Milea (Suara Dari Dilan) - Pidi Baiq [REVIEW BUKU]

Desember 20, 2018

"Mudah-mudahan setelah ini kita menjadi bijaksana dengan tidak mengadili masa lalu oleh keadaan masa kini"


Judul : Milea (Suara dari Dilan)
Penulis : Pidi Baiq
Terbit : 2016
Jumlah Halaman : 360 Halaman

Dilan, laki laki yang pernah menjadi orang yang paling dikasihi Milea Adnan Hussein.

Dilan, laki laki panglima tempur geng motor terkenal di Bandung pada tahun 1990.
Dilan, laki laki yang meramal Milea bahwa mereka akan berjumpa di kantin. 
Dilan, laki laki yang mencintai Milea dengan sederhana.


Halo good people!

Kesempatan kali ini, aku mau kembali review novel dari Dilan Series. Kalo kemarin aku udah review novel Dilan 1990 dan Dilan 1991, maka kali ini aku mau review novel Milea (Suara dari Dilan). 

Novel Milea disini berisi tentang suara hati Dilan dan cerita tentang kisah mereka dari sudut pandang Dilan sebagai laki laki. Beberapa pertanyaan yang belum terjawab akan dikisahkan di buku ini.

Pada novel Dilan 1990 dan Dilan 1991, kita akan membaca kisah asmara antara Dilan dan Milea berdasarkan sudut pandang perempuan. Emosi yang tergambar pun adalah emosi dari sudut pandang perempuan. Sedangkan pada novel milea (Suara dari Dilan), kita akan merasakan sensasi emosi yang lebih dewasa sebagaimana emosi para lelaki dewasa.

Novel ini diawali dengan Dilan yang menceritakan tentang dirinya, tentang keluarganya, tentang bagaimana cara ayah dan bundanya mendidik, dan tentang bagaimana akhirnya ia bisa menjadi anggota geng motor terkenal di Bandung. Lalu, ada bab khusus yang menceritakan tentang Milea dan awal mula kisah mereka dapat berkenalan hingga dapat menjalin kasih.

Di awal cerita, alurnya belum terasa hidup karena lebih banyak mendeskripsikan tentang kehidupan pribadi Dilan. Akan tetapi, pada saat pertengahan, barulah emosi kita akan bermain.

"Ya, kalau misal kamu nakal, buat Bunda gak masalah. Selama kamu nakalnya itu menyenangkan orang banyak. Selama nakalnya itu enggak bikin rugi orang. Enggak ngerugiin diri kamu juga. Enggak ngerugiin hidupmu, agamamu, masa depanmu. Gak apa-apa buat Bunda. Bunda gak mau ngekang kamu. Buat Bunda terlalu mengekang juga engga baik."-Bunda 

Kau tau apa yang menyebabkan Dilan dan Milea dapat berpisah? Ya, mereka berpisah karena prasangka prasangka yang mereka ciptakan sendiri.

Prasangka memang selalu akan menjadi beban yang membingungkan dan mengancam masa depan untuk membuat semuanya berjalan kacau. - Dilan -

Pasca putus, Dilan menganggap bahwa Milea telah memiliki pacar baru bernama Gundar.. Dilan mengetahui ini saat ia menelepon Milea dan bibi yang mengangkat. Bibi mengatakan bahwa Milea sedang berangkat les bersama Gundar. Padahal, Gundar hanyalah teman satu bimbel Milea.

Lalu, yang lebih menyakitkan adalah saat Dilan sedang berkumpul bersama teman temannya termasuk Piyan. Ia mengatakan bahwa beritahu saja pada Milea jika Dilan sudah punya pacar baru.


Meskipun, perasaan cemburu itu normal di dalam suatu hubungan, aku tidak ingin terjebak oleh itu karena aku sangat benci merasa cemburu.-Dilan -

And, you see?

Mereka berpisah karena prasangka yang mereka ciptakan sendiri! Mereka egois. mereka tau bahwa mereka saling menyayangi tapi mereka mencoba membohongi diri mereka sendiri.

Pada akhirnya, mereka mencoba untuk saling melupakan meski mereka tau bahwa mereka tidak akan pernah bisa melakukan itu. Hingga saat Milea telah menikah dengan Mas Herdy dan mempunyai anak, mereka tetap tidak bisa saling melupakan.


Yang paling bikin nyesek pasca baca novel ini adalah
Kenapa Dilan dan Milea harus putus?
Kenapa mereka tidak mencoba untuk saling komunikasi daripada sibuk berprasangka?
Kenapa Milea harus menikah dengan 
M
as Herdy?
Kenapa Dilan akhirnya harus sama Cika?

Novel ini banyak memberi kita pesan moral terutama dalam suatu relationship baik bersama sahabat atau teman dekat. Bahwa komunikasi adalah hal yang sangat penting untuk mendukung baiknya suatu hubungan. Dan, jangan sibuk berprasangka! Biasanya, kita sering mengira bahwa orang itu begini, orang itu begitu, padahal nyatanya tidak.

Selain itu, novel ini juga memberitahu kita bagaimana seorang laki laki bad boy seperti Dilan dalam berpikir dan bertindak. Dilan mampu membuktikan bahwa tidak semua laki laki bad boy itu buruk. Dilan memberitahu kita bahwa sebenarnya seseorang itu tidak akan menjadi jahat apabila tidak diganggu.

Overall, aku lebih suka novel Milea dibanding Dilan 1990 dan Dilan 1991 karena semua jawaban atas pertanyaanku ada di novel ini. Selain itu, cerita pada novel ini lebih menggugah dan terasa lebih bijaksana meskipun agak menyesakkan ketika membacanya. Untuk novel Milea, aku beri rate 8/10.


Lia, di mana pun kau berada.  
Aku tahu bukan itu yang kita harapkan, tapi itu adalah kenyataan. Ini bukan hal yang baik untuk merasakan sebuah perpisahan, tapi sekarang bagaimana caranya kita tetap akan baik-baik saja setelah itu. Menerimanya dengan ikhlas, akan menjadi lebih penting daripada semuanya.

-Dilan-

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

0 comments