Dilan, Dia Adalah Dilanku 2 (1991) - Pidi Baiq [REVIEW BUKU]

Desember 19, 2018

"Aku tidak ingin mengekangmu. Terserah! Bebas kemana pergi. Asal aku ikut" (Pidi Baiq, 1972 - 2098).



Penulis : Pidi Baiq
Penerbit : Pastel Books (Mizan)
Genre : Romance
Terbit : 2015
Tebal : 344 hlm
ISBN : 9786027870994

Novel Dilan, Dia adalah Dilanku (1991) adalah lanjutan kisah cinta dari Dilan dan Milea pada tahun 1990.  Milea Adnan Hussain, begitu nama panjangnya, kembali menceritakan kisah asmara remajanya yang terjadi pada tahun 1991. 

Kalau di novel pertama lebih banyak membuat kesan romansa percintaan, berbeda dengan novel kedua ini. Pada novel kedua ini, konflik yang diciptakan lebih rumit dibanding novel pertama. Jelas saja, karena Dilan (1990) berisi cerita mengenai masa masa pendekatan. Sedangkan Dilan (1991) lebih menceritakan masa masa jalinan kasih antara Dilan dan Milea.

Buku ini memang tidak semanis dan seindah buku pertama karena ending yang diciptakan unexpected. Bagiku, ending yang diciptakan agak sedikit flat. Tidak terlalu membuatku terkejut karena endingnya sudah biasa. Akan tetapi, tidak mengurangi sedikit pun nilai dari buku ini.


Dengar ya, Lia. Senakal-nakalnya anak geng Motor, mereka juga shalat waktu ujian praktek Agama." - Dilan -

Dilan selalu membuat Milea yakin dan tenang. Walaupun Dilan merupakan anggota dari geng motor terkenal di Bandung, Dilan selalu mendapatkan prestasi terbaik di sekolahnya. Milea sebenarnya khawatir karena keterlibatan Dilan dalam geng motor itu. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Dilan.

Meskipun harus menerima konsekuensi diberhentikan dari sekolah karena kasusnya dengan Anhar waktu silam, Dilan tetap menghadapinya dengan tenang. Ia bahkan sempat berpamitan dengan guru guru di sekolahnya sebelum ia memutuskan pindah ke sekolah di dekat rumahnya.

Ketika membaca novel Dilan (1991), banyak sekali pelajaran yang dapat saya ambil. Berusaha untuk menahan amarah dan tidak mengambil keputusan saat marah karena akhirnya akan berdampak fatal. Seperti yang dilakukan oleh Milea pada saat mengatakan putus dengan Dilan hingga membuatnya harus merelakan Dilan seumur hidupnya. Dilan yang tidak mengerti harus berbuat apa, akhirnya lebih memilih diam. Sedangkan Milea, ia harus menerima konsekuensi tentang hidupnya tanpa ada Dilan yang ia rasa tidak lagi berwarna seperti dulu. 

Karakter Milea pada novel ini juga lebih terasa dan lebih hidup dibanding pada novel pertama. Milea pada novel ini lebih suka mengatur kehidupan Dilan dan lebih posesif. Yah, itu karena faktor bahwa mereka telah memiliki hubungan asmara hingga membuat Milea menjadi lebih keras walau sebenarnya ia melakukan itu karena takut kehilangan Dilan.

Walau aku merasa endingnya flat (mungkin karena kurang menggugah atau karena aku kurang ikhlas mereka putus gegara keegoisan milea?), novel ini punya kelebihan. Bahasanya yang simple dan tidak ribet membuat novel ini lebih mudah dipahami. Selain itu, kisahnya sangat manis sekali meski berakhir tragis (Pidi Baiq kejam!).

Overall, novel ini layak dibaca untuk kamu yang penasaran tentang kelanjutan kisah asmara dari Dilan dan milea. Aku kasih nilai 6.0/10 untuk Novel ini.

“Kalau aku jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, aduh, maaf, aku pasti tidak bisa karena aku cuma suka Milea.”  - Dilan - 

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

0 comments