Hujan - Tere Liye [REVIEW BUKU]

Januari 07, 2019




Judul : Hujan
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 320 hlm
ISBN : 978-602-03-2478-4

"Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka ia bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan."

Sinopsis
Tentang persahabatan...
Tentang cinta...
Tentang perpisahan...
Tentang melupakan...
Tentang hujan...

Ikhtisar
Hujan menceritakan kisah tentang Lail dan Esok, dua remaja yang telah kehilangan orang orang terkasihnya sejak mereka kecil. Tepatnya peristiwa naas itu terjadi pada 8 tahun silam, yaitu pada tanggal 21 Mei 2042.


"Semua orang punya kenangan menyakitkan, mereka berhak menghapusnya. Tapi kamu, Lail, semua kenangan milikmu sesungguhnya sangat indah. Kamu menerima seluruh kesedihan, membalas suratan takdir kejam, bahkan dengan menyelamatkan ribuan penduduk satu kota. Tidak sekali pun kamu protes. Tidak sekali pun kamu marah. Kamu menjalaninya seperti air mengalir. Bahagia dengan hari-harimu."

Kisah diawali dari seorang gadis cantik bernama Lail, 21 tahun, sedang mengunjungi dokter terapi bernama Ellijah yang memiliki kemampuan dapat menghapus ingatan masa lalu. Lail ingin melupakan hujan. Baginya, hujan selalu datang saat kejadian penting dalam hidupnya. Hujan itu pula yang hadir saat Lail mengalami kejadian paling mencekam sepanjang hidupnya.


"Lail selalu suka hujan. Dalam hidupnya, seluruh kejadian sedih, seluruh kejadian bahagia, dan seluruh kejadian penting terjadi saat hujan." (Hlm 47)

21 Mei 2042, bayi ke sepuluh miliar telah lahir ke dunia. Pemberitaan mengenai lahirnya bayi tersebut sangat ramai di stasiun berita manapun. Ya, pada saat itu jumlah penduduk dunia telah melewati ambang batas. Ditambah lagi dengan adanya permasalahan krisis air. Tetapi, dunia memiliki solusinya sendiri untuk menyelesaikan permasalahan ini.




Saat yang bersamaan, gunung purba meletus dengan sangat kuat dan menyemburkan material vulkanik setinggi 80 kilometer dan menghancurkan apa saja yang berada di sekitarnya. Bahkan, efek dari letusan itu juga dapat dirasakan dalam radius ribuan kilometer. Suara letusannya terdengar hingga jarak 10.000 kilometer.

Pada saat itu, lail bersama ibunya akan pergi ke sekolah dengan menaiki kapsul kereta bawah tanah. Ayahnya saat itu sedang bekerja di bagian benua lain. 

Hari itu merupakan hari pertama Lail akan bersekolah di bangku SMP. Naas, kereta bawah tanah yang mereka naiki mengalami kerusakan karena terkena efek gempa bumi akibat letusan gunung purba. Orang orang berusaha menyelamatkan diri dengan berusaha keluar melalui pintu darurat. Malangnya, gempa susulan kembali terjadi. Tidak ada yang dapat menyelamatkan diri kecuali Lail dan Esok. Mereka selamat karena mereka diprioritaskan untuk keluar melalui pintu darurat terlebih dahulu. Saat bersamaan, hujan turun membasahi bumi yang telah porak poranda.

Image result for hujan tere liye


Di belahan bumi lain tepatnya di tempat ayah Lail berada, tsunami datang menerkam yang ketinggiannya mencapai hingga 40 meter. Tidak ada yang tersisa satupun dari peristiwa itu termasuk ayah Lail. Pada hari itu jua, Lail resmi menjadi yatim piatu.

Kejadiaan naas itu mempertemukan Lail dengan Esok, laki laki yang sangat penting di hidupnya dalam waktu 8 tahun ke depan. Pada saat kejadian, Esok berusia 15 tahun.

Esok telah lama kehilangan ayahnya. Kejadian itu juga merenggut nyawa keempat orang kakaknya. Beruntung ibunya masih dapat diselamatkan meski kakinya harus diamputasi.

Esok dan Lail menjalani hari-harinya di tempat pengungsian yang berada di stadion. Mereka dapat akrab meski pada awalnya Lail sering menolak ajakan Esok. Pengungsi lain sangat tau bahwa jika ada Lail, pasti ada Esok. Begitu juga sebaliknya.

Esok dan Lail sangat suka pergi ke taman kota dan lubang kereta bawah tanah yang menjadi tempat pertama mereka bertemu. Mereka selalu bepergian menggunakan sepeda. Sesekali mereka pergi ke lokasi rumah Lail yang telah rata oleh tanah. 




Esok adalah anak yang cerdas. Oleh karena itu, ia akan diadopsi oleh seorang yang sangat kaya raya yang ternyata adalah Walikota. Esok akan disekolahkan kembali dan ibunya akan ditanggung biaya perawatannya. Ini berita yang sangat baik. Tapi, Lail sebenarnya sangat sedih karena ia akan berpisah dengan Esok dan tidak tau kapan akan bertemu kembali dengannya.

