Represi oleh Fakhrisina Amalia [REVIEW] - NOVEL PSIKOLOGI

Maret 28, 2019



Judul : Represi
Penulis : Fakhrisina Amalia
Tahun terbit : 2018
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 264 halaman
ISBN : 9786020611945

Blurb
Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja.

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, gadis itu punya seorang ibu dan para sahabat yang setia. Sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingi Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri.

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan Anna dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.
 

Apa Yang Terjadi?

Anna bukan seorang gadis populer pada buku ini. Anna sama seperti gadis pada umumnya. Ia memiliki empat orang sahabat yang selalu ada untuknya. Anna tinggal bersama ayah dan ibu serta kucing yang ia beri nama Serafina. Anna merupakan mahasiswi DKV di salah satu universitas tempat ia tinggal.

Kisah dimulai dari Anna yang melakukan percobaan bunuh diri dengan menelan racun. Saat ibu menemukan Anna dalam kondisi tidak sadarkan diri, ibu langsung membawa Anna pergi ke rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Beruntungnya, Anna berhasil diselamatkan.

Setelah kejadian itu, ibu membawa Anna ke psikolog untuk melakukan terapi dan konsultasi. Psikolog tersebut bernama Nabilah. Bersama Nabilah, ibu mengharapkan bahwa Anna dapat kembali menjadi Anna yang dulu.

Anna memiliki empat orang sahabat yang setia dan selalu ada untuknya. Mereka adalah Hani, Nika, Ouji dan Saka.  Persahabatan mereka berawal ketika Anna menjadi anggota OSIS di SMA dan Anna terlibat sebagai panitia dalam satu acara. Sejak saat itu, mereka menjadi dekat dan selalu bersama. Mereka memiliki jadwal rutin untuk bertemu yaitu setiap tiba waktu weekend sekolah.

Permasalahan mulai muncul saat mereka sedang mengadakan acara pajamas party. Saat itu, Ouji mendapat telepon dari kekasihnya yang juga satu sekolah dengannya. Kebetulan yang lain sudah tertidur dan tinggallah Anna dan Saka saja di sana. Anna dan Saka mendapati bahwa Ouji sedang bertengkar dengan kekasihnya melalui telepon. Ternyata, kekasih Ouji marah karena ia terlalu banyak menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Ouji akhirnya memilih untuk mengakhiri hubungannya karena ia lebih memilih sahabat dibanding kekasih.

Tak berapa lama setelah itu, Raka mengatakan sesuatu pada Anna. 

"Anna, jangan jatuh cinta padaku ya." (Saka)

"Kamu juga. Jangan jatuh cinta padaku." (Anna)

Setelah itu mereka bertiga tidur di ruang terpisah. Tanpa mereka sadari bahwa Anna telah menangis sesenggukan di kamarnya.

Image result for love pinterest
Source: Pinterest

Setelah kejadian itu, Anna berkenalan dengan seorang laki laki yang ternyata akan menjadi kekasihnya. Laki laki itu bernama Sky. Anna sangat menyayangi Sky hingga rela memberikan apa saja yang Sky inginkan. Bahkan ketika Sky menyuruh Anna untuk menjauhi sahabat sahabatnya, Anna tetap nurut dan mengamini permintaan Sky. Bukan hanya itu, Sky juga meminta apa yang paling berharga dari diri Anna. Apakah Anna menyanggupinya? Ya, Anna menyanggupinya karena ia mencintai Sky.

Selain sahabat dan kekasih, Anna juga memiliki ayah dan ibu yang sangat ia sayangi. Meskipun sang ayah sangat jarang menemani, Anna sangat menyayanginya. Anna selalu merindukan momen momen kebersamaan bersama sang ayah yang selalu sibuk dengan bisnisnya. Belum lagi ibunya yang sangat sulit mengerti keadaan Anna. Anna mengatakan bahwa ibu selalu memaksanya berpikir menggunakan sudut pandang ibu saja tanpa pernah berpikir bahwa Anna bukanlah ibu.

