Gadis Pantai - Pramoedya Ananta Toer Bonus Quotes! [REVIEW BUKU]

Agustus 04, 2017




Judul Buku : Gadis Pantai
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Halaman : 280 Halaman
ISBN : 978-979-97312-0-3

Sinopsis
Gadis Pantai lahir dan tumbuh di sebuah kampong nelayan di Jawa Tengah, kabupaten Rembang. Seorang gadis yang manis. Cukup mais untuk memikat hati seorang pembesar santri setempat: seorang jawa yang bekerja pada (administrasi) belandda. Dia diambil menjadi gundik pembesar tersebut, dan menjadi Mas Nganten : perempuan yang melayani “kebutuhan” seks pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas atau sederajat dengannya.
Mulanya, perkawinan itu memberi prestise baginya di kampong halamannya karena dia dipandang telah dinaikkan derajatnya, menjadi Bendoro Putri. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ke tanah. Orang Jawa yang telah memilikinya, tega membuangnya setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.
Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusian tepat langsung di jantungnya yang paling dalam.
Ikhtisar
Kisah dimulai dari seorang gadis cantik yang lahir di kampung nelayan yang bernama gadis pantai. Meskipun ia hidup miskin, gadis pantai sangat mensyukuri kehidupannya.

Pada suatu hari, ia merasakan seluruh kehidupannya hilang. Ia dipersunting dan dinikahi oleh Bendoro, seorang pembesar santri dan seorang asal Jawa. Ia dinikahi dengan cara diwakili dengan keris.

Malang, Gadis Pantai dinikahi bukan sebagai istri sah, melainkan sebagai Mas Nganten, hampir tidak ada bedanya dengan Gundik. Gadis Pantai hanya didatangi kala Bendoro membutuhkan seks.

Meskipun ia telah menolak berkali-kali, emak dan bapaknya tetap memaksa ia untuk menikah. Bapak bilang, Gadis Pantai akan hidup bahagia setelah itu. Akhirnya, ia pun diantarkan ke rumah Bendoro di Kota.

Hari pertama di rumah itu, Gadis Pantai mandi dan memakai parfum yang sangat wangi. Memakai pakaian yang bagus serta sandal asli dari jepang. Gadis Pantai baru pertama kali memakai barang barang itu. Kesan pertama yang cukup indah bagi seorang gadis yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.

Di rumah itu, gadis pantai ditemani oleh si mbok. Si mbok inilah yang sementara waktu akan melayani kebutuhan Gadis Pantai di rumah itu. Gadis Pantai amat ketakutan dan selalu ingin pulang, tapi itu tidak mungkin dilakukannya. Kata si mbok, gadis pantai hanya memiliki dua tugas; mematuhi apapun yang diperintahkan Bendoro dan memerintah para Sahaya (sebutan bagi para pelayan di rumah itu).

Gadis Pantai lambat laun mengerti ketika si mbok diusir oleh Bendoro. Bendoro mendapat pengganti dari kalangan atas. Gadis Pantai sadar akan posisinya yang hanya dijadikan istri percobaan. Lambat laun, Gadis Pantai tentu akan diusir juga dari rumah tersebut. 

Prinsip yang dianut pada saat itu adalah jika kalangan atas ingin menikah, maka ia hanya boleh menikah dengan kalangan atas juga. Pun sebaliknya, jika kalangan bawah ingin menikah, ia hanya boleh menikah dengan orang orang yang ada di kalangan bawah (begitu menyedihkan pada saat itu! hiks). Prinsip inilah yang membuat Gadis Pantai hanya menjadi istri percobaan bagi Bendoro dan tidak bisa menjadi istri sah.

Pada suatu kesempatan, ia akhirnya pulang ke kampung halamannya, tempat dimana ia dulu dilahirkan. Namun, ketika ia pulang, suasana terasa sangat berbeda. Ia dicela oleh penduduk kampungnya sendiri. Gadis Pantai merasa sangat asing.

Ketika Gadis Pantai kembali lagi ke kota, semua terlihat seperti sedia kala. Bahkan saat itu Gadis Pantai hamil. Dan ketika ia melahirkan anaknya, ia diusir dari rumah itu (dasar laki laki tidak tau diri!). Ia diusir karena melahirkan anak perempuan. Begitu hinakah menjadi perempuan pada saat itu?

Gadis Pantai tidak mau kembali lagi ke kampungnya. Ia juga tidak bisa lagi kembali ke rumah itu. Gadis Pantai akhirnya memutuskan untuk pergi.


PENOKOHAN
Well, Pramoedya Ananta Toer sangat apik dalamenuliskan roman ini. Karakter yang dibuat seakan menggambarkan peristiwa yang terjadi pada saat itu (FYI, roman ini ditulis Pramulai tahun 1962 - 1965 ketika ia dicebloskan di penjara Pulau Buru ketika dalam tahanan rezim orde baru).

Gadis pantai yang digambarkan sebagai seorang gadis lemah dan tidak tau apa apa namun menjadi kuat seiring berjalannya waktu. Ia didewasakan oleh masalah masalah yang dihadapinya. Terutama pada saat ia harus menghadapi priyayi yang menikahinya hanya karena tujuan biologis saja (demi apapun, aku membenci laki laki priyayi dan ku rasa setiap wanita juga akan berpikiran sama sepertiku).

Ada priyayi atau kerap disapa Bendoro. Ini tokoh yang paling tidak saya suka. Ia memperilakukan wanita layaknya barang yang hanya ia gunakan ketika ia butuh. Ketika ia tidak membutuhkan barang itu lagi, maka ia akan membuangnya. Jahatnya lagi, ketika Gadis Pantai melahirkan anak laki laki, Bendoro marah dan menunjukkan sikap murkanya. Ia memisahkan Gadis Pantai dan bayi perempuannya (sungguh, ini bagian yang paling menyedihkan).

