Kumpulan Kutipan Novel Laut Bercerita [BOOK QUOTE]

April 14, 2019



  • “Matilah engkau mati.... Maka kau akan lahir berkali-kali...” 
  • “Kematianku tak lebih dari seperti saat seorang penyair menuliskan tanda titik pada akhir kalimat sajaknya.”
  • "...Kita harus selalu mencoba berbuat sesuatu, menyalakan sesuatu, sekecil apapun dalam kegelapan di negeri ini.” 
  • “Penghianat ada di mana-mana, bahkan di depan hidung kita, Laut. Kita harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata memegang pisau dan menusuk punggung kita” 
  • "Tak semua keluarga harmonis dan menyenangkan seperti keluargamu, Laut. Kau beruntung." (Sunu, hlm 40)
  • ""Yang mencurigakan dan banyak tingkah, belum tentu pengkhianat."
  • "Cinta datang begitu saja, tanpa rencana, tanpa pengumuman. Dia lahir dan tumbuh sebagai reaksi pertemuannya dengan sekuntum bunga." (hlm. 100)
  • "Aku ingin sekali perempuan tak selalu jadi korban menjadi subjek yang ditekan, yang menjadi dimsell in distress..." - Anjani - (hlm. 104)
  • "Pengalamanku, lelaki di rumah maupun di kampus jarang mendengarkan ketika perempuan berbicara. Mereka gemar memotong pembicaraan lawan bicara mereka." - Anjani - (hlm. 105)
  • "Seorang adik perempuan sering tak sadar jika kakaknya meledek, menggoda dan menganggu sebetulnya sayang." - Laut - (hlm. 106)
  • "Indonesia tidak memerlukan AS, Laut. Cukup kelas menengah yang melek politik dan aktivis yang tak lelah menuntut. Untuk itu, kita harus melihat kekompakan perlawanan mahasiswa pada peristiwa Kwangju."
  • "Jangan kecewa. Ada kalanya kita harus mundur sebentar."
  • “DPRD dan DPR selama ini adalah septic tank, tempat penampungan belaka”
  • "Yang paling tak bisa kusangga adalah perasaan kemanusiaan yang perlahan terkelupas selapis demi selapis karena mereka memperlakukan kami seperti nyamuk nyamuk pengganggu"
  • "Kita tak boleh jatuh, tak boleh tenggelam dan sama sekali tak boleh terhempas karena peristiwa ini. Kebenaran ada di tangan mereka yang memihak pada rakyat."
  • "Pada titik yang luar biasa menyakitkan hingga menyetuh ujung syarafku, sebenarnya apa yang sedang kita kejar?" -Laut ke Kinan- (1)
  • "Kita tak ingin selama-lamanya berada dibawah pemerintahan 1 orang selama puluhan tahun Laut. Hanya di negara diktator satu orang bisa memerintah begitu lama. Seluruh indonesia dianggap milik keluarga dan kroninya. mungkin kita hanya nyamuk nyamuk pengganggu bagi mereka. Tapi aku tahu satu hal kita harus mengguncang mereka. kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas dan putus asa. Agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini yang sangat tidak menghargai kemanusiaan ini, Laut." -Kinan ke Laut- (2)
  • "Yang terpenting, kita harus ingat. Setiap langkah kita, baik terlihat atau tidak, apakah terasa atau tidak, itu adalah sebuah kontribusi, Laut." -Kinan ke Laut- (3)
  • "Kelemahan bukan bersumber pada kesulitan hidup yang tak wajar, melainkan pada perasaan bersalah bahwa aku telah menyusahkan keluargaku yang diinterogasi beberapa kali oleh intel."
  • "Sesekali, aku membayangkan kita berdua bisa keluar dari dunia yang kita kenal ini, meloncat melalui sebuah portal dan masuk ke dimensi lain di mana Indonesia adalah dunia yang (lebih) demokratis daripada sekarang: presiden dipilih berdasarkan pemilu yang betul-betul adil; pilar-pilar lain berfungsi dengan baik; perangkat hukum dan parlemen tidak berada di dalam genggaman seorang diktator dan perangkatnya; pers bisa bebas dan tak memerlukan sebuah departemen yang berpretensi "mengatur" padahal bertugas membungkam. Apakah kita akan pernah hidup dalam Indonesia yang demikian? Indonesia yang tak perlu membuat para aktivis dan  mahasiswa yang kritis harus hidup dalam buruan dan sesekali mendapat bantuan dari berbagai orang baik."
  • “Aku ingat pembicaraanku dengan sang penyair. Dia berkata bahwa dia tidak takut pada gelap. Karena dalam hidup, ada terang dan ada gelap. Ada perempuan da nada lelaki. Gelap adalah bagian dari alam. Tetapi jangan sampai kita mencapai titik kelam, karena kelam adalah tanda kita sudah menyerah. Kelam adalah sebuah kepahitan, satu titik ketika kita merasa hidup tak bisa dipertahankan lagi” –Sang Penyair-
  • “Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan.” 
  • “Tetapi kemampuanmu mengingat berbagai hal yang terjadi itu terkadang agak mengerikan. Karena itu, akan menyulitkanmu untuk menghapus segala sesuatu yang tidak nyaman atau menyakitkan” –Biru Laut-
  • "Dan yang paling berat bagi semua orangtua dan keluarga aktivis yang hilang adalah: insomnia dan ketidakpastian."
  • "Yang paling sulit adalah menghadapi ketidakpastian. Kami tidak merasa pasti tentang lokasi kami; kami tak merasa pasti apakah kami akan bisa bertemu dengan orangtua, kawan, dan keluarga kami, juga matahari; kami tak pasti apakah kami akan dilepas atau dibunuh; dan kami tidak tahu secara pasti apa yang sebetulnya mereka inginkan selain meneror dan membuat kami hancur..."
  • "Yang paling penting untuk langkah awal adalah menyebarkan kesadaran pada masyarakat bahwa ini bukan persoalan pribadi. Ini persoalan kita semua dan bisa terjadi pada siapa saja."
  • “Asmara, kukirimkan semua pesan ini melalui sayap-sayap ikan pari; melalui bunyi rintik hujan ketika menyentuh tanah dan melalui bunyi kepak burung gereja yang hinggap di jendela kamarmu. Aku yakin kau akan bisa menangkap pesanku, membaca ceritaku. Dan aku percaya kau akan menceritakan kisahku kepada dunia.”
  • “Asmara adikku, saat ini aku berada di perut laut, menunggu cahaya datang. Ini adalah kematian yang tidak sederhana. Terlalu banyak kegelapan. Terlalu penuh dengan kesedihan.”




Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

0 comments