"Kenapa dia tidak boleh menangis? Kenapa dia harus kuat untuk bisa menjadi anak Ibu dan Ayah? Kenapa tidak pernah sekali saja orangtuanya menerima tangisannya tanpa mengatakan apa pun jika mereka tidak bisa memberikan kalimat penghiburan yang lebih baik?" (Anna)

Image result for represi
Source

Mengambil Tema Novel Psikolog
Represi merupakan novel yang mengangkat tema Psikologi dari Fakhrisina yang saya baca untuk pertama kalinya. Jujur, saya tertarik untuk membaca novel ini karena mengambil tema psikologi. Beruntungnya, buku ini ada di iPusnas dan bisa langsung saya baca secara gratis. Hehe

“Semua orang membuat kesalahan, dan hampir semua orang membuat kesalahan besar. Kewajiban kita adalah meminta maaf.  Sementara memaafkan—atau nggak – adalah hak orang yang kita lukai. Tapi merasa nggak pantas dimaafkan bahkan sebelum mencoba meminta maaf? Itu sudah bukan lagi masalah dengan orang lain, Anna.”

Dari Nabilah sang psikolog, kita dapat belajar tentang bagaimana caranya menjadi pendengar yang baik bila ada sahabat atau orang terdekat kita yang membutuhkannya. Bukan dengan mengajari, bukan dengan mencaci, tapi dengan cara mendengarkan.

"Luka yang nggak dibagi, sampai kapan pun, nggak akan pernah bisa dimengerti."

Kalimat kalimat positif yang diberikan oleh Nabilah dan respon dari Anna relatable dengan apa yang terjadi di real life saat ini. Salah satunya mengenai kita sebagai manusia yang terbagi atas dua tipe ketika mendapatkan masalah. Pertama, mereka yang pandai berekspresi. Kedua, mereka yang tak cuku pandai berekspresi dan lebih memilih untuk diam.

“Bagi sebagian orang mengekspresikan diri itu gampang, tapi bagi sebagian lagi nggak. 
Semua emosi yang harusnya keluar itu akhirnya 

dipendam ke alam bawah sadar dan tanpa kita sadari menjadi racun yang 
menyerang kita dari dalam diri kita sendiri. Itulah yang terjadi 
sama kamu, Anna. Saat ini kamu sedang dalam proses 
mengeluarkan racun-racun itu.”
Dari novel ini, saya juga suka dengan persahabatan yang terjalin antara Anna dan empat orang sahabatnya. Saya menyebutnya sebagai goal friendship karena persahabatan mereka terjalin dengan tulus dan saling mendukung  satu sama lain. Bayangin, waktu Anna terpaksa memilih Sky dan meninggalkan para sahabatnya waktu itu. Mereka tidak marah dengan Anna, bahkan mereka mendukung penuh keputusan Anna apapun itu asalkan Anna bisa bahagia dan bertanggung jawab pada keputusannya 

Melalui novel ini juga, saya kembali diingatkan perihal menjalin persahaban dengan lawan jenis. Anna dan Saka sudah cukup mengingatkan saya bahwa laki laki dan perempuan tidak akan bisa menjadi sahabat 100%. Hiyaaa

Kesimpulan
Represi berhasil membuat saya terhanyut ketika membacanya. Novel ini tidak terlalu berat. Banyak istilah baru di dunia psikologi yang bisa kita pelajari melalui novel ini.

Bintang 3.8 untuk Represi. 

“Saya terlalu fokus pada apa yang salah di dalam hidup saya, padahal itu sudah berlalu. Saya menyalahkan dan membenci diri saya sendiri untuk sesuatu yang sebenarnya terjadi di luar kuasa saya.  Saya masih begitu sibuk dengan masa lalu dan lupa kalau masa lalu nggak bisa diubah. Saya memang melakukan beberapa kesalahan, tapi kesalahan itu sudah terjadi. Mau bagaimana pun, saya nggak bakal bisa mengubahnya lagi. Mau bagaimanapun, saya nggak bakal bisa mengubahnya lagi. Mbak benar, selama ini, saya terlalu keras pada diri saya sendiri. Saya sudah membuang waktu”

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

4 comments

  1. Persahabatan tanpa saling melihat siapa yang paling banyak menolong sekarang sangat susah. Harus selalu ada balas budi tapi tanpa menolong

    BalasHapus
  2. Udah langka banget ya persahabatan kayak mereka, huhu

    BalasHapus
  3. bagus mbak ulasan novelnya, ini sepertinya lebih ke novel remaja, percintaan, perusahaan, hubungan laki-laki dan perempuan yang mengmbang... he
    Sebenarnya saya suka baca, tapi males baca novel... suka tenggelam...

    BalasHapus
  4. Sky beruntung sekali, bisa mendapatkan apa saja dari kekasihnya. Nurut pula.

    BalasHapus