Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah - Tere Liye [REVIEW BUKU]

Desember 23, 2018

 "Cinta sejati tidak pernah memiliki ujung, tujuan, apalagi sekedar muara. Air laut akan menguap jadi hujan, turun digunung-gunung tinggi kemudian kembali lagi menjadi ribuan anak sungai dan menjadi ribuan sungai perasaan. lantas menyatu menjadi kapuas. Kau bisa memberi tanpa sedikitpun rasa cinta, tapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi." 



Judul Buku : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 507 hlm.


Sinopsis


Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.


Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.


Bagaimana Kisahnya?
Novel ini berkisah tentang seorang laki laki bernama Borno, laki laki pandai dan kritis. Borno tinggal di tepian sungai kapuas, Pontianak. Suatu ciri khas dari Tere Liye, bahwa novel yang ia ciptakan selalu mengambil background wilayah/pulau di Indonesia yang jarang diekspos oleh media.


Pada saat ia berusia 12 tahun, Borno mendapati kenyataan yang memilukan. laki laki yang menjadi panutannya kini telah tiada. Ya, bapak -begitu Borno menyapa ayahnya- telah meninggal karena disengat oleh ubur ubur. Borno menyesalkan karena bapaknya dengan tiba tiba rela mendonorkan jantungnya padahal saat itu beliau masih mampu bernafas. Ia menyesalkan dokter yang menangani ayahnya pada saat itu yang seperti tidak berusaha lebih untuk menyelamatkan pasiennya.


Setelah kejadian pahit itu, Borno tetap harus menjalani kehidupannya seperti biasa. Hingga setelah Borno lulus SMA, ia menghabiskan waktunya untuk bekerja. Kerja apa saja mulai jadi buruh pabrik karet, menjaga toko kelontong, ikut melaut, memperbaiki perabotan rusak, dan bekerja di dermaga feri. 

Akan tetapi, Borno mendapat kecaman keras dari saudaranya, Bang Togar. Bang Togar tidak suka jikalau Borno bekerja di dermaga feri karena kapal feri dapat mengurangi penghasilan para pengemudi sampit, profesi yang dijalani oleh Bang Togar dan penduduk sekitar lainnya.

Akhirnya, Borno berhenti bekerja di dermaga feri dan beralih profesi menjadi pengemudi sepit. Dari sinilah, ia bertemu dengan seorang gadis dengan payung merahnya yang diketahui bernama Mei. Mei naik sepit yang dikemudikan oleh Borno. Ketika hendak turun, Mei menyelipkan uang di dasar sepit sebagai bayaran dan tak sengaja menjatuhkan angpau berwarna merah muda. Borno mengejar Mei untuk mengembalikan angpau itu. Borno menyimpan kembali angpau itu karena ia menganggap bahwa itu adalah angpau biasa.

Borno tidak sadar bahwa ia sebenarnya telah jatuh cinta pada Mei. Ia selalu memikirkannya bahkan ia hafal jadwal Mei naik sepit. Borno berniat mengajari Mei untuk mengemudikan sepit dan ajakan pertama berhasil. Namun, untuk ajakan kedua, Mei tidak bisa karena ia harus meninggalkan Pontianak menuju Surabaya.

Sejak saat itu, Borno merasa ada yang hilang dari dirinya. Ia betul betul merasa kehilangan Mei. Borno, bujang dengan hati paling lurus sepanjang sungai kapuas, begitulah Mei menyebutnya.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Borno mendapat kesempatan untuk pergi ke Surabaya. Borno akan menemani Pak Tua -pengemudi sepit lainnya- untuk berobat di kota tersebut.

Borno senang karena ia dapat bertemu dengan Mei. Ia dan Mei serta Pak Tua jalan jalan bersama di Kota Surabaya. Pada saat Borno mengantar Mei pulang, ayah Mei menunjukkan sikap tidak suka pada Borno. Ya, ayah Mei memang terkenal akan kegalakannya. (duh kasian kamu Bornoooo)

Borno dan Pak Tua kembali ke Pontianak. Lagi lagi, Borno merasa hidupnya tidak bergairah karena tidak ada Mei disampingnya. Ia terus memikirkan Mei terutama perihal ayah Mei yang tidak menyukainya. Borno merasakan perasaan yang berbeda ketika jauh dari Mei. Borno rindu di dekat mei, itulah masalah utamanya. (tenang Borno, rindu tau kemana akan pulang kok eaa)


Suatu ketika, Mei kembali lagi ke pontianak. Borno sangat senang ketika mengetahui hal itu. Apalagi, kini Borno tidak lagi menjadi pengemudi sepit. Ia telah membuka bengkel sesaat setelah ia bekerja di bengkel Papa Andi. Namun, lagi lagi Borno kembali bersedih. Mei menghindari Borno secara tiba tiba. Ketika mei menghindar dari Borno, muncul Sarah, seorang dokter gigi yang selalu riang. Sayangnya, Borno tetap memikirkan Mei (namanya juga udah cinta susah move on jadinya kan ya?)

Hingga pada akhirnya, Borno mengetahui kabar bahwa Mei yang berada di Surabaya sedang sakit keras. Borno hendak menyusul Mei untuk menjenguknya. Sebelum itu, Borno diperintahkan untuk membaca angpau merah muda yang ditemukannya ketika pertama kali bertemu Mei. Dan dari angpau merah muda itulah, akhirnya Borno mengetahui rahasia terbesar antara dirinya dan Mei (apa yang akan terjadi? baca sendiri ya :p)

Kelebihan
Beberapa kelebihan dari novel ini adalah

1) Pemilihan latar tempat yang memukau.
Ya, ini yang saya suka dari Tere Liye. Beliau selalu menggunakan pulau/wilayah yang berada di Indonesia sebagai latar tempat di novelnya. Tempat yang ia gunakan juga tidak sembarangan. Ia mengambil tempat tempat yang jarang diekspos oleh media/diketahui oleh banyak orang. Secara tidak langsung, Tere Liye mengenalkan keindahan akan beragam pulau di Indonesia melalui tulisannya. Wow!

2) Jalan cerita yang penuh emosi.
Bukan Tere Liye namanya jika karya tulisannya tidak menggugah rasa termasuk novel ini. Ketika kita membacanya, emosi kita akan naik turun sesuai dengan apa yang dirasakan oleh tokoh utama. Pemilihan diksi yang tepat menjadi faktor untuk mendukung emosi para pembacanya. 

Kekurangan
Saya belumenemukan kekurangan pada buku ini. Kisahnya pun berakhir dengan bahagia. Hmmmungkin untuk novel yang ini saya skip terlebih dahulu untuk mengulas kekurangannya yaaa. ^^


“Sejatinya, rasa suka tidak perlu diumbar, ditulis, apalagi kau pamer-pamerkan. Semakin sering kau mengatakannya, jangan-jangan dia semakin hambar, jangan-jangan kita mengatakannya hanya karena untuk menyugesti, bertanya pada diri sendiri, apa memang sesuka itu.” (hlm. 428)

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

0 comments