Kelebihan
Saya tak perlu banyak komentar untuk roman yang ditulis oleh Pramoedya karena isinya memang bagus. Bahkan, saking bagusnya, roman ini pernah dilarang untuk beredar hingga dimusnahkan oleh para sekelompok manusia yang ditelan keganasan kekuasaan pada saat itu. Itulah mengapa, novel ini memiliki kesan unfinished story dan tidak akan pernah ada lanjutannya. Karena dua roman lanjutannya telah raib entah di mana.

Beberapa kelebihan lain dari roman ini;
1) Mengangkat isu perempuan pada periode penjajahan Belanda
Ketika kita membaca buku ini, maka kita akan mengetahui bagaimana kehidupan perempuan pada saat periode penjajahan Belanda. Budaya patriarki yang mengakar kuat membuat kaum perempuan kala itu sangat tersiksa. Diperlakukan semena-mena dan acapkali perlakuannya tidak memanusiakan.

2) Pemilihan diksi yang cukup ringan
Untuk kategori karya klasik, roman ini memiliki diksi yang cukup ringan dibanding karya Pram lainnya sehingga lebih dapat dipahami. Bahasanya lugas dan juga ada beberapa bagian yang mengandung unsur humor di roman ini.

Kekurangan
Kekurangan roman ini hanyalah satu; tidak selesai alias menggantung. Saya sangat menyayangkan aksi pemusnahan dua roman lanjutan yang dilakukan oleh Vandalisme Darat pada saat itu. 


Kesimpulan
Overall, novel ini recommended dan sangat layak untuk dibaca guna memperkaya khazana keilmuan di bidang sejarah. Saya beri rating 4,5 untuk roman ini. 

Untuk yang belum baca, silahkan dibaca ya. Agar kamu memahami mengapa buku ini dilarang beredar bahkan sampai dimusnahkan. Selamat membaca!


Beberapa kumpulan quote/kata mutiara/kutipan dari buku Gadis Pantai
“Di sana, di kampung nelayan tetesan deras keringat membuat orang tak sempat membuat kehormatan, bahkan tak sempat mendapatkan nasi dalam hidupnya terkecuali jagung tumbuk yang kuning. Betapa mahalnya kehormatan dan nasi.” 


“Orang kampung seperti sahaya ini, bendoro muda, kelahirannya sendiri sudah suatu kecelakaan. Tak ada sesuatu yang lebih celaka dari nasib orang kampung.” 


“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.” 


“Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pengeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu turunan tidak bakal selesai. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai.” 


“Aku tak jadi kaya karena pemberiannya. Mereka pun tak jadi kaya karena pemberianku. Itulah kebijaksanaan.” 


“Orang tak bisa berhati-hati setiap saat buat seumur hidupnya.”



Hasil gambar untuk gadis pantai quote




“Bagi orang atasan ingat-ingatlah itu Mas Nganten, tambah tinggi tempatnya tambah sakit jatuhnya. Orang rendahan ini boleh jatuh seribu kali, tapi ia selalu berdiri lagi. Dia ditakdirkan untuk sekian kali berdiri setiap hari.” 


“Dengarkan sahaya punya cerita. Cuma satu yang dikehendaki Allah, Mas Nganten, yaitu supaya orang ini baik. Buat itu ada agama. Buat itu orang-orang berkiblat kepada-Nya. Tapi nyatanya kehendak Allah yang satu itu itu saja tidak seluruhnya terpenuhi. Di dunia ini terlalu banyak orang jahat.” 


“Kalau tidak ada orang-orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan.” 


“Mbok, kau mau lawan kejahatan nini dengantanganmu, tapi kau tak mampu. Maka itu kau lawan dengan lidahmu. Kaupun tak mampu. Kemudian kau cuma lawan dengan hatimu. Setidak-tidaknya kau melawan.” 


“Kau tidak mengabdi padaku man, tidak, man. Kalau kau cuma mengabdi padaku, kalau aku tewas kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi? kau cari Bendoro baru, kalau dia juga tewas? Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu keturunan tidak bakal selesai, man. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai.” 


“Di sini tak ada rumah yang terkunci pintunya, siang ataupun malam. Di sini pintu bukanlah dibuat untuk menolak manusia, tapi menahan angin. Di sini semua orang tidur di ambin pada malam atau siang hari, termasuk para tamu yang tak pernah dipedulikan dari mana datangnya. Ia mendengar sekali lagi. Di kota setiap orang baru selalu ditetak dengan tanya: Siapa nama? Dari mana? Di sini orang tak peduli Mak Pin datang dari mana. Tak peduli Mak Pin gagu. Tak peduli sekalipun dia kelahiran neraka.” 


”Sekarang kamu mesti belajar menangis buat dirimu sendiri. Tak perlu orang lain lihat atau dengarkan. Kau mesti belajar menyukakan hati semua orang.”


”Emas itu biang keladi di daratan–Mutiara biang keladi di lautan. Tambah banyak barang emas masuk kemari, tambah banyak kemungkinan bajak datang.”


” Perempuan ini diciptakan ke bumi, Mas Nganten, barangkali memang buat dipukul lelaki. karena itu jangan bicarakan itu Mas Nganten. Pukulan itu apalah artinya kalau dibandingkan dengan segala usahanya buat bininya, buat anak-anaknya.”


”Apa yang mesti sahaya dongengkan? Orang kecil memang cuma punya dongeng tentang dirinya.”


“A mother knows what her child’s gone through, even if she didn’t see it herself.”

Kamu Juga Harus Membaca Postingan Ini

0 comments