika membaca buku ini.

Alur maju mundur yang digunakan pada awal bab membuat gue sedikit bingung dengan jalan ceritanya. Penulis seolah-olah ingin para pembaca menebak sendiri apa dan mengapa sesuatu bisa terjadi karena tidak ada jawaban pasti dalam novel ini. Selain itu, tidak ada paparan pasti mengenai tempat dan waktu sehingga beberapa hal terkesan tidak logis. Gue sedikit susah mencari benang merah pada novel Katarsis karena keterangan waktunya yang kurang jelas.

Untuk karakter juga sulit dibedakan antara Ello dan Tara. Ini dapat gue rasakan ketika membaca narasi dari sudut pandang Ello dan Tara. Jiwa mereka mungkin sama sama psikopat. Tapi tentu saja pengelolaan emosi dan pengalaman mereka berbeda. Sayangnya, gue tetep kesusahan membedakan mana yang Tara dan mana yang Ello. Apa memang seorang psikopat susah dibedakan karakternya?


Image result for berteriak
Source
Walau begitu, gue suka dengan ide cerita yang diambil oleh penulis. Jenis psychology thriller masih jarang di Indonesia dan bisa jadi Katarsis menjelma menjadi inisiator dalam pembuatan novel psychology thriller lainnya. Gaya bahasa penulis yang mengalir dan ringan membuat gue mengira novel ini adalah buku terjemahan. Dan betapa terkejutnya gue ketika tau novel ini ditulis oleh penulis Indonesia. Huaaa. I'm proud of you, kak Anastasia! ^^

Kesimpulan


Katarsis cocok dibaca terutama buat lo yang suka cerita cerita thriller. khususnya dengan para tokoh yang punya jiwa psikopat. Buat lo yang gak terlalu menyukai cerita cerita thriller, coba deh mulai membacanya dengan novel Katarsis dulu. Karena Katarsis ini bukan cerita thriller seperti biasanya. Melainkan juga mengandung unsur psikologis yang dapat mengaduk perasaan lo ketika membacanya.

Kalau kau benar benar percaya pada sesuatu, tak ada yang tak mungkin terjadi. Kalau kau percaya masalahmu itu tak bisa diselesaikan, selamanya akan seperti itu. (hlm. 154)

3,8/5 untuk Katarsis!

Image result for novel katarsis
Postingan mengenai resensi buku ini diikutsertakan dalam perlombaan #ResensiKatarsis oleh @bukugpu dan @fiksigpu

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

2 comments

  1. Wah udh baca ini juga? Tara memang sudah ada jiwa darah psikopat yg mungkin lahir dari garis keturunannya, Keluarga Johandi. Seru ya, endingnya juga bikin agak terkejut :'

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, endingnya gak nyangka banget yaa huhu TT

      Hapus