Sementara Lail, ia pergi menetap ke panti sosial yang disediakan oleh pemerintah setempat. Lail mendapat teman baru, teman satu kamarnya yang bernama Maryam. Nantinya, Maryam inilah yang akan menjadi sahabat baik Lail.

Di panti sosial, mereka melakukan banyak hal seperti belajar memasak, merajut, menghias kue, dan lain lain. Lail dan Maryam memilih kelas memasak. Akan tetapi, Maryam merasa bosan dengan kegiatan itu. Ia ingin mencoba kegiatan lain yang lebih seru dan menantang. Maryam pun mengajak Lail untuk ikut dengannya pergi ke sekretariat organisasi relawan. Bermodalkan surat pengantar dari panti, Maryam mengajak Lail untuk mendaftar menjadi relawan di sana. Meski pada awalnya meragukan, akhirnya mereka diterima di organisasi tersebut setelah melewati berbagai rintangan dan training yang diberikan.

Kehidupan Lail dan Maryam berubah menjadi lebih sibuk setelah lulus dinyatakan menjadi relawan. Meski usia mereka masih muda, mereka adalah relawan yang sangat tangguh dan disegani oleh relawan senior lainnya.


"Kesibukan adalah cara terbaik melupakan banyak hal, membuat waktu melesat tanpa terasa."

Kabar baiknya, Esok dan Lail masih bertemu meskipun hanya sebentar. Saat libur semester tiba, Esok selalu menyempatkan untuk pulang dan melihat Lail. Esok selalu mengajak Lail jalan jalan ke tempat yang dulu sering mereka kunjungi seperti taman kota dan lubang kereta bawah tanah dengan menggunakan sepeda merah andalannya.


“Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu.” (Hlm 200) 

Kabar buruknya, menjelang ujian masuk perguruan tinggi, Esok tidak bisa selalu pulang saat ia libur semester. Ia harus menyiapkan semuanya agar dapat masuk ke perguruan tinggi tersebut. Itu tandanya, Lail dan Esok akan semakin jarang tidak bertemu.


“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.” (Hlm. 256)
Hingga pada akhirnya, Esok dinyatakan lulus di suatu universitas ternama. Lail sangat bahagia. Sebagai kenang-kenangan, ia memberikan sebuah topi pada Esok. Lail ikut pergi ke stasiun kereta api untuk mengantar Esok yang akan berangkat. Disana, Lail bertemu dan berkenalan dengan keluarga angkat Esok yang baru Lail ketahui mereka adalah walikota. Lail juga baru mengetahui bahwa walikota tersebut mempunyai seorang anak gadis yang sangat cantik. Tanpa Lail sadari, ia cemburu pada gadis tersebut.

“Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.” 

Beberapa tahun kemudian, Lail dan Maryam diterima di akademi keperawatan. Mereka terinspirasi menjadi perawat semenjak mereka menjadi relawan di bidang medis. Mereka pun meninggalkan panti sosial dan memulai hidup dan tantangan baru di asrama.

Di akhir cerita, Lail yang saat itu berusia 21 tahun kembali bertemu dengan Esok. Esok membawa kejutan berupa berita yang sangat penting. Berita itulah nantinya akan menjadi alasan mengapa Lail pergi ke dokter syaraf dan ingin menghapuskan semua ingatan masa lalunya, terutama yang berkaitan dengan hujan.
“Bukan berapa lama umat manusia bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.” (Epilog, hlm 317)

Setting
Setting waktu yang digunakan Tere Liye pada novel ini adalah tahun 2040 keatas. Tere Liye menggambarkan pada saat itu, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah berkembang sangat pesat. Bahkan, saking canggihnya, masing masing tubuh manusia dapat ditanami sebuah chip yang dapat melakukan pembayaran apapun. Wow!

Kelebihan
1) Bahasa yang ringan dengan genre cukup berat (Sci-Fi)
Novel ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Walaupun genre-nya adalah Sci-Fi dengan dibalut bumbu bumbu romance, novel ini tidak menggunakan kosa kata yang terlalu berat. 

2) Pengetahuan dan Wawasan Baru.
Sudah menjadi ciri khas dari Tere Liye yaitu menyelipkan ilmu pengetahuan dan wawasan baru di dalam novel yang ia tulis. Contohnya saja, dalam novel ini banyak dijelaskan mengenai fenomena alam gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya. Novel ini juga menjelaskan tentang bagaimana cara kerja teknologi di masa depan.




Kekurangan
1) Sinopsis yang menjebak
Saya terkejut ketika membaca sinopsis buku ini. Singkat, padat, dan jelas. Tanpa ada embel embel bagaimana cerita terjadi. Dan saya baru mengetahui buku ini mengacu pada genre Sci-Fi ketika telah membacanya. Benar benar sinopsis yang menjebak! But, i like it, hihi

Kesimpulan
Overall, novel ini saya beri rating 4/5. Lagi-lagi, ini salah satu karya Tere Liye yang harus dibaca apalagi kalau kamu suka hujan. Eits, awas galau! 


Related image

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

0 comments